Refleksi Mimpi Buruk Seniman Amien Kamil

Pameran Tunggal Lukisan Penyair Amien Kamil


Abdillah Marzuqi
Media Indonesia, 3 Mei 2019

SENIMAN Amien Kamil menggelar pameran tunggal bertajuk He(Art); Reflection of Nightmare di Balai Budaya Jakarta mulai 2 Mei 2019 hingga 9 Mei 2019. Bertindak sebagai kurator ialah Budayawan, Radhar Panca Dahana. Amien mengungkap tajuk nightmare (mimpi buruk) pada pameran itu bukan berarti yang didapat saat tidur, melainkan dari situasi yang terjadi saat ini. Mimpi buruk bisa mengena pada siapapun terkait realitas sosial ataupun politik.

“Gak ada satu orang pun yang gak punya mimpi buruk. Dalam konteks hari ini, mimpi buruk itu bisa muncul kapan saja karena situasi politik, sosial. Gak ada hal yang bisa merefleksikan bahwa hal itu adalah realitas,” terang Amien.

Terdapat lebih dari 20 lukisan yang dipasang pada dinding ruang pamer, beberapa diantaranya berjudul Nightmare, Egg, On Between, Dart from USA, dan Stones from Another Space. Ada pula 1 karya instalasi yang diletakkan tepat ditengah ruang yang berjudul Altar For Girl Ill. Menurut Radhar, karya Amien tidak selesai hanya dinikmati sebatas karya. Ada keterkaitan antara karya dan seniman. “Ini gak selesai hanya diperhatikan pada karyanya,” terang Radhar yang mengaku 30 tahun lebih mengenal Amien.

Karya-karya Amien dilihat sebagai refleksi dari segala hal yang ada pada diri seperti kecenderungan artistik, pilihan politik, cara berfikir, inisiasi, dan obsesi. Semuanya ditumpahkan dalam pameran itu. “Saya melihat ini refleksi dari manusianya,” tegasnya saat ditemui di sela pembukaan pameran.

Amien begitu bebas dalam pameran itu. Ia tidak memakai format tertentu dalam berkarya. Sebaliknya, Amien menggunakan berbagai macam bentuk dari surealis, deformatif, anatomik, hingga figuratif. “Dia gunakan semua cara, walaupun tidak terlalu lugas, untuk menyampaikan apa yang dia pikirkan menggenai permasalahan-permasalahan disekitarnya,” tambah Radhar.

Amien berbicara tentang permasalahan kehidupan secara keseluruhan, dari sosial, politik hingga spiritual. Sedemikian luas perbincagan karya itu hingga Radhar menyarankan agar para apresiator meluaskan pandangan dalam mengapresiasi karya Amien. “Jadi kalau mau menikmati atau mengapresiasi karya dia, kita harus luaskan pikirannya. Bahwa dalam setiap lukisannya itu banyak pesan-pesan yang dia sampaikan dari berbagai dimensi,” tegas Radhar.

Amien banyak menggunakan bahasa simbol dalam karyanya, beberapa seperti tengkorak, botol wine, pedang, hingga kardus. Simbol-simbol itu punya pembacaan tersendiri. Meski demikian, Amien mengaku tidak membatasi interpretasi dari setiap karya-karyanya. Apresiator bebas untuk menangkap dan menafsir karyanya. “Aku membebaskan penafsiran,” tegasnya.

Amien Kamil dikenal akrab dengan dunia panggung, sastra, dan seni rupa. Ia adalah penulis buku antologi puisi Tamsil Tubuh Terbelah pada 2007. Selain itu, Amien juga tercatat pernah berpameran di Newseum Cafe Jakarta pada 2009. Melalui pameran itu, Amien berpesan untuk tidak takut pada kegelapan. Jika itu terjadi, mustahil cahaya bisa didapat. “If you are afraid to come to the darkness, you did not see the light,” pungkasnya.

(M-1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *