Kursi dan Peradaban

Wawan Setiawan*
http://www.jawapos.co.id/

ADANYA pesuruh, pegawai, guru, kepala sekolah, dan ketua yayasan dalam sebuah lembaga pendidikan adalah sesuatu yang alamiah. Mereka telah menduduki posisi yang memang selayaknya ada di sana. Fenomena alamiah ini wajar, tetapi setelah proses interaksi nilai-nilai, posisi-posisi itu kemudian menjadi terasa sangat terbedakan dan bahkan seolah-olah kurang terhubungkan. Continue reading “Kursi dan Peradaban”

REFORMASI KE AMBANG REVOLUSI

Nurel Javissyarqi
http://www.facebook.com/nurelj

Reformasi serupa sakit perut mual-mual, menyakitkan pengeluaran melegakan pembuangan. Detik-detik menjelang situasi genting mencekam merindingkan bulu revolusi. Sewaktu itu aku mengenyam hidup di Yogyakarta. Kota kebak intelektual tanpa tendensi popularitas, mungkin. Kebudayaan adiluhung berakar tahta kerajaan harum, walau perubahan menghimpit tradisi.

Seolah ramalan menumpahkan kesalahan pandang terungkap gamblang, hukum transparan di mata rakyat sampai kaum awam. Seakan tuhan mencerahkan anak-anak bangsa atas langit paling terang yang belum pernah sebelumnya, kesempatan gilang demi kembali kedaulatan. Menggunduli patriotik semu mengangkat kebersamaan. Continue reading “REFORMASI KE AMBANG REVOLUSI”

Hero Baru: Antikoruptor

Achmad Buchari*
http://www.surabayapost.co.id/

Jelang peringatan Hari Pahlawan pada 10 November nanti, perlulah kita sejenak melakukan renungan tentang sang pahlawan kita di negeri ini. Siapa yang berhak menyandang kata pahlawan dalam konteks berkebangsaan saat ini.

Mengapa hal ini perlu kita retrospeksikan? Ini karena kejelasan bahwa pahlawan itu adalah pejuang. Karena makna kepahlawanan tak lain adalah perihal sifat keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban. Jelas sekali, bahwa sebuah negara tanpa pahlawan sama artinya negara tanpa kebanggaan. Continue reading “Hero Baru: Antikoruptor”

Revitalisasi Makna Pahlawan

Abdul Gaffar*
http://www.surabayapost.co.id/

Barang siapa sungguh menghendaki kemerdekaan buat umum, segenap waktu ia hari siap sedia dan ikhlas buat menderita ?kehilangan kemerdekaan diri sendiri?(Dari Bilik Penjara ke Penjara, Tan Malaka)

Setiap Tanggal 10 November kita selalu menundukkan kepala guna mengenang jasa-jasa para pejuang bangsa yang telah gugur mempertahankan kemeredekaan. Sangat besar pengurbanan para pahlawan bangsa yang telah bersedia mengorbankan harta dan nyawa demi untuk mimikirkan para penerusnya. Continue reading “Revitalisasi Makna Pahlawan”

Pahlawanan Kontemporer

Abd. Sidiq Notonegoro*
http://www.surabayapost.co.id/

Tidak dapat dipungkiri bahwa pertempuran tanggal 10 Nopember 1945 di Surabaya yang menelan korban jiwa lebih dari 10.000 pemuda pejuang merupakan peristiwa heroik yang tidak pantas dilupakan. Pertempuran itu pun menjadi pertanda bahwa masyarakat Surabaya pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya bertekad bulat untuk menentang kembali hadirnya kekuatan imperialisme setelah Republik ini diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta. Continue reading “Pahlawanan Kontemporer”

Bahasa ยป