Mengenang Penyair Afrizal

Ribut Wijoto

Sulit dipungkiri, perayaan eksplorasi bahasa puitik pada dekade 1990-an terimbas dari puisi-puisi Afrizal Malna. Selagi para penyair sibuk dengan puisi religius, puisi terlibat (baca: sastra kontekstual), puisi imaji-simbolis, atau puisi kontemplatif; Afrizal mencuat dengan puisi hiperealis. Sebuah puisi yang simpang siur dengan ikon-ikon teknologi, budaya massa, pop, juga kebiasaan masyarakat menghabiskan waktu di super market. Continue reading “Mengenang Penyair Afrizal”

Kitsch, Membongkar Konvensionalitas Estetika Puisi

Ribut Wijoto

Karya sastra puisi dalam genre sastra menempati posisi yang istimewa, dianggap sebagai bentuk sastra yang paling sastra. Bahasa estetik yang ditampilkan paling padat, sublim, dan indah. Sebutan penyair menjadi amat populer bila dibanding cerpenis, novelis, atau dramawan. Apakah kondisi ini masih aktual? Untuk menjawab problem, gejala kitsch pada puisi Indonesia patut diketengahkan. Continue reading “Kitsch, Membongkar Konvensionalitas Estetika Puisi”

Estetika Skizofrenia Puisi Indonesia

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Puisi Indonesia tidak pernah selesai mencari bentuk-bentuk operasional bahasa yang baru. Setelah sukses dengan kemendayuan Pujangga Baru, ketajaman dan efektifitas Chairil Anwar—diteruskan oleh Subagio Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, dan Goenawan Muhammad—kini muncul fenomena baru yang belum pernah ditemukan dalam bahasa puisi sebelumnya. Continue reading “Estetika Skizofrenia Puisi Indonesia”

Kabar Kenyataan Antroposentrisme Berbelah

Ribut Wijoto

Lokomotif modernitas bermula dari gagasan Rene Descartes tentang “pikir”, tentang “kesadaran”. Lewat ungkapan masyur cogito ergo sum (terjemahan populernya, “aku berpikir, maka aku ada”). Rene Descartes meyakini diri “ada” melalui “pikiran” yang meragukan segala hal. Lalu muncul wacana antroposentrisme, manusia sebagai pusat alam semesta. Continue reading “Kabar Kenyataan Antroposentrisme Berbelah”

Rahasia dan Godaan Puisi

Ribut Wijoto

Ajaib! Puisi, tulisan dengan minimalitas kata, sanggup meraih kompleksitas hidup. Kecermatan paparan kisah dan kerasnya bangunan konflik antar tokoh dalam beratus lembar halaman novel, disejajari oleh puisi yang hanya terdiri satu atau beberapa lembar halaman.

Puisi pun, tidak seumur penciptanya, mampu menerobos sekat-sekat zaman. Misalnya puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” dari Rustam Effendi. Sejak perang kemerdekaan hingga kini masih terasa kebagusannya. Continue reading “Rahasia dan Godaan Puisi”

Bahasa »