Kabar Kenyataan Antroposentrisme Berbelah

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Lokomotif modernitas bermula dari gagasan Rene Descartes tentang “pikir”, tentang “kesadaran”. Lewat ungkapan masyur cogito ergo sum (terjemahan populernya, “aku berpikir, maka aku ada”). Rene Descartes meyakini diri “ada” melalui “pikiran” yang meragukan segala hal. Lalu muncul wacana antroposentrisme, manusia sebagai pusat alam semesta. Baca selengkapnya “Kabar Kenyataan Antroposentrisme Berbelah”

Rahasia dan Godaan Puisi

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Ajaib! Puisi, tulisan dengan minimalitas kata, sanggup meraih kompleksitas hidup. Kecermatan paparan kisah dan kerasnya bangunan konflik antar tokoh dalam beratus lembar halaman novel, disejajari oleh puisi yang hanya terdiri satu atau beberapa lembar halaman.

Puisi pun, tidak seumur penciptanya, mampu menerobos sekat-sekat zaman. Misalnya puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” dari Rustam Effendi. Sejak perang kemerdekaan hingga kini masih terasa kebagusannya. Baca selengkapnya “Rahasia dan Godaan Puisi”

Surabaya 1962, Kerja sebagai Sumber Estetika

Ribut Wijoto

Bila engkau tanyakan tiga tema paling sering muncul dalam khazanah puisi Indonesia, aku menyebutkan tiga hal: kesunyian, religiusitas, dan cinta. Ketiganya bergerak dalam pertautan tiga wilayah kebahasaan, yaitu ketuhanan, alam raya, dan pesona tubuh manusia. Sejarah puisi Indonesia, tidak kurang tidak lebih, dihidupi oleh ketiga tema tersebut. Baca selengkapnya “Surabaya 1962, Kerja sebagai Sumber Estetika”