Pencerahan Estetik Sastra Internet

Ribut Wijoto

Apakah arti media bagi sastra. Sepintas lalu, media bukan penentu signifikan. Nur St. Iskandar menyebutkan, pendirian Balai Pustaka atau Volkslektuur (1908) yang menghadirkan majalah kebudayaan dengan rubrik sastra memunculkan tradisi sastra modern di tanah air. Majalah Pujangga Baru diterbitkan, sastra Indonesia pun memasuki estetika yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Dua tulisan Armin Pane, berjudul “Kesusastraan Baru” (1933), merupakan pembuktian otentik. Continue reading “Pencerahan Estetik Sastra Internet”

Sastra dari Bahasa Yang Rapuh

Ribut Wijoto

Diam-diam, bahasa Indonesia menyimpan problem unik bagi sastra, mirip dongeng: problem kerapuhan. Sejak ditahbiskan sebagai bahasa nasional, terhitung sejak 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia makin hari semakin dewasa, dan megah. Selebihnya adalah kecemasan, kebimbangan, dan pergeseran tiada henti-henti. Penyair W. Haryanto, sarjana lulusan Sastra Indonesia Unair, ikut terlibat di dalamnya. Continue reading “Sastra dari Bahasa Yang Rapuh”

Parodi: Rekreasi dan Kreasi Puisi

Ribut Wijoto

Parodi di dalam masyarakat dipahami sebagai lelucon. Kesalahan-kesalahan tersengaja yang dimaksudkan agar orang lain tertawa. Misalnya dalam “Ketoprak Humor” Srimulat yang disiarkan stasiun televisi RCTI, tokoh Timbul mengartikan “rumah sakit” sebagai “rumah yang sakit”, padahal arti sebenarnya adalah “rumah tempat menyembuhkan orang sakit”. Atau “orang warung” diartikan sebagai “orang ber-wajah murung”. Maka penonton pun tertawa riuh, terbahak-bahak. Continue reading “Parodi: Rekreasi dan Kreasi Puisi”

Puisi Camp, Feminisme, dan Penghancuran Realitas

Ribut Wijoto

Alam imajinasi adalah alam tanpa batas. Puisi sebagai teks produksi imajinasi merupakan “hutan lambang” (meminjam ungkapan Charles Baudelaire pada puisi “Perimbangan”) sehingga pembaca berhak membentuk peta perambahan dan nama-nama binatang yang disukai. Pada teks puisi, pada hutan lambang tersebut, seseorang bebas memilih jenis kelamin yang diinginkan. Puisi yang cerdas menyediakan segala menu identitas, dan karenanya, cenderung tanpa kepastian identitas. Continue reading “Puisi Camp, Feminisme, dan Penghancuran Realitas”

Strategi Tekstual Pastiche

Ribut Wijoto

Ketika gagasan tentang puisi telah banyak dituliskan, ketika eksplorasi kata telah banyak dijalankan, dan ketika keragaman bunyi telah banyak dicatat; Apakah seseorang mesti berhenti mencipta puisi?

Terhadap hal ihwal bunyi dan kata, sejarah puisi Indonesia dapat dikatakan masih muda, sekaligus renta. Muda disebabkan usia puisi modern yang belum genap satu abad, terhitung dari munculnya Balai Pustaka. Renta apabila dicermati kegairahan dan keberhasilannya memperlakukan bunyi, dan memperlakukan kata. Continue reading “Strategi Tekstual Pastiche”

Bahasa »