Memasuki Era Maiyah Sejati

Memoar I Padhang mBulan 26 Juli 2010

Sabrank Suparno

Pengajian Padhang mBulan tanggal 26 Juli 2010 kemarin Cak Nun datang terlambat hingga jam 23:00. Kegelisahan Jama’ah mulai tampak pada setiap wajah. Sebagian sudah tidak serantan dan langsung nyelonong pulang. Sebagian lagi bertahan dengan kegelisahan. Mungkin dalam Jama’ah menyimpulkan hasil ‘rugi’ dalam gambling/ perjudian niatnya, jika Cak Nun tidak datang. Continue reading “Memasuki Era Maiyah Sejati”

Besutan Sebagai Bingkai Inspirasi Sosial

Sabrank Suparno

Di Jombang, seni Besutan tergolong pementasan teater tradisional. Istilah ‘Besut’ diambil dari kiroto boso (kiro-kiro boso seng ceto) yang artinya “mbeberno maksud’// memaparkan uneg-uneg dan tujuan.

Seni besutan di Jombang pertama kali diperankan oleh Pak Santik (1894-1897) saat Pak Santik menjadi abdi dalem di kantor Kabupaten Jombang. Selain sebagai abdi dalem Kabupaten, Pak Santik juga sebagai petani tulen. Sembari menunggu hasil panen itulah Pak Santik mengisi hari-hari luangnya dengan mengamen keliling. Continue reading “Besutan Sebagai Bingkai Inspirasi Sosial”

Perjanjian Keramat

Sabrank Suparno *

Kata ibu, usia nenek sekitar 102 tahun. Tubuh ringkih itu sisa masa kolonial. Lima belas tahun silam, Nenek masih berjalan tegak nyambangi sawah. Aku ingat. Waktu kecilku sering diajak ke pekarangan di pojok desa. Aku bermain lumpur, dan tubuh wanita itu gigih mencangkul, menanam pohon kelapa. Namanya orang tua, ada saja tabiatnya. Apa sempat nenek memetik nanti? Sedang usianya di ambang senja. Mungkin nenek maniru nabi Muhammad, yang bersemboyan?aku tetap akan menanam korma, meski esok hari kiamat tiba?. Continue reading “Perjanjian Keramat”

Bahasa »