Tag Archives: Salman Rusydie Anwar

Sukat

Salman Rusydie Anwar
__Kedaulatan Rakyat, 20 Nov 2011

Menurut orang-orang dan terutama perempuan-perempuan yang ada di kampungnya, Sukat hanyalah lelaki biasa. Wajahnya sungguh tidak menarik, karena selain agak hitam juga ada bekas luka di pipi kiri dan dagunya yang membuatnya semakin tidak sedap dilihat. Tak hanya itu, Sukat juga dikenal sebagai lelaki pengangguran yang lebih banyak menghabiskan waktu siangnya dengan tidur di pos ronda dan jika malam pergi keluyuran entah kemana.

Dua Cermin dari Kematian Moncelli-Khadafi

Salman Rusydie Anwar

Sungguh miris hatiku mendengar kematian Khadafi dan Simoncelli, yang barangkali kematian keduanya tidak pernah disangka-sangka sebelumnya, baik oleh orang lain maupun oleh yang bersangkutan. Memang aku tidak kenal siapa Simoncelli dan Khadafi selain keduanya adalah dua manusia yang sering menjadi berita oleh profesi mereka sebagai pembalap dan presiden.

Sajak-Sajak Salman Rusydie Anwar

Laut Menyimpan Bau Tubuhmu

Berdiri di tepi laut, gemuruhmu mengalir
membangun lempengan-lempengan rindu terbakar
Bersama senja membasuh kaki-kakinya diujung riak
kudayung doa ini meniti gelombang
Kutatap wajah pantai murung, dan karang hitam
berlompatan ke dalam gigil

Perihal Kualitas

Salman Rusydie Anwar

Dalam sebuah pertemuan yang tak terduga, saya berjumpa dengan seseorang yang diam-diam sudah lama saya mengaguminya. Orang yang satu ini super sederhana dalam penampilan namun ia open (telaten) terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Tak hanya itu, ia juga memiliki sifat ngemong, penuh perhatian, suka menghibur orang lain dengan tindakan dan kata-katanya, meski yang terakhir ini kerap disalahartikan sebagai kekonyolan dan karena itu membuat orang lain berani meremehkannya.

Rakyat; Kunci Penyelamat Bangsa

Apa Pandanganmu Tentang Rakyat?
Salman Rusydie Anwar

Di suatu malam yang lengang, penulis dan beberapa orang teman lainnya terlibat dalam sebuah obrolan sederhana dengan seorang budayawan kondang asal Madura, D. Zawawi Imron, di salah satu sudut kota Jogja. Malam itu tepat malam Minggu. Sebuah momentum yang bagi kalangan muda-mudi merupakan saat yang tepat memadu sublimitas psikologi dari sesuatu yang disebut cinta dan kasih sayang.