Toto Sudarto Bachtiar (1929-2007)

Sapardi Djoko Damono *
Kompas, 21 Okt 2007

Selasa, 9 Oktober yang lalu, Toto Sudarto Bachtiar telah mendahului kita. Untuk dunia kesusastraan, ditinggalkannya sejumlah sajak yang pada tahun 1950-an sempat dikumpulkannya dalam Suara dan Etsa, dua kumpulan sajak yang merupakan penanda penting dalam perkembangan perpuisian kita. Tulisan ringkas ini adalah upaya untuk menempatkannya dalam peta kesusastraan kita. Sampai dengan tahun 1949, perpuisian kita boleh dibilang dikuasai oleh Chairil Anwar, tentu berkat pandangan HB Jassin yang sudah sejak zaman Jepang muncul sebagai seorang dokumentator dan pengamat sastra yang rajin. Continue reading “Toto Sudarto Bachtiar (1929-2007)”

Si Aku Yang Ingin Tahu

Peresensi: Sapardi Djoko Damono
http://majalah.tempointeraktif.com/
ORANG-ORANG BLOOMINGTON,
kumpulan cerpen Budi Darma,
Sinar Harapan, 1980, 188 halaman

BUKU ini kumpulan cerita pendek Budi Darma yang pertama, meski ia sudah sejak sekitar duapuluh tahun yang lalu menulis cerpen. Tujuh cerita yang dikumpulkan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk memberikan gambaran perkembangan kepengarangannya, sebab semuanya merupakan hasil tulisan Budi Darma sewaktu masa studinya di Universitas Indiana, Amerika Serikat. Continue reading “Si Aku Yang Ingin Tahu”

Tujuh Kritik A. Teeuw

MEMBACA DAN MENILAI SASTRA
Oleh: A. Teeuw
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta, 1983,
141 halaman.
Peresensi : Sapardi Djoko Damono
majalah.tempointeraktif.com

BUKU ini merupakan rampai tujuh karangan yang ditulis Prof. Dr. A. Teeuw, antara tahun 1964 dan 1980. Sehingga, “Teeuw yang dalam tahun 1964 menulis mengenai Hang Tuah pasti cukup berbeda orangnya dengan Teeuw yang dalam tahun 1980 menulis tentang Chairil Anwar dan Amir Hamzah,” tulis Teeuw dalam kata pengantar kumpulan karangannya itu. Continue reading “Tujuh Kritik A. Teeuw”

Sapardi Djoko Damono : Saya Sudah Lama Mempermasalahkan Waktu

Pewawancara: Ibnu Rusydi
korantempo.com

Sapardi Djoko Damono kini berusia 69 tahun. Tapi, ia tak berhenti berkarya. Baru-baru ini ia meluncurkan buku puisi terbarunya, Kolam. Di Komunitas Salihara, Senin malam lalu, penggiat dan penggemar sastra membludak mengikuti diskusi bukunya.

Sapardi dengan tenang mendengarkan diskusi. Dia masih saja sederhana, dengan topi pet dan jaketnya yang itu-itu lagi. Seusai diskusi, dengan ramah dan rendah hati, ia masih tinggal melayani deretan permintaan tanda tangan dan foto bareng dari para fan. Setelah ruangan sepi, Tempo pun berbincang-bincang dengannya. Berikut ini petikan wawancara dengannya: Continue reading “Sapardi Djoko Damono : Saya Sudah Lama Mempermasalahkan Waktu”

Bahasa ยป