Sapardi Mempertanyakan Kebenaran

Sapardi Djoko Damono
Pewawancara: Ilham Khoiri
Kompas, 12 Des 2010

SAPARDI Djoko Damono adalah sosok sastrawan Indonesia yang lengkap. Dia seorang penyair, pengamat sastra, dan pendidik yang tekun—bahkan sempat menjadi birokrat kampus. Lebih menarik lagi, hingga usianya yang ke-70 tahun, lelaki ini tetap aktif berkarya.

Sebagai penyair, Sapardi lebih dikenal lewat puisi-puisi yang bercorak liris. Puisinya dianggap mewakili pengelolaan pikiran dan perasaan yang mendalam. Diksinya sederhana, tetapi tajam; rumit sekaligus halus. Continue reading “Sapardi Mempertanyakan Kebenaran”

Ketika Gerimis Jatuh

Sapardi Djoko Damono *
Koran Tempo 11/05/03

Gadis kecil itu berpikir begini, nanti kalau ayah pulang kehujanan, kasihan. Tadi lupa bawa payung. Ia sendiri di rumah, seperti biasa. Pembantu bertugas mencuci dan menyeterika, selesai itu pulang-sesudah, tentu saja menyiapkan makan untuknya. Gadis kecil itu biasa dipanggil Rini. Lengkapnya, Satyarini Endah Kurnianingrum. Biasanya beberapa temannya di sekeliling rumahnya suka bermain macam-macam karena orang tuanya Rini suka membelikannya mainan, mulai dari alat masak-memasak sampai mobil-mobilan, meskipun dia anak perempuan. Continue reading “Ketika Gerimis Jatuh”

Hujan Bulan Juni

Adi Marsiela
Suara Pembaruan, 3 Juli 2007

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu- ragu di jalan itu.

Penggalan musikalisasi puisi Hujan di Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono yang dinyanyikan Dua Ibu (Reda dan Tatyana) terdengar sayup-sayup di amphitheater Selasar Sunaryo Art Space, Continue reading “Hujan Bulan Juni”

Sapardi Tak Pernah Berhenti

Ilham Khoiri
Kompas, 28 Mar 2010

SAPARDI Djoko Damono, salah satu penyair kuat Indonesia, kini sudah berusia 70 tahun. Dia masih sehat, produktif, dan karya-karyanya terus diapresiasi masyarakat. Bagaimana dia menjaga energi kreatifnya?

Sapardi tampak segar dengan setelan kemeja krem, kaus dalam putih, dan celana gelap, Jumat (26/3) pagi itu. Setelah sarapan pagi, yang hampir selalu dia buat sendiri, lelaki itu memeriksa beberapa buku. Continue reading “Sapardi Tak Pernah Berhenti”

Bahasa »