Bangunan Matahari – puisi cepi sabre

Hudan Hidayat

Puisi ini sampai padaku seolah nyanyian dari repetisi suatu identitas seseorang, yang disebutnya sebagai pak tukang, pak tukang pak tukang.

Tentu saja kita sudah bersiap membaca puisi ini: dari judulnya, “kuli bangunan”, sebuah lanskap orang miskin, lamat lamat sudah bangkit di dalam jiwa kita. Bahwa kita akan bertemu dengan kehidupan kuli bangunan yang miskin. Sebab identitas kuli bangunan, adalah suatu profesi yang jarang membuat manusia kaya. Kuli bangunan, bahkan adalah suatu pekerjaan yang tak menetap, pekerjaan paro waktu. Dan itu: miskin. Continue reading “Bangunan Matahari – puisi cepi sabre”

NGACENG TAPI RETAK: PUISI IYUT FITRA DAN MASHURI

Kris Budiman *

Sesudah Afrizal Malna, Dorothea Rosa Herliany, dan Joko Pinurbo cenderung menjadi mekanis dengan strategi tekstualnya, nyaris tiada nama penyair tersisa di dalam memori saya yang berkapasitas sangat terbatas ini. Hanya nyaris, sebab setidaknya masih tersimpan samar nama Zeffry J. Alkatiri atau Raudal Tanjung Banua. Bukan berarti puisi tidak lagi ditulis dan dipublikasikan. Di dalam sebuah antologi puisi keroyokan bahkan bisa tercantum ratusan nama penyair! Continue reading “NGACENG TAPI RETAK: PUISI IYUT FITRA DAN MASHURI”

KRITIK SEORANG DARA PADA LELAKI ISENG

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

?Rumah Dara? adalah cerpen pertama Titis Basino yang dimuat majalah Sastra, No. 12, Th. II, 1962. Sebagai cerpen seorang pemula yang ditulis Titis dalam usia 23 tahun ketika ia menjadi mahasiswa FSUI, tentu saja cerpen ini tergolong mengejutkan. Bahasanya mengalir tenang, potret sosial yang diangkatnya barangkali mewakili kondisi anak dara seusia itu pada zamannya, dan emosi yang dihembuskan si tokoh aku, terkesan begitu arif dan matang. Sepertinya, tokoh aku dalam cerpen itu laksana seorang dewasa yang melihat teman-teman sebayanya berbuat sesuatu yang tak pantas menurut norma. Continue reading “KRITIK SEORANG DARA PADA LELAKI ISENG”

Bahasa ยป