Mobil Pengantin

Sunlie Thomas Alexander
http://www.jawapos.com/

DULU, setiap pasangan pengantin Tionghoa di kota kecil kami selalu diarak berkeliling dengan mobil. Seingatku mobil itu sedan Mitsu?bishi buatan tahun 70-an, milik seorang pemilik salon yang memang khusus direntalkan untuk keperluan mobil pengantin. Sedan itu biasanya dirias meriah dengan sulur-sulur pita panjang berwarna-warni yang melintang dari depan moncong ke belakang dengan ikatan simpul yang indah di atas atapnya serupa ikatan pita pada kotak kado. Di bagian moncong mobil itu juga dipasangi rangkaian kembang aneka rupa dan sebuah boneka kecil berwujud pengantin perempuan. Continue reading “Mobil Pengantin”

Teks, Konsekuensi, dan Kebenaran

Zakki Amali*
http://www.jawapos.com/

Mitologi hukum karma selalu berlaku dalam kehidupan ini. Siapa menaman, dia menuai. Demikian halnya dalam menulis, siapa menulis dia menuai efeknya. Penulis mau tidak mau akan bersinggungan dengan realitas pembaca. Ketika teks dilempar, maka efek akan muncul.

Pisau analisis untuk membedah fenomena itu dapat mengacu pada formula: kematian penulis (author). Penulis telah mati. Artinya, buah karya penulis, secara lahir dan batin adalah milik khalayak. Melenceng atau tidak penafsiran pembaca atas teks itu sepenuhnya tidak bersangkut-paut terhadap pribadi penulis. Continue reading “Teks, Konsekuensi, dan Kebenaran”

Jakarta Sebelum dan Sesudah Soeharto

Imam Muhtarom *
jawapos.com

Buku karya Abidin Kusno ini menunjukkan bagaimana kota melalui bangunan arsitekturnya merupakan representasi politik yang sedang berjalan dan secara bersamaan juga menginginkan model partisipasi publiknya. Pada zaman pemerintahan Soekarno, Jakarta harus tampak sebagai kota modern dengan meninggalkan sekaligus menghapus gambaran kota kolonial sebelumnya, baik semasa Belanda maupun semasa Jepang. Kemodernan Jakarta ini ditandai dengan pendirian Hotel Indonesia beserta pancuran air yang legendaris di kawasan Jalan M. Thamrin, Senayan, Monumen Nasional, dan Gedung Perintis Kemerdekaan. Continue reading “Jakarta Sebelum dan Sesudah Soeharto”

PENOLAK ATAU PENGUNDANG BALA

Samsudin Adlawi

Pada 26 Desember 2004, Aceh digulung tsunami. Sedikitnya 126.000 orang tewas dan ribuan yang lain hilang. Lima puluh persen bangunan di Banda Aceh luluh lantak. Peristiwa tersebut meninggalkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia. Secara spontan, baik sendiri maupun berjamaah, semua anak bangsa ini berdoa semoga “kiamat kecil” itu menjadi bencana yang terakhir di tanah air. Continue reading “PENOLAK ATAU PENGUNDANG BALA”

Bahasa ยป