MENJADI SASTRAWAN BUKAN KARENA BAKAT

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Menjelang berakhir abad ke-20 dan mengawali masuk milenium ketiga, peta kesusastraan Indonesia seolah-olah dikejutkan dengan bermunculannya sastrawan wanita. Sebut saja Ayu Utami, Dewi Lestari, Oka Rusmini, Dorothea Rosa Herliany, Helvy Tiana Rosa, Abidah El Khalieqy, Fira Basuki, dan sebelumnya Ratna Indraswari Ibrahim. Jauh sebelum itu, NH Dini menjulang sendiri dan disusul kemudian Titis Basino PI. Yang disebut terakhir inilah, seakan-akan hendak menggebrak sendiri lewat produktivitasnya yang luar biasa. Bayangkan, dalam kurun waktu dua tahun saja (1998?1999), Titis telah menghasilkan lebih dari 17 novel. Jadi di antara sastrawan wanita Indonesia, dapat dipastikan, jumlah novel yang dihasilkannya Titis berada di atas sastrawan wanita lainnya. Continue reading “MENJADI SASTRAWAN BUKAN KARENA BAKAT”

Harry Aveling dan Sastra Indonesia

Susi Ivvaty
kompas-cetak.com

Harry George Aveling (64) masih berusia delapan tahun ketika bibinya menunjukkan peta Borneo (Kalimantan) kepadanya. Bibi berharap ia menjadi pendakwah agama di pulau itu. “Saya akhirnya malah menjadi pendakwah budaya Indonesia untuk orang Australia, he-he-he.”

Di Indonesia, Harry dikenal sebagai pemerhati dan peneliti kesusastraan Indonesia sejak tahun 1970-an. Belakangan, lelaki kelahiran Sydney, Australia, 30 Maret 1942, Continue reading “Harry Aveling dan Sastra Indonesia”

Bisikan Sastra Perang?

Binhad Nurrohmat
kompas-cetak.com

Watak kesusastraan peka pada tragedi, dan di antara tragedi terbesar bagi umat manusia adalah perang. Perang merupakan tragedi yang tak sebatas membinasakan tubuh dan melenyapkan peradaban manusia. Ketika krisis dan kegundahan di Eropa merebak pada 1935 dan dihantui luka Perang Dunia I, Jean Girauduoux menyelipkan sebaris kalimat jitu tentang bahaya perang yang paling mengerikan ke dalam dramanya, La guerre de Troi n?aura pas lieu (Perang Troya Tak Bakal Meletus): “Kebenaran adalah korban pertama dalam perang.” Continue reading “Bisikan Sastra Perang?”

Malam Saweran

AS Laksana
suaramerdeka.com

AKU sepakat bahwa laporan bersambung itu terasa mengada-ada. Setidak-tidaknya, ia terasa sebagai upaya berlebihan dari penulisnya untuk membuatmu putus asa mengikuti sepak terkam orang-orang yang gemar menyelinap di tengah malam. Wartawan itu memang menulis dalam gaya yang samar; ia menceritakan tabiat sejumlah orang tanpa menyodorkan petunjuk yang memungkinkanmu menerka siapa saja sesungguhnya yang sedang ia ceritakan dan di mana kejadiannya berlangsung. Continue reading “Malam Saweran”

Nasionalisme ala Sukarno

Benni Setiawan*
http://www.surabayapost.co.id/

Iki dadaku, endi dadamu
Rawe-rawe rantas, malang-malang putung

Kata-kata tersebut di atas adalah teriakan lantang Presiden RI pertama Sukarno atau yang sering disapa dengan Bung Karno. Teriakan penuh keberanian ini mengiringi barisan siap tempur dalam misi ?Ganyang Malaysia? pada tahun 1963. Semboyan ?Ganyang Malaysia? dipicu oleh pernyataan Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman Putra (8 Februari 1903-6 Desember 1990) yang mendeklarasikan Kerajaan Federasi Malaysia. Continue reading “Nasionalisme ala Sukarno”

Bahasa ยป