Tetap Berpihak

Silvia Galikano
http://jurnalnasional.com/

Dia pernah menyebut generasinya sebagai generasi koma, sementara itu generasi sesudahnya adalah generasi titik. Koma berarti belum berhenti, masih ada lanjutannya.

Senin (4/5) lalu, di Goethe Haus Jakarta, digelar diskusi dalam rangka mengenang 80 tahun Yusuf Bilyarta Mangunwijaya Pr. (Ambarawa, 6 Mei 1929?Jakarta, 10 Februari 1999), atau lebih dikenal dengan Romo Mangun. Mengambil tema Romo Mangun: Antara Sastra dan Arsitektur dengan pembicara Mudji Sutrisno dan Erwinthon P. Napitupulu yang masing-masing mengulas peran Mangun dari sisi kepenulisan dan sebagai arsitek. Continue reading “Tetap Berpihak”

Sastra dan Keberjarakan Masyarakat*

Satmoko Budi Santoso
Media Indonesia

DALAM telaah sosiologi kesusastraan, Lucien Goldman menengarai perihal hubungan sastra dan masyarakat sebagai interaksi oposisi biner: berseberangan tetapi tak saling menolak. Masyarakat merespons sastra dan sastra merupakan abstraksi peristiwa kemasyarakatan. Persepsi semacam ini berjalan sebagai bagian interaksi logis antara sastra dan publik pembacanya. Meski saat ini bolehlah dikatakan bahwa karya sastra tetap berada dalam situasi yang selalu memungkinkan “bertengkar dalam posisinya sebagai menara gading”. Continue reading “Sastra dan Keberjarakan Masyarakat*”

Ibu Kota Buku

Muhidin M. Dahlan *
jawapos.com

Beirut, kota yang kerap dikutuk sebagai salah satu ibu kota yang paling rajin memproduksi teror dan kekerasan di kawasan samudera pasir, menjelma menjadi kota buku paling semarak di tahun ini. Ibu kota Lebanon itu terpilih sebagai ibu kota buku dunia (World Book Capital) oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Program yang bernama ”a city the World Book Capital for year” ini sudah berlangsung sejak 2001. Kota Madrid menjadi kota pembuka untuk pelaksanaan program ini. Lalu berturut-turut Alexandria (2002), New Delhi (2003), Antwerp (2004), Montreal (2005), Turin (2006), Bogot? (2007), Amsterdam (2008), dan sekarang Beirut. Continue reading “Ibu Kota Buku”

Aristoteles dan Para Pemikir Busuk

Djoko Pitono *
jawapos.com

Politics and the fate of mankind are shaped by men without ideals and without greatness. Men who have greatness within them don’t in for politics. Albert Camus (1913-1960)

Politik itu kotor, kata Albert Camus, pengarang Prancis pemenang Hadiah Nobel Sastra 1957. Politik dan nasib umat manusia, katanya, dibentuk oleh orang-orang tanpa idealisme dan tanpa kehebatan (kearifan). Orang-orang yang memiliki kehebatan tidak mau terjun ke politik. Continue reading “Aristoteles dan Para Pemikir Busuk”

Kearifan Seorang Sufi

Akhmad Zaini*
http://www.jawapos.com/

Dalam sejarah perjalanan bangsa ini, nama KH Achmad Siddiq (1926-1991) tentu bukanlah nama asing. Sebab, dari ulama sederhana dan kharismatik itu, muncul sejumlah pemikiran besar yang berdampak sangat luas bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini.

Pemikiran Kiai Achmad yang paling monumental adalah soal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut Kiai Achmad, NKRI yang berdasar Pancasila merupakan bentuk final. Karena itu, tidak perlu diotak-atik lagi. Dalam kehidupan bernegara, semua harus mengakui dan menerima NKRI dan Pancasila. Continue reading “Kearifan Seorang Sufi”

Bahasa »