Kekristenan dalam Kesusastraan Indonesia

Suryadi
cetak.kompas.com

Ada dua unsur yang menjadi sumber “energi” penggerak alur cerita yang hampir tidak terlalu sulit menelisik jejaknya dalam teks sastra Indonesia. Yang pertama adalah unsur kesukubangsaan (dimensi etnisitas) dan yang kedua adalah unsur keagamaan (dimensi religiositas). Representasi kedua unsur ini dalam karya-karya sastra Indonesia, dalam kadar yang berbeda-beda, hampir selalu dapat dirasakan. Continue reading “Kekristenan dalam Kesusastraan Indonesia”

FLORET, KIPAS, dan PERTARUNGAN

Aguslia Hidayah*
http://www.korantempo.com/

Di Salihara, koreografer Rury Nostalgia menampilkan perang tanding Adaninggar-Kelaswara secara menarik.

Tak ada anak panah diluncurkan dari busur, seperti diceritakan Yasadipura I dalam Serat Menak Cina. Detik-detik kematian Adaninggar, sang putri Cina, di tangan koreografer Rury Nostalgia diwujudkan dengan penari yang berputar-putar hingga sorot lampu redup. Continue reading “FLORET, KIPAS, dan PERTARUNGAN”

Merangkai Kisah dengan Garis

Sjifa Amori
http://jurnalnasional.com/

Ide membuat goresan garis menjelma jadi karya seni spektakular dan sarat makna.

Adalah garis-garis dari batang puntung rokok yang disusun membentuk tulisan “NGGAK ADA MATINYA”. Ini adalah karya yang akan menyambut setiap pengunjung pada pameran Ligne a Ligne (Garis ke Garis) di Galeri Nasional yang melibatkan seniman kontemporer Prancis dan Indonesia. Pameran ini berlangsung hingga 16 Mei. Continue reading “Merangkai Kisah dengan Garis”

Kelola Lingkungan, Bercermin pada Masyarakat Bali Kuno

Made Geria *
balipost.com

MEMPERHATIKAN sejumlah pembangunan fisik di Bali, tidak sedikit keberadaannya yang kontraproduktif terhadap lingkungan alam. Eksploitasi terhadap alam berlebihan tanpa mempertimbangkan kekhasan alam Bali, bahkan ada pelaku pembangunan yang amnesia terhadap kearifan peradaban Bali yang justru telah teruji ratusan bahkan ribuan tahun dalam menjaga keseimbangan alam Bali.

Ada sejumlah contoh yang perlu menjadi pertimbangan dalam memahami pembangunan alam Bali secara utuh. Masyarakat Bali kuno dalam mewujudkan bangunan fisik selalu mempertimbangkan dan memberi ruang khusus terhadap keseimbangan lingkungan. Continue reading “Kelola Lingkungan, Bercermin pada Masyarakat Bali Kuno”

Yang Teramputasi

Gus Martin

Beranda

AKU punya rasa sesal amat sangat yang kini kupendam jauh di dasar hatiku. Kadang menyakitkan. Rasa sesal itu, bukan lantaran aku terlahir berbekal cacat dan keanehan yang dalam sepanjang perjalanan hidupku memberi kesempatan pada banyak orang untuk menolok-olokku, menghinaku, dan mentertawaiku. Rasa sesal itu, justru lantaran bagian tubuhku yang tak wajar itu kini sudah diamputasi dan dikremasi. Continue reading “Yang Teramputasi”

Bahasa ยป