Politisasi Media Sastra

Binhad Nurrohmat
http://www.sinarharapan.co.id/

Pluralitas media komunikasi sastra sama sekali bukan indikator dominan bagi munculnya kehebatan inovasi karya sastra dan singularitas media komunikasi sastra juga sama sekali bukan tanda adanya bencana kejumudan mutu sastra.

Pluralitas media komunikasi sastra akan memberi ruang lebih luas bagi usaha publikasi karya sastra tapi tak selalu menjamin adanya usaha eksplorasi mutu sastra yang lebih jauh dan luas. Sedangkan singularitas media komunikasi sastra kadang justru bisa menciptakan kompetisi bersastra yang liat dan mampu memunculkan maestro-maestro sastra sekaligus melahirkan para ?pecundang? sastra yang tersingkir karena tak bisa memenangi kompetisi kreatif yang ketat. Continue reading “Politisasi Media Sastra”

MELEBURKAN RUANG WAKTU DUNIA PUITIK*

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Inilah gagasan peleburan, demi mencapai keuniversalan makna.
Berbincang mengenai ruang, mau tidak mau menyoal ukuran, bentuk, warna dalam tampakan. Lantas ditariknya sebagai saksi. Menjadi saksi bisu jika tak memiliki waktu.

Ketika membahas waktu, pelaku dihadapkan panjang-pendeknya masa, menggebu-terlena, kejumudan atau hal biasa. Dan ruang itu semacam kata, angka, lebar, lonjong pula bulatan. Sedangkan waktu ialah ruh daripada ruangan. Continue reading “MELEBURKAN RUANG WAKTU DUNIA PUITIK*”

SELAMAT JALAN, MANG!

Maman S. Mahayana

Suatu siang di sebuah gudang di kampus Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) Rawamangun. Seseorang telentang di antara serakan dan tumpukan buku. Asyik-masyuk. Tak peduli pada hiruk-pikuk mahasiswa, karyawan, dan sejumlah dosen. Orang itu bagai tenggelam dalam buku yang sedang dibacanya. Buku ukuran kecil yang digenggamnya itu kemudian dilemparkan begitu saja. Segera, tangannya meraih buku jilid berikutnya; sebuah serial silat SH Mintarja, Api di Bukit Menorah. Ia tenggelam lagi. Pastilah serial silat Khoo Ping Ho yang bertumpuk dalam ikatan karet gelang, masih sabar menunggu giliran. Tak ada yang berani mengganggu. Continue reading “SELAMAT JALAN, MANG!”

Centhini, Kekasih yang Tersembunyi

Seno Joko Suyono, Lucia Idayanie
http://majalah.tempointeraktif.com/

?…Kehidupan saya dan kehidupan penyair Jawa sejak berabad-abad, semua menyatu. Segala yang pernah saya alami di Jawa dan di tempat lain di Bumi ada dalam karya yang janggal, ajaib, dan raksasa itu, yang kelihatannya begitu cerai-berai, namun intinya begitu sempurna. Saya seakan ingin mencebur ke sungai yang luas, membiarkan diri ditelan tembang-tembang dan lenyap dalam gelombang cahaya para penyair yang telah wafat, terikat dengan silsilah mereka secara penuh rahasia….? Continue reading “Centhini, Kekasih yang Tersembunyi”

Sastra, Olahraga, dan Penghargaan

Beni Setia *
jawapos.com, 10 Agus 2008

SEBAGAI orang yang pernah mendapatkan Anugerah Seniman Jawa Timur dan sekaligus bekerja di dua ranah kesusastraan, Indonesia dan (etnik) Sunda, rasanya saya cukup pantas untuk menanggapi tulisan terkarib, Bonari Nabonenar –lihat ”Menyoal Sastra Satu Kamar” (JP, 27/7/08). Sebuah tulisan yang menandaskan bahwa kesejahteraan para pekerja sastra di ranah (bahasa) Indonesia lebih tinggi dari pekerja sastra di ranah (bahasa) Jawa. Benarkah begitu? Continue reading “Sastra, Olahraga, dan Penghargaan”

Bahasa ยป