MPU, Provinsi Miskin dan Sastrawan Miskin

Beni Setia *
republika.co.id

Bertepatan dengan Temu Sastra III Mitra Praja Utama (MPU), yang berlangsung di Lembang, Bandung, 4-6 November 2008, di milis Apresiasi-Sastra terjadi polemik yang dipicu pengunduran diri salah satu peserta dari Jawa Barat, Lukman Asya. Keputusan iseng itu sendiri sebenarnya tanpa motif, meski kemudian ia menggarisbawahi kekecewaan pada Disbudpar Jawa Barat, sebagai pengayom acara yang yang tidak mau memberi uang transpor pada peserta. Continue reading “MPU, Provinsi Miskin dan Sastrawan Miskin”

Yogya Basis Sastra Alternatif

Amien Wangsitalaja
kr.co.id

MEDIA SASTRA, terutama sastra tulis, merupakan media yang cenderung tidak diminati secara massal dan karenanya cenderung tidak memiliki “masa hidup” yang panjang. Pamusuk Eneste dalam “Timbul dan Tenggelamnya Majalah Kebudayaan” (Matabaca, vol 1/no.4/ November 2002) menyimpulkan bahwa banyak majalah kebudayaan yang masih rutin terbit, yaitu Horison dan Basis ditambah dua lagi yang agak diragukan keberlangsungan terbitnya, yaitu Kalam dan Kolong. Continue reading “Yogya Basis Sastra Alternatif”

Lhok Samawi

Abidah El Khalieqy
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

TENTANG cinta? Aha! Telah berapa windu aku hidup di alam asing di sebuah negeri tanpa matahari berkota melompong tak ada telinga tak ada mata tak ada hati tempat kita merasa sebagai manusia. Dan kau bilang mau datang ke rumahku? Di mana? Coba katakan! Adakah rumah tanpa alamat nirkampung nirkota? Continue reading “Lhok Samawi”

Jendela Tua

Iyut Fitra
http://cetak.kompas.com/

Selalu. Pada akhirnya kita akan pulang pada kesendirian. Setelah suami meninggal. Setelah anak-anak memilih rantau sebagai tujuan kehidupan. Dan rumah gadang hanya tinggal sebagai simbol kekokohan yang sebenarnya teramat rapuh dan sunyi. Di sanalah bermukimnya para ibu tua. Dengan kebaya lusuh. Dengan selendang usang. Menyulam waktu yang tak terukur. Menjahit rentang tak terkira. Lengang. Dan sendiri. Tapi hidup, tentu akan terus berjalan. Continue reading “Jendela Tua”

Bahasa »