1883
1883,
tahun ketika Krakatau meruntuhkan kaldera
ruah amarah
Selat Sunda merah jingga
masih di Bumiku,
balai kolonial bersabda: Continue reading “Empat Puisi Annapurna”
1883
1883,
tahun ketika Krakatau meruntuhkan kaldera
ruah amarah
Selat Sunda merah jingga
masih di Bumiku,
balai kolonial bersabda: Continue reading “Empat Puisi Annapurna”
Doddi Ahmad Fauji *
Media Indonesia 07/12/2004
Adakah seorang penyair identik dengan si pemberontak? Adakah si perajut kata itu –sekalipun ia seorang hipokrit– dapat menjadi personifikasi dari si penguak kemunafikan? Kita bisa saja setuju, tapi boleh juga ragu.
Yang jelas, dalam lakon Julieus Caesar-nya Shakespeare, penyair itu diibaratkan duri dalam daging yang harus segera dicabut. Tidak mematikan memang, tetapi menyakitkan bila dibiarkan. Continue reading “Teater Populer Mencoba Menghibur di Antara Kepalsuan Hidup”
SRANTI DIKENING HARI
Sranti….
adalah pejalan di angin deru
memungut doa pada puing waktu
mendengar gelora debu – debu
memanggil berirama rindu
menghambur senyum hamparan selalu
memercikkan segenggam setuju
pada kening hari yang selalu menunggu Continue reading “Tujuh Puisi Sultan Musa”

Judul: Perempuan Berlipstik Kapur Continue reading “Membaca Antologi Cerpen “Perempuan Berlipstik Kapur””

Yuliana Ratnasari Continue reading “Empat Sastrawan Yogya Dianugerahi Hadiah Sastra”