Taufiq Wr. Hidayat *
Pada suatu petang, jalanan itu telah ditinggal pergi sang penyair. Bersama tasnya yang kumal. Celana, baju kusut. Rambut yang panjang yang tak pernah dipotong atau diatur oleh kekuasaan. Ia pergi. Akan ke mana. Entah. Lampu-lampu. Dan bunga-bunga ungu merekah. Langkah demi langkah. Kemudian tak tahu lagi ke mana langkah akan dibawa, meninggalkan luka hati, dan kerinduan panjang yang tak terjelaskan. Continue reading “PENYAIR MATJALUT”


