Menuju Republik Sastra

Gerson Poyk *
Kompas, 03 Maret 2013

Beberapa tahun yang lalu, ketika HB Jassin masih hidup, dia pernah menulis bahwa sebuah pusat kebudayaan tidak perlu hanya di Jakarta, tetapi sebaiknya di daerah.

Beberapa lama kemudian, Jassin mengatakan, ”Koran-koran di daerah yang punya ruangan sastra sangat penting.” Ucapannya membuat penulis berpikir bahwa di setiap provinsi mesti ada HB Jassin baru yang mendokumentasikan semua karya penulis yang muncul di ruang sastra di setiap koran, lalu menyorot, mengkritik, dan mendidik seperti yang dialami Angkatan ’45 dan Angkatan ’66 versi Jassin. Continue reading “Menuju Republik Sastra”

Apresiasi Sastra

Mustafa Ismail *
Koran Tempo, 06 Sep 2014

Muhibah sastra ke beberapa sekolah di Aceh baru-baru ini memberi gambaran miris bagi saya. Ternyata tidak banyak siswa yang mengenal sastrawan Indonesia. Hanya sedikit yang mengenal Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bahri, Hamid Jabbar, Sitor Situmorang, KH Mustofa Bisri, dan lain-lain. Apalagi nama-nama yang lebih muda dan belum tercatat dalam buku ajar sekolah. Continue reading “Apresiasi Sastra”

Penelantaran Warisan Jassin

Bandung Mawardi *
Koran Tempo, 02 Juni 2017

Hari-hari menjelang peringatan 100 tahun H.B. Jassin (3 Juli 1917–3 Juli 2017), kita masih bersedih atas nasib sial warisan sang kritikus sastra berupa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Warisan itu telantar saat pemerintah, perusahaan, dan komunitas sedang gencar mengadakan aksi literasi dengan mendirikan taman baca atau perpustakaan. Continue reading “Penelantaran Warisan Jassin”

Sastra dan Martabat

Halim HD *
Kompas, 12 Juli 2015

Apakah ungkapan sastra dan martabat ini masih berlaku, ketika orang mengenang dan merenungi bentangan ruang sejarah dan peradaban yang telah membentuk kehidupan manusia zaman kini? Lalu memetik jalinan kalimat yang telah dijadikan pijakan dan pegangan kehidupan selama ini: melalui dan dengan sastra suatu negara, bangsa dan manusia yang mengisi ruang sosialnya telah menciptakan suatu jembatan kehidupan yang membawanya ke dalam percaturan yang bukan hanya diukur oleh kecukupan sandang dan pangan. Continue reading “Sastra dan Martabat”

Bahasa »