—bersama Ida
Raudal Tanjung Banua *
1.
Siapa batu asah
di antara kita
dan siapa jadi pisaunya?
Kau yang menunggu, ataukah aku
yang mengembara? Continue reading “CINTA SEBILAH PISAU DAN SEPOTONG BATU ASAH”
—bersama Ida
Raudal Tanjung Banua *
1.
Siapa batu asah
di antara kita
dan siapa jadi pisaunya?
Kau yang menunggu, ataukah aku
yang mengembara? Continue reading “CINTA SEBILAH PISAU DAN SEPOTONG BATU ASAH”
Anton Wahyudi *
Siang hampir saja ranum. Terik yang tadinya berkecamuk mendadak susut, tertutup rombongan awan kelabu. Tak ada suara geluduk, tak ada kilatan petir menjalar, tak ada tanda mau turun hujan. Udara seketika terasa sesak. Pengap. Kota yang tadinya tampak putih berseri tiba-tiba pucat pasi. Pucat seperti reraut wajah bidadari keluar dari kamar operasi. Continue reading “PEMBELAHAN DADA”

Sunlie Thomas Alexander * Continue reading “MUDIK HANYA TERKAIT LEBARAN?”
Muhammad Antakusuma
Panti pijat penuh gadis manis asal Cina, toko Cina yang menjual seafood beku dan bumbu asia, restoran Indonesia yang menjual nasi rames dan babi kecap, dan lampion merah bergelantungan adalah pemandangan biasa ketika memasuki wilayah pecinan di pusat kota Den Haag. Di sore hari, bahasa Belanda mengalir deras di kafe pojok jalan, sederas bir yang ditegak ketika musim panas tiba. Di malam hari, bahasa Turki gentayangan bersama orang-orang yang mengenakan abaya dan kopiah, merasuk ke Masjid Al-Aqsa di Wagenstraat, salah satu jalan di “China Town.” Continue reading “Masjid Al-Aqsa di Wagenstraat Den Haag”