TUJUAN APRESIASI SASTRA (5)

Djoko Saryono *

Dalam apresiasi sastra terjadi interaksi antara manusia-pengapresiasi dan sastra. Terjadinya interaksi ini berarti adanya perjumpaan aktif antara manusia-pengapresiasi dan sastra-yang-diapresiasi. Adanya perjumpaan memungkinkan berlangsungnya perjamuan dan percakapan imajinatif literer antara manusia-pengapresiasi dan sastra-yang-diapresiasi. Oleh karena itu, apresiasi sastra dapat dikatakan sebagai dunia-perjumapaan antara dunia-manusia dan dunia-kewacanaan literer. Selanjutnya, hal ini memungkinkan dibangunnya dunia-perjumpaan dan dunia-percakapan. Continue reading “TUJUAN APRESIASI SASTRA (5)”

YANG PALING PENTING

Lan Fang
Pikiran Rakyat, 17 Mei 2008

Di rumah. Hujan. Di teras. Duduk. Air jatuh satu-satu dari bibir genting. Menciprati lantai. Menggenangi rumput. Susul menyusul. Menjadi bunyi yang paling sepi.

Kamu suka musik klasik atau musik jazz?” tanyamu, seakan-akan itu adalah pertanyaan penting. Padahal, itu tidak penting. Karena aku punya pertanyaan lain yang lebih penting untukmu. “Kamu suka hujan waktu pagi hari atau sore hari?” Ini pertanyaan penting untukku. Tetapi aku tahu bahwa itu pertanyaan yang tidak penting menurutmu. Continue reading “YANG PALING PENTING”

Seorang Ibu Menunggu

An. Ismanto
Sinar Harapan, 15 Sep 2007

Sehembus angin menghambur-hamburkan debu, dedaunan layu dan ceceran kertas di halaman rumahnya ketika suatu sore ia menemani suaminya bercengkerama di beranda. Terdengar bunyi gemeresak yang ribut. Mendengar bunyi itu, ingatannya terseret kembali ke detik-detik menegangkan bertahun-tahun lalu, ketika ia berdiri di pintu dengan cemas sementara azan maghrib menjengkali setiap penjuru udara. Namun, seperti biasa, suaminya selalu saja membuyarkan saat-saat menggetarkan itu. Continue reading “Seorang Ibu Menunggu”

Rahasia Kumari

Agus Dermawan T
Suara Pembaruan, 04 Nov 2007

Tanggal 7 bulan 7 tahun 2007 jam 7 pagi terlanjur dimitoskan orang sebagai waktu yang istimewa. Oleh karena itu studio Radio Swarakita pada jam, tanggal dan bulan itu banyak menerima tawaran siaran langsung dari berbagai pihak. Seorang pendeta jauh hari telah meminta radio untuk membuka pintu untuknya, agar pada saat itu ia bisa siaran khotbahnya. Seorang pengusaha muda dan sebuah grup band yang siap moncer juga menyorongkan jadwal yang sama. Seorang politisi anggota DPR ingin berbicara tentang “Indonesia yang lebih baik” pada jam 7 pula. Begitu juga seorang kyai yang biasanya menyiarkan dakwah magrib di radio itu. Continue reading “Rahasia Kumari”

Bahasa ยป