Nana Sarea

Dina Oktaviani *
Jawa Pos, 13 Jan 2008

Ketika lalat-lalat kerotot menghampiri pondoknya suatu pagi hari, Tuan Sarea telah berada di perbatasan antara kampungnya dan kampung Arah Barat, jauh dari ladang-ladangnya. Bersama Layantara ia menyusuri pohon-pohon kering terakhir yang menjadi bagian kampungnya yang berada di Tengah Pulau Besar. Continue reading “Nana Sarea”

Parousia

Agus Noor
Kompas, 23 Des 2007

Pada malam Natal tahun 3026, aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. Aku keluar dari cangkang kesunyianku. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. Tak ada bintang, dan langit hanya basah. Di kulitku yang licin, udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket, seperti rintihan kesepian. Continue reading “Parousia”

Memoir dari Kampus Tirani

Esti Nuryani Kasam
Republika, 2 Sep 2007

Beberapa hari terakhir aku lebih menurutkan dahaga untuk membaca surat kabar ketimbang perutku yang mulai terbiasa lapar. Aktualita itu tiba-tiba menyeruak seperti banjir penghujan melanda Jakarta. Aku bahkan sengaja memburunya, tak lupa mengklipingnya. Sekurangnya itu menjadi referensi baru untuk memoirku. Continue reading “Memoir dari Kampus Tirani”

Pejuang

Maria Magdalena Bhoernomo
Seputar Indonesia, 19 Agu 2007

Lelaki tua itu selalu suka mengenakan lencana merah putih yang disematkan di bajunya. Di mana saja berada, lencana merah putih selalu menghiasi penampilannya.

Ia memang seorang pejuang yang pernah berperang bersama para pahlawan di masa penjajahan sebelum bangsa dan negara ini merdeka. Kini semua teman seperjuangannya telah tiada. Sering ia bersyukur karena mendapat karunia umur panjang. Ia bisa menyaksikan rakyat hidup dalam kedamaian. Continue reading “Pejuang”

Rumah Warisan

Yonathan Rahardjo *
Republika, 13 Jan 2008

Kematian perempuan tua itu membangunkan duka. Terik matahari, yang membuat penduduk malas keluar rumah, tak sanggup menahan hati menuju gelap, ditutupi mendung kesedihan. Menantu perempuan tua itu, yang pertama kali menjumpai kematian sang perempuan tua, menjerit pilu. Continue reading “Rumah Warisan”

Bahasa ยป