STATUS KEHADIRAN APRESIASI SASTRA (4)

Djoko Saryono *

Meskipun dapat dilakukan secara komunal artau kolektif, apresiasi sastra bekerja secara subjektif, individual, internalistik, momentan, tanpa harus perlu dipandu oleh teori tertentu, dan tak evaluatif. Hal ini berarti bahwa kehadiran apresiasi sastra di tengah-tengah dunia (penghadapan) sastra bukan sebagai ilmu. Dikatakan demikian karena ilmu justru menuntut objektivitas, kolektivitas (sebab mesti bisa diuji oleh orang lain!), rasionalitas, dipergunakannya teori tertentu, dan evaluatif atau eksplanatif. Padahal semua ini tak bisa dipenuhi oleh apresiasi sastra. Continue reading “STATUS KEHADIRAN APRESIASI SASTRA (4)”

WILAYAH GARAP APRESIASI SASTRA (3)

Djoko Saryono *

Wilayah garap (jangkauan) apresiasi sastra, kritik sastra, dan penelitian sastra sering rumpang dan berbenturan. Sering ditemui tulisan-tulisan yang disebut apresiasi sastra ternyata menggarap wilayah kritik sastra. Demikian juga sering kita lihat tulisan-tulisan yang disebut kritik sastra ternyata menggarap wilayah apresiasi sastra. Penelitian sastra pun sering menggarap wilayah kritik sastra dan apresiasi sastra. Bahkan kadang-kadang kita kesulitan membedakan apakah suatu tulisan itu penelitian sastra, kritik sastra, apresiasi sastra atau esai sastra. Continue reading “WILAYAH GARAP APRESIASI SASTRA (3)”

KRITIK SASTRA DAN GERAKAN ESTETIKA SASTRA

Manneke Budiman
badanbahasa.kemdikbud.go.id

Gerakan Estetik

Dalam sejarah sastra dunia dan nasional ada beberapa peristiwa sastra atau seni yang menjadi tempat sekelompok pengarang berkumpul dan mengeluarkan pernyataan bersama, yang tidak jarang disebut ‘manifesto’, untuk mendeklarasikan bermula atau berdirinya suatu gerakan estetik baru sebagai respon terhadap apapun mazhab yang dominan pada saat itu. Continue reading “KRITIK SASTRA DAN GERAKAN ESTETIKA SASTRA”

Menikuskan Tikus

F. Rahardi *

Jikalau tikus-tikus sudah menjadi tidak seperti tikus lagi lantaran tak mau maling dan jinaknya bukan main hingga dia mau saja kita elus-elus lalu ketika kita masukkan ke saku celana dia diam saja, apa jadinya dengan manusia. Mereka pasti sudah menjadi tidak seperti manusia lagi hingga gemar sekali di tempat gelap untuk berbuat seperti tikus dan kadangkala menyuruk-nyurukkan moncongnya yang juga berkumis apabila kedapatan olehnya apa saja yang patut untuk disuruki moncong. Continue reading “Menikuskan Tikus”

Bahasa »