Telor Ceplok

Eko Darmoko
Harian Bhirawa, 12 Juni 2020

Dahi legam itu matang digoreng matahari. Pasir emas Sanur mengasinkan dahi legamnya serupa telor ceplok. Sedangkan asam membuncah dari bulir keringatnya.

“Bapak pasti pulang, Nak! Temani ibumu yang sedang merakit harapan di rumah,” katanya sambil menyeka dahi legamnya menggunakan punggung tangan. Continue reading “Telor Ceplok”

TERALIENASINYA MANUSIA DARI DUNIA YANG DIPERSEPSI DAN DIPOSISIKANNYA

Abdul Wachid B.S. *
badanbahasa.kemdikbud.go.id

Kesadaran terhadap ruang dan waktu adalah obsesivitas pribadi aku-lirik di dalam sajak-sajak Bagus Likurnianto. Kemarin, hari ini, dan esok senantiasa dipertanyakan eksistensinya oleh aku-lirik. Sampai batas yang paling ekstrem dia mempertanyakan, “Amaya, kita ini siapa?” Itulah bentuk dari pertanyaan-pertanyaan eksistensial aku-lirik di dalam banyak sajaknya, sebagaimana sebuah “Pawon”, yang telah membakar keheningan dalam dada: Continue reading “TERALIENASINYA MANUSIA DARI DUNIA YANG DIPERSEPSI DAN DIPOSISIKANNYA”

Ahmadun Yosi Herfanda: Karya Sastra di Ruang Digital Makin Anarkistis

Irwan Kelana
republika.co.id, 13 Jan 2021

Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda mengatakan karya-karya sastra yang muncul di ruang digital makin anarkis. “Anarkisme estetika makin kuat. Makin banyak puisi yang tidak estetik. Bahkan, ada novel yang cenderung porno,” kata Ahmadun dalam diskusi “Sastra Setelah Media Cetak Tiada” yang diadakan oleh Imaji Indonesia dan Majalah Sastra Imajisia, Sabtu (9/1) melalui aplikasi Google Meeting. Continue reading “Ahmadun Yosi Herfanda: Karya Sastra di Ruang Digital Makin Anarkistis”

Sastra dan Negara: Pengalaman Tasikmalaya

Acep Zamzam Noor *
Makalah KIK HISKI XX 2009, Bandung, 5-7 Agu 2009

LAHIRNYA Indonesia sebagai bangsa tak bisa dilepaskan dari karya sastra, khususnya puisi. Pada tanggal 28 Oktober 1928 sejumlah anak muda yang mempunyai naluri kepenyairan berkumpul dan secara kolektif berimajinasi tentang sebuah bangsa. Secara kolektif pula mereka menulis sebuah puisi yang indah, yang sekarang kita kenal sebagai “Sumpah Pemuda”. Sebuah puisi yang mengimajinasikan sesuatu yang waktu itu belum ada, bahkan mungkin belum terbayangkan di pikiran banyak orang: bangsa, tanah air dan bahasa. Continue reading “Sastra dan Negara: Pengalaman Tasikmalaya”

Bahasa »