Tuhan Mengutus Tikus, Manusia Menjadi Tikus

Muhammad Yasir

Seorang hakim telah mengetuk palu tiga kali di ruang pengadilan yang lembab. Seorang lelaki berkulit hitam-legam menatap pijar wajah hakim yang tidak menerima pembelaannya. Kemudian dia bangkit dan mengatakan kepada hakim untuk kembali mempertimbangkan. Apa peduli hakim kepada seorang petani seperti dirinya, hakim itu keluar dengan pengawalan ketat aparatur pengadilan. Jadilah, petani itu diseret seperti seekor bangkai anjing liar yang perutnya mulai menggelembung seakan segera pecah. Continue reading “Tuhan Mengutus Tikus, Manusia Menjadi Tikus”

MENEMUKAN ALLAH

Kuswaidi Syafiie

“Aku mencarimu oh Tuanku
di seluruh alam raya.
Sementara di rumahku
Engkau senantiasa bertahta.”

Puisi di atas digubah oleh Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) yang kemudian banyak dijadikan referensi oleh sufi-sufi setelah beliau. Baris-baris kalimat puitik itu menggambarkan tentang berlangsungnya pencarian spiritual yang dilakukan oleh mereka yang telah mengerti dan merasakan apa arti dari suatu dahaga ruhani. Continue reading “MENEMUKAN ALLAH”

Hikmah Pembaca, “Chemistry” Pengalaman Kebahasaan dan Keruhanian Puisi

Abdul Wachid B.S. *
badanbahasa.kemdikbud.go.id

Medium puisi adalah bahasa yang merupakan lambang-lambang yang digunakan untuk berkomunikasi oleh manusia sehingga membangun suatu komunitas pemakai bahasa tertentu yang disebut suku, bangsa, dan negara. Lambang-lambang yang dipakai oleh bahasa dipengaruhi oleh banyak faktor pembangunnya, baik alam maupun manusia, yang direspons oleh manusia. Dapat dipahami bahwa bahasa sehari-hari yang dipakai berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya merupakan sistem perlambangan. Continue reading “Hikmah Pembaca, “Chemistry” Pengalaman Kebahasaan dan Keruhanian Puisi”

Ibu Kita Raminten karya Muhammad Ali: Novel Potret Sosial

Tirto Suwondo
Kedaulatan Rakyat, 19 April 1987

Sebagai seorang pengarang, atau sastrawan, Muhammad Ali dapat dikategorikan sebagai pengarang yang banyak mengangkat dunia sosial. Baik di dalam novel, cerpen, drama, maupun puisi-puisinya, pengarang kelahiran Surabaya pada 23 April 1927 ini lebih sering mempermasalahkan manusia bawah (orang miskin). Ajip Rosidi menyatakan bahwa, sebagai contoh, sandiwara berjudul “Lapar” karangan Muhammad Ali mengungkap persoalan orang-orang yang karena lapar bersedia menjual apa pun miliknya sekedar sebagai pengisi perut. Bahkan termasuk menjual diri dan atau anak-anaknya. Continue reading “Ibu Kita Raminten karya Muhammad Ali: Novel Potret Sosial”

Bahasa »