Enam Cerita karya Agus Noor

Koran Tempo, 23 Feb 2014

SENJA DI MATA YANG BUTA

BILA ada yang menceritakan padamu senja terindah yang pernah dilihatnya, dengan langit yang selalu kemerahan, dia pasti belum datang ke tempat kami. Senja terindah hanya ada di sini. Senja yang kuning keemasan, seolah madu lembut dan bening yang ditumpahkan ke langit hingga segala yang mengapung di permukaan air menjadi tampak kuning berkilauan. Senja yang tak hanya bening, tapi begitu hening. Selembar daun yang jatuh tak akan mengusik keheningannya. Angin sejuk selalu membiarkan daun-daun kelapa setenang bayang-bayang. Continue reading “Enam Cerita karya Agus Noor”

Suara 14

Taufik Ikram Jamil *
Koran Tempo, 23 Agu 2015

SAYA kira, Anda pun menerima pesan pendek pada telepon genggam itu, yang mengatakan bagaimana warga di sebuah negara merasa diserang oleh suara. Ya, tak sekedar diganggu suara, tapi diserang suara. Dengan demikian, ada upaya besar-besaran yang dilakukan pihak tertentu untuk mencapai tujuan khusus tanpa memedulikan dampak buruknya yang melibatkan semua warga; tak sipil, tak militer, tak besar, tak kecil, semua terlibat. Continue reading “Suara 14”

Tradisi (Serba) Pendek Sastra Kita

(Renungan pendek tentang kritik sastra)

Rakhmat Giryadi

Usia sastra Indonesia (modern) belum panjang. Karena usia belum panjang, maka ilmu-ilmu yang mempelajari tentang sastra Indonesia belum panjang. Karena belum panjangnya ilmu atau teori tentang sastra, patutkah kita bertanya tentang kritik sastra? Karena tradisi belum panjang itupulalah timbul pertanyaan-pertanyaan. Apakah kita sudah memiliki cara pandang (ilmu) sendiri dalam memahami sastra (Indonesia) yang usianya belum panjang? Bagaimana dengan kondisi kritik sastra kita? Continue reading “Tradisi (Serba) Pendek Sastra Kita”

Bahasa ยป