Tradisi Sebagai Sampiran

Teddi Muhtadin *
Pikiran Rakyat, 26 Juli 2009

Saya ingin memahami sisindiran (pantun dalam bahasa Indonesia) sebagai suatu proses kreatif berkebudayaan, sebagai penghargaan kepada tradisi, dan sebagai penghormatan terhadap tafsir. Sisindiran, sebagaimana kita ketahui, adalah salah satu bentuk puisi lisan yang terdiri atas dua bagian, yaitu cangkang (sampiran) dan eusi (isi). Sampiran, umumnya, merupakan permainan bahasa yang memikat, sedangkan isi merupakan pesan yang hendak disampaikan. Continue reading “Tradisi Sebagai Sampiran”

Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Leon Agusta *
Kompas, 13 Jan 2013

TAK ada yang baru di bawah langit. Begitu sering kita dengar banyak orang mengatakan. Namun, selalu ada cara pandang yang baru tentang apa atau bagaimana adanya sesuatu di bawah langit. Selalu pula ada cara pendekatan baru terhadap sesuatu yang sudah berlalu—terhadap sesuatu—misalnya karya dari masa silam. Dari segala sesuatu yang ada sebagian elemen sudah dieksplorasi, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin ada elemen lain yang dapat dieksplorasi. Continue reading “Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai”

Sastra di Bandung

Soni Farid Maulana
Pikiran Rakyat, 9 Jan 2011

Kegiatan sastra di Bandung, khususnya puisi, sejak tahun 1970-an hingga kini tidak mati-mati. Masing-masing zaman punya tokohnya sendiri, mulai dari gerakan Puisi mBeling yang digagas oleh penyair Remy Sylado dan Jeihan Sukmantoro pada tahun 1972-1973 di majalah Aktuil, hingga digelarnya Pengadilan Puisi pada 8 September 1974 oleh Yayasan Arena di Aula Universitas Parahyangan Bandung, Continue reading “Sastra di Bandung”

Bukan Musikalisasi Puisi, tapi ’’Melainkan’’

Rian Harahap *
Riau Pos, 24 Feb 2013

Ratusan orang masuk riuh dan sibuk dalam gedung pertunjukan, mencari-cari bangku yang tepat untuk diduduki. Sementara lampu panggung masih gelap dengan segala kemisterian pertunjukannya.

Seorang pria keluar dengan celana ketat dan baju yang mengecil, wajahnya penuh dengan kumis klimis kemudian menghentak keheningan panggung. Continue reading “Bukan Musikalisasi Puisi, tapi ’’Melainkan’’”

Bahasa »