Sunu Wasono *
Sampai di luar, langkah Bima dihentikan Puntadewa. “Bima, mau ke mana kamu?”
“Kenapa pakai tanya segala, Pambarep? Apa selama pembicaraan di dalam kau tidur,” ujar Bima. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (97)”
Sunu Wasono *
Sampai di luar, langkah Bima dihentikan Puntadewa. “Bima, mau ke mana kamu?”
“Kenapa pakai tanya segala, Pambarep? Apa selama pembicaraan di dalam kau tidur,” ujar Bima. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (97)”
Sunu Wasono
LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (90)
“Andaikata mereka tidak meributkan dan memperebutkan lenga tala, mungkin ide penyelenggaraan sayembara itu tak ada. Karena Kurawa, terutama Sengkuni dan Jaka Pitana, serta Pandawa sama-sama mengklaim bahwa mereka berhak atas kepemilikan lenga tala, aku jadi bingung. Di tengah kebingungan itu aku teringat pada ulah Gandamana. Dari situlah aku punya gagasan untuk membuat sayembara. Aku seperti mendapat jalan untuk membalas dendam. Hambar sudah tapa ngrameku.” Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (90-96)”
Sunu Wasono
LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (84)
Di hadapan Kurawa dan Pandawa dua orang seperguruan itu saling bertukar pengalaman setelah sekian lama tak bertemu. Semua yang ada di sekitar mereka menyimak. “Seharusnya kita bisa berbincang lama pada waktu Kakang ke Pancalaradya. Tapi tragedi itu membuat kita tak bisa berbincang lama-lama. Kakang pamit dalam keadaan masih sakit hati. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (84-89)”
Sunu Wasono
LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (77)
Ketika cerita tentang ‘Lenga Tala’ memasuki adegan penangkapan Gandamana, awak dihubungi Lik Mukidi via telepon. “Halo, di sini Mukidi, di situ siapa?”
“Ah, Lik Mukidi. Biasa saja, Lik. Pakai nanya begitu segala. Ada apa sih, Lik.”
“Jawab aku dulu, situ siapa?” Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (77-83)”
Sunu Wasono
LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (69)
“Kalau ada yang belum tahu atau tak ingat, kuingatkan bahwa semasa hidupnya Pandu berjasa pada dewa. Ketika kahyangan Suralaya diobrak-abrik para raksasa, Pandulah yang membereskan. Itulah sebabnya ketika dia meminjam Lembu Andini atas rengekan Madrim, setengahnya Pandu memaksa Batara Guru. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (69-76)”