LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (90-96)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (90)

Andaikata mereka tidak meributkan dan memperebutkan lenga tala, mungkin ide penyelenggaraan sayembara itu tak ada. Karena Kurawa, terutama Sengkuni dan Jaka Pitana, serta Pandawa sama-sama mengklaim bahwa mereka berhak atas kepemilikan lenga tala, aku jadi bingung. Di tengah kebingungan itu aku teringat pada ulah Gandamana. Dari situlah aku punya gagasan untuk membuat sayembara. Aku seperti mendapat jalan untuk membalas dendam. Hambar sudah tapa ngrameku.” Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (90-96)”

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (84-89)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (84)

Di hadapan Kurawa dan Pandawa dua orang seperguruan itu saling bertukar pengalaman setelah sekian lama tak bertemu. Semua yang ada di sekitar mereka menyimak. “Seharusnya kita bisa berbincang lama pada waktu Kakang ke Pancalaradya. Tapi tragedi itu membuat kita tak bisa berbincang lama-lama. Kakang pamit dalam keadaan masih sakit hati. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (84-89)”

Bahasa ยป