LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (97)

Sunu Wasono *

Sampai di luar, langkah Bima dihentikan Puntadewa. “Bima, mau ke mana kamu?”

“Kenapa pakai tanya segala, Pambarep? Apa selama pembicaraan di dalam kau tidur,” ujar Bima.

“Ditanya bukannya menjawab malah balik bertanya. Apa begitu caramu menghormati kakakmu yang lebih tua?”

“Tidak usah dibelokkan ke persoalan lain. Katakan langsung apa maumu,” tegas Bima.

“Jawab dulu pertanyaanku tadi, kamu mau ke mana?” Puntadewa kembali mengulang pertanyaannya.

“Aku mau melabrak perusuh dari Atas Angin. Sudah jangan tanya-tanya lagi.” Bima berusaha melewati hadangan Puntadewa, tetapi Puntadewa menahannya.

“Nanti dulu, jangan grusa-grusu. Soal labrak-melabrak, aku percaya pada kekuatanmu. Tapi kuminta nalarmu dipakai. Jangan okol yang kaupergunakan untuk mengatasi amuk mereka, tapi akal,” kata Puntadewa.

“Mohon Kakangmas Bima sabar dan berkenan mendengarkan penjelasan Kakangmas Puntadewa,” Pamadi ikut urun suara.

“Waaaaaaa, cepat katakan. Tidak usah berbelit-belit,” ujar Bima tak sabar.

“Kalian duduk dulu. Dengarkan kata-kataku.” Bima, Pamadi, dan Kembar menuruti perintah Puntadewa.

Setelah pada duduk, Puntadewa kembali membuka suara, “Kalian tahu bahwa Dangyang Durna sudah lama meninggalkan Atas Angin.”

“Iya, tahu. Tapi hubungannya apa dengan amuk mereka?” Bima langsung merespon kata-kata Puntadewa.

“Mereka datang ke Hastina atas utusan rajanya. Kalian tahu, rajanya adalah ayahanda dari Dangyang Durna. Pasti ia sangat merindukan putranya.”

“Paham. Selanjutnya apa. Cepat katakan.” Bima kembali menuntut penjelasan yang cepat.

“Sabar, Bima. Kita juga tahu bahwa Dangyang Durna belum bersedia pulang, bukan?” Bima dan yang lain memilih diam dan menunggu penjelasan berikutnya.

“Aku minta jangan sampai ada pertumpahan darah di Hastina dalam menghadapi kemarahan prajurit dari Atas Angin. Jangan sampai ada yang terluka. Jangan sampai ada yang dipermalukan,” tegas Puntadewa.

“Kata-katamu terkesan bijaksana, tapi hampir tak mungkin dapat dilaksanakan. Mereka harus dipukul mundur. Tidak ada jalan lain. Jangan terlalu lama berunding. Izinkan aku segera menuju medan perang,” desak Bima.

“Kukira benar kata-kata Kakangmas Bima,” ujar Pamadi. “Sebaiknya kita harus segera bertindak.”

“Nanti dulu. Dengarkan kata-kataku. Tak ada yang tak mungkin untuk dilakukan. Kekerasan tak akan menyelesaikan persoalan.” Puntadewa berusaha menenangkan adik-adiknya.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” kata Bima.

“Dengarkan dulu. Jangan kaupotong kata-kataku. Begini, kita temui mereka baik-baik. Kita jelaskan kepada mereka bahwa Dangyang Durna baik-baik saja.”

“Mana mungkin mereka percaya begitu saja,” sambar Bima.

“Jangan belum dicoba, sudah kau vonis.”

“Tapi Kurawa sudah lebih dulu menahan mereka. Apa kata mereka kepada kita. pastilah kita akan diejek dan dihina,” ujar Bima.

“Kaulihat sendiri sekarang. Lihat siapa yang lari terpincang-pincang itu.” Sejumlah prajurit Kurawa lari dan berteriak ketakutan.

“Lihat lagi yang di sebelah utara. Kurawa lari tunggang-langgang. Apakah kamu masih yakin bahwa Kurawa bisa mengembalikan mereka. Pasti Kurawa tanpa ba dan bu langsung main hantam. kepada prajurit Atas Angin. Seperti biasa, hasilnya nihil, bukan?”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Bima.

“Ikuti aku,” perintah Puntadewa.

Bima dan adik-adiknya mengikuti Puntadewa. Mereka tidak terlihat terburu-buru. Pandawa dengan langkah pasti menghampiri prajurit dari Atas Angin.

Bersambung…

*) Dr. Sunu Wasono. M. Hum. lahir di Wonogiri 11 Juli 1958. Taman SMAN Wonogiri tahun 1976, S1 di Jurusan Sastra Indonesia Fak. Sastra Universitas Indonesia (UI) tahun 1985, S2 di Program Pascasarjana UI (1999), dan S3 di Program Studi Ilmu Susastra FIBUI (2015). Sejak April 1987, staf pengajar di Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya UI, mengampu mata kuliah Sosiologi Sastra, Pengkajian Puisi, dan Penulisan Populer. Tahun 1992 (6 bulan) menjadi dosen tamu di La Trobe University, Melbourne, Australia. Mulai Oktober 2016, menjadi Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya UI.

2 Replies to “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (97)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *