LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (84-89)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (84)

Di hadapan Kurawa dan Pandawa dua orang seperguruan itu saling bertukar pengalaman setelah sekian lama tak bertemu. Semua yang ada di sekitar mereka menyimak. “Seharusnya kita bisa berbincang lama pada waktu Kakang ke Pancalaradya. Tapi tragedi itu membuat kita tak bisa berbincang lama-lama. Kakang pamit dalam keadaan masih sakit hati. Rupanya Kakang menyimpan dendam. Kuharap dendam itu padam hari ini. Dendam yang terus dipendam akan menjadi api di dalam sekam. Sesungguhnya aku tak ingin mengungkit persoalan itu, tapi karena Kang Durna sudah bertemu dengan adikku Gandamana, kukira kini telah tiba saatnya bagi Kakang dan Dimas Gandamana berdamai,” ujar Drupada.

Durna tak langsung menjawab. Ia perlu menata hatinya dulu agar bisa berbicara dengan baik di hadapan adik seperguruan yang ia cintai.

“Aku ingin sekali melupakan tragedi itu, tapi entahlah. Setiap kali teringat, aku seperti mendengar bisikan agar tidak memaafkan Gandamana. Di lubuk hati seperti ada yang memberi tahu aku bahwa seharusnya peristiwa itu tak perlu terjadi kalau saja Gandamana mau mendengar kata-kataku. Selalu suara itu yang kudengar. Setelah kupikir-pikir, peristiwa itu terjadi memang karena kesombongan Gandamana. Andaikata Gandamana rendah hati, peristiwa itu tak perlu terjadi sehingga aku tak sakit hati,” balas Durna.

“Jangan dibalik. Peristiwa itu terjadi karena kesombongan kamu, Durna,” kata Gandamana.

“Apa? Yang menantang berkelahi duluan siapa?” Durna balik menuding Gandamana.

“Kamulah yang menantangku. Gaya bicaramu sengak dan terlihat meremehkan aku. Bagaimana aku tidak kesal?”

“Kamu yang tak mau mempertemukan aku dengan Drupada. Andaikata waktu itu kamu memberi kesempatan aku untuk bertemu, tak perlu aku berkelahi yang membuat tubuhku rusak seperti ini.”

“Jangan memutarbalikkan fakta. Waktu itu kamu bilang ingin bertemu Sucitra, bukan Drupada,” bantah Gandamana.

“Sekarang kutanya, apa bedanya Sucitra dan Drupada. Orangnya sama. Sekarang ada di sini. Jangan berkilah kamu.”

“Tapi waktu itu aku belum tahu kalau Kakangmas Drupada itu Sucitra. Kalau tahu, pasti aku persilakan masuk ke istana. Apalagi teman seperguruan. Kalau perlu kugelar karpet merah. Tapi masalahnya kamu justru berteriak-teriak. Seandainya caramu sopan, tak liar macam preman kelaparan, aku pasti segan. Kamu malah menantangku. Loh, Gandamana kok ditantang berkelahi. Ya ayo saja. Kapan saja. Sekarang pun kalau ditantang, aku siap.”

“Nah, bagaimana aku bisa menghapus dendam. Orangnya masih begini. Dia tak mengaku salah. Drupada mendengar sendiri, kan?”

“Orang tidak salah diminta mengaku salah bagaimana? Kamulah yang salah,” ujar Gandamana.

“Kamu yang salah, aku yang benar,” tuding Durna.

“Aku yang benar, kamu yang salah,” balas Gandamana.

“Stop. Stop. Kalau masing-masing merasa benar, persoalan ini tak akan pernah selesai,” ujar Drupada yang berusaha menengahi.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (85)

Drupada mencoba adil, berdiri di tengah, tidak condong ke Gandamana atau ke Durna. “Sekarang aku ingin bicara, kuminta Dimas Gandamana dan Kakang Durna bisa menahan diri. Tolong didengarkan dan dicerna baik-baik.”

“Bicaralah. Aku dengarkan,” kata Durna.

“Silakan, Kakangmas,” ujar Gandamana.

“Begini. Kuminta masing-masing berlapang dada dan menepikan hasrat mau menang sendiri dan mau benar sendiri. Lebih baik saling menyalahkan diri-sendiri daripada menyalahkan orang lain. Masing-masing harus sudi bermawas diri, berintrospeksi. Carilah kebenaran dan bukan kesalahan pada ucapan orang lain.”

Durna dan Gandamana menyimak dengan sungguh-sungguh. Pandawa dan Kurawa juga berusaha menyimak kata-kata Drupada.

“Dari perdebatan Kakang Durna dan Dimas Gandamana, sebetulnya boleh dikatakan bahwa dua-duanya benar sekaligus salah,” lanjut Drupada.

“Lanjutkan supaya aku paham apa maksudmu,” kata Durna.

“Tunjukkan di mana salah dan benarnya, Kangmas,” tegas Gandamana.

“Baiklah. Tolong disimak baik-baik. Aku tak mau kata-kataku ditafsirkan secara keliru. Sebetulnya, kunci permasalah Kakang Durna dan Dimas Gandamana itu terletak pada bahasa. Kakang Durna dan Dimas menggunakan bahasa yang sama, tapi tidak terhubung. Secara lahiriah keduanya berkomunikasi, tapi sesungguhnya tak terjadi komunikasi sebab masing-masing berpikir sendiri-sendiri. Yang satu ingin bertemu Sucitra dan satunya lagi berpikir bahwa Sucitra tak pernah ada. Tidak ada usaha dari keduanya untuk menjelaskan siapa Sucitra. Akibatnya, tidak ada dialog. Masing-masing bermonolog. Kalau saja dijelaskan Sucitra itu siapa dan yang mendapat penjelasan juga mau mendengar, konflik tak akan pernah terjadi,” ujar Drupada.

“Aku tak diberi kesempatan untuk menjelaskan,” Durna menyela.

“Kamu memang tidak berhasrat menjelaskan. Dari awal kamu tak menjelaskan. Kamu sibuk dengan gayamu yang petentang-petenteng, gembagus, berteriak-teriak,” balas Gandamana.

“Dengarkan aku dulu. Nah, di situ bahasa tidak dimaksimalkan fungsinya. Ketika keduanya diliputi nafsu amarah, fungsi bahasa seakan tunggal: hanya mengungkapkan kemarahan. Seharusnya tidak begitu. Bahasa itu identik pikiran dan perasaan. Kalau hati sudah terbakar dan pikiran kacau, maka yang keluar adalah kata-kata makian dan kalimat-kalimat tak bernalar. Sikap dan tindakan kita pun terbawa. Hal itu terlihat dalam bahasa tubuh kita. Misal petentang petenteng, memilin-milin kumis, mengepal-ngepalkan tangan, melotot, dan lain-lain. Aku tak akan memperpanjang uraian, nanti malah terkesan menggurui. Sekarang akuilah bahwa dalam diri kita ada keterbatasan. Pada titik tertentu, kita dikuasai oleh nafsu yang membuat nalar kita tidak bekerja dengan baik. Jika sudah demikian, ekspresi yang muncul adalah hasrat untuk mau menang sendiri, hasrat untuk merasa benar sendiri, hasrat untuk menguasai, hasrat untuk memiliki, dan sebagainya. Kalau semua itu melebihi takaran, kita jadi tamak, sombong, sewenang-wenang, sok kuat, sok berkuasa, dan sebagainya dan sebagainya. Itulah keterbatasan kita. Sepanjang hidup, kita berusaha dan berjuang dengan berbagai cara untuk meminimalkan keterbatasan itu.” Drupada berhenti sejenak.

“Setuju. Itu ajaran luhur yang disampaikan guru kita. Dalam perkara aku dengan Gandamana, solusi konkretnya bagaimana. Coba jelaskan,” ujar Durna.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (86)

“Baiklah. Aku tak mau berpanjang lebar membahas lagi. Intinya, tidak boleh grusa-grusu dalam melakukan sesuatu. Berpikirlah sebelum melakukan sesuatu. Jangan sebaliknya: bertindak baru berpikir. Ada pertimbangan logis dan etis dalam melakukan sesuatu. Maksud baik saja tak cukup untuk dijadikan landasan dalam bertindak. Cara bertindak tak kalah penting dengan maksud. Contoh konkretnya begini. Kakang Durna ingin menemuiku untuk melepas kangen setelah sekian lama berpisah. Siapa pun tak keberatan dengan maksud itu. Keinginan bertemu dengan teman lama itu, apalagi teman seperguruan, baik dan mulia. Namun, kalau cara menemuinya tidak tepat, tidak sesuai dengan adat kesopanan, misalnya bicara kasar, berteriak-teriak, mengejek, dan menantang orang yang diberi kepercayaan pihak yang akan ditemui, bisa jadi maksud baik itu ditanggapi tidak baik oleh pihak lain. Di situlah ‘cara’ tidak bisa dipandang remeh sebab dalam ‘cara’ terkandung dimensi etis yang bertautan dengan keadaban yang membedakan manusia dengan hewan. Tak hanya nalar yang membedakan kita dengan hewan, tetapi juga moralitas yang di dalamnya terdapat nilai-nilai. Aku yakin Kakang Durna sangat paham tentang ini. Jangan aku dipaksa untuk mengajari bebek berenang, jangan aku dipaksa mengajari penyair menulis puisi. Menurut wawasanku, Kakang Durna sudah waktunya mandhita, sudah saatnya menjadi seorang begawan, seorang guru yang mempunyai murid. Di sini sudah ada Pandawa. Kenapa mereka tidak diminta menjadi murid Kakang Durna saja?”

Durna mengangguk-angguk. “Terima kasih. Kamu memang waskita dan lantip, lebih dari sekadar pintar. Aku merasa beruntung hari ini. Tak sia-sia aku bertemu kamu di sini. Aku mendapat pencerahan. Soal madeg pandhita, sudah ada di benakku. Setelah aku selesai tapa ngrame, aku berniat menjadi pendeta, entah di mana tempatnya. Tapi aku tak mau mencari murid. Biarlah murid yang mencari guru. Setelah menyimak kata-katamu, aku pun sadar bahwa ada yang salah dalam tindakanku selama ini. Jelas ada yang salah dari tindakanku di alun-alun Pancalaradya pada waktu itu.”

“Kalau Kakang Durna berlapang dada dan berluas hati, mestinya bisa mengakui bahwa sikap dan tindakan Kakang Durna pada waktu itu ada salahnya,” ujar Drupada.

“Kau bilang ada salahnya. Berarti apa yang aku lakukan tak sepenuhnya salah karena ada benarnya. Aku ingin tahu, letak benarnya di mana?” Kembali Durna menguji Drupada.

“Pada keinginan kuat untuk bertemu teman lama dan seperguruan itu. Mulia sekali keinginan Kakang Durna. Kakang tidak melupakan teman lama. Berhari-hari menempuh perjalanan jauh “hanya” untuk menemui saudara seperguruannya itu merupakan tindakan mulia. Dengan cara itu Kakang ingin menjaga solidaritas dan ikatan pertemanan. Mengunjungi teman itu merupakan bentuk silaturahmi. Apa yang Kakang lakukan itu baik dan benar,” ujar Drupada.

“Aku bisa menerima penjelasanmu, tapi rasanya tidak adil kalau tidak ada catatan buat Gandamana. Sebelumnya kau bilang aku dan Gandamana benar sekaligus salah. Coba jelaskan. Aku ingin mendengar penjelasanmu.

Letak salah dan benarnya Gandamana di mana.”

“Dimas Gandamana, tolong dicamkan kata-kataku,” kata Drupada sambil menoleh ke arah Gandamana.

“Dari tadi Dinda menyimak kata-kata Kangmas.”

“Kakang Durna, Dimas Gandamana ini sosok pribadi yang lurus. Cara pandangnya hitam-putih, seakan isi hidup ini hanya dua: baik-buruk, benar-salah, halus-kasar, pelit-loma, dan sebagainya. Kalau ada tamu yang menurut adat dan tatakrana dirasa tidak sesuai stau tidak sopan, akan dia tolak. Kalau tamunya ngeyel, dia gebuk. Orang seperti ini tak bisa menerima kecurangan, tak bisa dilukai hatinya. Itulah sebabnya ketika ia difitnah Sengkuni, tanpa pikir panjang dihajarnya Sengkuni. Kuharap Sengkuni mendengar kata-kataku. Sengkuni, benar tidak kata-kataku?”

Sengkuni tak malu-malu mengakui. “Seratus untuk Prabu Drupada,” katanya. “Aku akui. Sejujurnya aku memang memfitnah Gandamana,” imbuhnya.

“Kenapa perbuatan tercela itu kamu lakukan?” tanya Drupada lagi.

“Kalau tidak kulakukan, selamanya aku tak akan jadi patih di Hastina. Lagipula aku tak menganggap perbuatanku tercela. Bagiku, fitnah itu kiat, taktik, bahkan seni menjatuhkan seseorang untuk merebut jabatan dan kekuasaan,” tegas Sengkuni.

Pandawa menunjukkan ekspresi wajah tidak suka. Sebaliknya, Kurawa menunjukkan sikap pro Sengkuni. “Betul!” Mereka berteriak serempak.

Gandamana bergetam, tapi segera diperingatkan Drupada dengan bahasa isyarat.

Drupada juga tak mengira bahwa Sengkuni berkata seperti itu. Tapi ia tidak terpancing provokasi Sengkuni.

“Ya, aku tahu siapa kamu, Sengkuni. Itu hakmu dan duniamu. Aku tak mau mencampuri urusanmu. Lagi pula topik pembicaraan saat ini bukan Sengkuni. Aku ingin kembali ke soal semula. Jadi, sekali lagi adikku Gandamana itu hanya mengenal dua ukuran: salah atau benar, sopan atau tidak. Pada waktu itu, cara yang ditempuh Kakang Durna dianggapnya salah dan tidak etis. Mau bertamu dan bertemu dengan teman lama kok caranya berteriak-teriak, bahkan menantang pula. Gandamana langsung meladeni Kakang Durna. Tak hanya itu, ia menghancurkan tubuh Kakang Durna sebagaimana ia menghancurkan tubuh Sengkuni. Tindakan Gandamana ini jelas grusa grusu dan merugikan orang lain. Di situ letak kesalahannya, padahal sebelum keluar dari istana ia sudah kuwanti-wanti agar menyelesaikan ulah orang gila di alun-alun itu dengan bijaksana. Maaf Kakang Durna, pada waktu itu laporan yang kuterima dari prajurit mengatakan bahwa di alun-alun ada orang gila yang berulah. Aku meminta Dimas Gandamana menyelesaikannya dengan sikap welas asih dan bijaksana. Bukankah begitu, Dimas Gandamana?”

“Sepenuhnya benar,” jawab Gandamana jujur.

“Kenapa baru sekarang aku tahu duduk persoalannya. Coba kalau pada waktu itu situasi dan kondisinya begini, tak perlu ada yang tersakiti. Tapi apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Tak ada guna memperpanjang penyesalan dan persoalan. Sekarang aku dan Gandamana harus bagaimana?” Ujar Durna.

“Tak ada yang lebih baik daripada berdamai dan saling memaafkan,” tegas Drupada.

Akhirnya, Durna dan Drupada sepakat berdamai dan saling memaafkan. Kurawa membubarkan diri, kecuali Sengkuni dan Jaka Pitana. Sementara itu Pandawa, Gandamana, Durna, dan Drupada masih bertahan karena masih ada sesuatu yang akan mereka bicarakan.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (87)

Masih ada satu hal yang ingin ditanyakan Prabu Drupada kepada Durna, yaitu tentang tapa ngrame.

“Tadi disebut-sebut perihal tapa ngrame. Rasanya aku belum mendapat penjelasan banyak tentang itu. Ceritanya bagaimana Kakang Durna sampai di Hastina. Apa kedatangan di Hastina ini merupakan bagian dari laku tapa ngrame itu. Bisa dijelaskan, Kakang.”

“Benar. Aku datang ke sini mengikuti nasihat guru. Terlalu panjang kalau kuceritakan. Kusampaikan intinya saja. Setelah aku tinggalkan Pancalaradya waktu itu, aku bertekat untuk menambah ilmu. Mungkin niatku didorong oleh sakit hatiku karena telah dipecundangi Gandamana. Dalam keadaan badan remuk aku datangi bapa Rama Parasu. Aku pun berguru kepadanya. Banyak yang kudapatkan dari beliau, terutama ilmu memainkan senjata. Selesai belajar, aku harus menjalani tapa ngrame. Mulailah aku mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Tibalah aku di wilayah Hastina, bertemu dengan Pandawa dan Kurawa yang sedang menghadapi masalah dengan lenga tala. Kutawarkan bantuan kepada mereka. Setelah lenga tala kuentaskan dari sumur tua itu, aku minta bebana atau syarat kepada mereka. Siapa pun yang bisa membawa Gandamana ke hadapanku dalam keadaan terikat tangannya berhak mendapatkan lenga tala. Nyatanya yang sanggup menangkap Gandamana adalah Pandawa. Karena itu, lenga tala aku serahkan kepada Pandawa. Setelah itu, kamu tahu sendiri apa yang terjadi. Tak baik diceritakan lagi sebab aku dan Gabdamana sudah berdamai. Begitu cerita singkatnya.” Durna mengakhiri cerita tentang dirinya.

“Oalah begitu kisahnya. Boleh aku memberi catatan singkat, Kakang Durna?” Ujar Drupada.

“Dengan senang hati. Silakan.”

“Terima kasih. Sebelumnya aku minta maaf bila dalam memberi catatan ini ada kata-kataku yang tak berkenan di hati Kakang Durna.”

“Tak usah begitu. Katakan saja apa adanya. Kita sudah lama saling mengenal, bukan?” Durna mencoba mencairkan kekikukan Drupada. “Kiranya kamu telah tahu luar-dalamnya aku. Ayo, katakan saja kalau memang ada kritik atau sesuatu yang mengganjal,” ujar Durna lagi.

“Sebetulnya tak ada yang istimewa. Apa yang ingin aku sampaikan masih tentang tapa ngrame. Hanya jangan sampai aku terkesan menggurui Kakang Durna ketika aku berbicara tentang tapa ngrame. Itulah sebabnya aku minta maaf dulu sebelum aku menyinggung tapa ngrame.”

“Sudahlah. Jangan ewuh pekewuh. Katakan apa yang memang ingin kaukatakan.” Durna meyakinkan Drupada.

Semua yang berada di sekeliling Durna dan Drupada menanti kata-kata Drupada dengan penuh tanda tanya: sebetulnya apa yang ingin dikatakan Drupada. Bukankah hanya tentang tapa ngrame, tapi kenapa mesti ada pengantar panjang? Adakah hal lain yang begitu penting di balik persoalan tapa ngrame itu? Begitu antara lain pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di benak mereka.

Drupada belum juga membuka percakapan. Semua menanti. Tampaknya Drupada sulit menemukan diksi yang tepat untuk memulai.

“Drupada, kamu tak sedang menulis puisi, bukan?” tanya Durna.

“Oh, maafkan. Sebentar.”

“Kenapa begitu lama? Apa hanya aku yang boleh tahu dan boleh mendengar kata-katamu? Bila itu maumu, mereka kita persilakan menyingkir dulu agar kamu leluasa berbicara.”

“Sama sekali tidak, Kakang. Mereka justru harus mendengar agar dapat memetik pelajaran,” tanggap Drupada.

“Baiklah. Kalau begitu, mulailah bicara. Apa pun kritikmu kepadaku, akan kuhargai. Bicaralah.”

Pernyataan Durna yang terakhir itu mendorong keberanian Drupada untuk mengatakan yang ada di pikirannya. Dipandangnya orang-orang di sekelilingnya yang sudah terlihat tak sabar menanti kata-katanya. Mulailah Drupada mengungkapkan apa yang ada di benaknya.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (88)

Baru awak mau menuliskan kata-kata Drupada, Lik Mukidi menelepon. Ini jelas isyarat akan adanya gangguan. “Halo! Selamat pagi. Di sini Mukidi. Dapatkah aku minta waktu sebentar untuk menyampaikan sesuatu yang amat penting? Halo. Terdorong oleh niat baik dan keinginan luhur demi terciptanya masyarakat yang sehat dan madani, aku ingin bicara, ingin menyampaikan informasi yang mudah-mudahan bermaslahat. Di sini Mukidi, ingin bicara. Halo!”

Hadeeuh. Mulai ngaco Lik Mukidi. Kalau pembukaannya macam itu, biasanya ia akan bikin perkara.

“Halo! Di sini Mukidi. Ha..”

“Halo, Lik. Kenapa memakai bahasa formal segala. Ada apa, Lik?”

“Kaukah itu?”

“Iya, Lik. Ini keponakanmu. Bisa dilihat fotonya. Ada apa sih, Lik?”

“Aku ingin bicara.”

“Silakan, Lik. Mohon jangan lama-lama. Saya juga lagi didesak Drupada untuk segera menyampaikan kata-katanya. Maaf ya, Lik.”

“Memangnya siapa dia. Berani-beraninya mendesak kau.”

“Drupada di ‘Lenga Tala’ Lik.”

“Haaa. Kalau dapat minyak urut, jangan lupa bagi-bagi.”

Waduuhhh. Jangan-jangan Lik Mukidi lagi mendem. “Lik, lenga tala bukan minyak urut. Itu cerita yang terus berproses. Cerita Lenga Tala, Lik.”

“O, I see. I see. Cerita ‘Lenga Tala’. Ada apa dengan cerita kau yang tak bermutu itu. Ha ha ha.”

Rasanya awak ingin mematikan telepon saja, tapi takut kualat. Biar tingkahnya macam itu, kata-kata Lik Mukidi kadangkala bertuah. Aura tubuhnya juga bagaimana gitu. Awak jadi takut, tapi kalau begini terus, mana tahan.

“Saya lagi melanjutkan cerita. Drupada minta saya segera menuliskan kata-kata dia. Katanya, Durna dan yang lain, termasuk pembaca, sudah kelamaan menunggu Drupada bicara. Ini penting. Mohon Lik Mukidi tak lama-lama bicara, ya.”

“Oh, sebuah nama yang cantik. Pasti orangnya juga cantik. Bisa diceritakan sosok Supraba itu macam mana orangnya. Dalam bayanganku, dia cantik dan seksi habis.”

Hadeeuuh. Bagaimana ini. “Drupada Lik, bukan Supraba. Dru, de er u, bukan Su, es u.Drupada!” Awak berteriak. Saking kerasnya, tukang sayur yang lagi mendorong gerobaknya berhenti di depan rumah. Celaka. Awak dikira ingin membeli dagangannya.

“Lik, Drupada. Drupada. Drupada.”

“Haaaa. Iya. Drupada. Kenapa yang ada di pikiranku perempuan terus ya. Drupada jadi Supraba. Ha ha ha.”

“Istigfar, Lik. Jangan urusan itu saja yang ada di pikiran.”

“Apa yang kau maksud?”

“Ah, pura-pura. Tadi bilang seksi habis. Hayo. Maksudnya apa itu. Pikiran Lik Mukidi ngelayap ke mana-mana. Ingat, tubuh sudah bau tanah, Lik.”

“Normallah. Kaupikir aku sudah loyo. Tak usah ya.”

“O, tidak. Lik Mukidi tetap lelaki perkasa. Super perkasa tiada tara,” kata awak memuji.

“Nah, begitu dong. Aku hanya ingin mengingatkan kau.”

“Ada apa, Lik?”

“Kau jangan kelayaban ke mana-mana. Covid 29 masih merajalela. Jatuh korban di mana-mana. Sebentar lagi akan diberlakukan PSBB di DKI. Daerah kau itu berada di zona merah. Jangan macam-macam. Kau contoh aku. Tak usah banyak alasan. Macam orang hebat saja kau. Kalau dinasihati, malah ganti menasihati. Sekali lagi, contoh aku. Sampai hari ini aku masih di rumah saja. Meski mulut Bulik kau manyun saja, aku bertahan di rumah.”

“Hanya itu, Lik. Saya sudah paham. Saya sudah tahu. Saya pikir Lik Mukidi mau bicara soal yang amat penting.”

“Apa kata kau? Itu penting. Jangan kauanggap remeh-temeh. Jutaan orang terbunuh oleh covid 19. Mau bukti apa lagi kau.”

“Iya, sudah tahu, Lik. Tak usah lebaylah.”

“Tahu tapi tak menjalankan. Percuma. Kalau sudah tahu, kenapa masih kelayaban, cari tanaman, nyoba tongseng ini, nyoba sate itu, cari bakmi godok ini, cari gulai kikil di rumah makan itu. Macam orang kaya saja kau ini. Ingat utang kau masih banyak tuh. Kelayaban terus. Bahaya itu. Di rumah. Titik.”

“Iya, Lik. Sebetulnya kirim pesan via WA sudah cukup. Sejujurnya, gara-gara telepon sampeyan, Drupada jadi ngambek. Saya harus membujuknya agar mau berbicara sehingga saya bisa menuliskan. Kalau dia terus ngambek, lalu Durna ikut-ikutan, dan Sengkuni menyebar fitnah ke mana-mana dengan halusinasinya tentang people power serta memprovokasi Kurawa untuk memboikot ‘Lenga Tala’ , bisa celaka. Cerita bukan hanya jadi tak lancar, tapi macet cet, tak bisa tuntas tas, Lik. ”

“Belagu amat Drupada. Bilangi, jadi tokoh rekaan jangan belagu. Dia belum pernah merasakan jadi manusia sih. Mana dia tahu bahaya virus corona? Disela begitu saja ngambek. Bilang padanya bahwa Lik Mukidi tak suka.”

“Baik, Lik. Apa lantaran tak suka dengan Drupada, Lik Mukidi lebih senang dan ingin menjadi Sengkuni, atau kalau tidak, barangkali mau titip salam untuknya saja.”

“Bajirut. Aku disamakan Sengkuni? Sontoloyo. Kirik burik. Tak akan pernah.”

“Kok tidak bilang anjay, Lik. Ha ha ha. Masih ada lagi yang ingin dikatakan, Lik?”

“Ah, macam-macam kau. Anjay bukannya mahasiswa kau yang dari India itu. Kenapa aku harus bilang anjay? Macam-macam saja.”

“Maaf. Sekadar bercanda. Ada lagi pesan untuk Drupada, Lik?”

“Bilang pada Drupada, tak usah dia sok bijak. Biasa saja.”

“Dia memang bijak, Lik. Bukan sok bijak. Tapi omong-omong, Lik Mukidi tadi bilang bahwa Bu Lik manyun saja mulutnya. Kenapa, Lik?”

“Biasalah. Orang kalau di rumah saja, bawaannya ingin begitu terus. Dia kesal. Ditambah-tambah sepi order. Sekarang makin jarang yang minta diterawang nasibnya. Bikin rumah, bikin saja. Tak mau tanya dulu bagaimana sebaiknya. Mau gali sumur juga tak bertanya dulu ke wong pinter. Mau pergi jauh juga tak bertanya dulu nahas tidaknya. Mereka tidak tahu naga dina naga pati. Main pergi begitu saja. Akibatnya, aku sepi order. Pemasukan juga sepi. Bulikmu uring-uringan. Setiap kali kutanya butuh nafkah batin tidak, jawabnya tak mengenakkan. Nafkah lahir saja tak dipenuhi, bagaimana nafkah batin? Begitu katanya. Puyenglah aku.”

“O, pantesan di awal percakapan tadi sepertinya otak Lik Mukidi eror.”

“Apa?”

“Maaf, maaf. Bercanda, Lik. Rasanya sudah cukup ya Lik. Masih ada lagi yang ingin dikatakan, Lik?”

“Cukup. Lanjutkan cerita kau itu. Aku tetap membaca cerita kau meski tak bermutu.”

“Terima kasih.”

Alhamdulilah, akhirnya awak bisa mengakhiri percakapan Lik Mukidi dengan baik. Moga setelah makan siang nanti awak bisa menyampaikan kata-kata Drupada yang tertunda sementara.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (89)

“Ada satu hal yang ingin kutanyakan kepada Kakang Durna, yaitu tentang tapa ngrame. Tadi sudah dikatakan bahwa setelah selesai berguru, Kakang Durna melakukan tapa ngrame. Karena tapa itu, Kakang Durna tiba di Hastina. Di sini, di telatah Hastina ini, Kakang membantu Pandawa dan Kurawa yang sedang susah karena lenga tala yang mereka inginkan jatuh ke sumur. Dengan keahlian yang dimiliki, Kakang Durna berhasil mengambil lenga tala tanpa ada setes pun yang jatuh. Betul begitu, Kakang Durna,” tanya Drupada.

“Betul. Memang itu yang terjadi,” ujar Durna. Mereka yang berada di sekeliling Durna memperkuat pengakuan Durna dengan menganggukkan kepala.

“Tapi setelah lenga tala terambil, Kakang Durna tidak segera menyerahkan kepada yang berhak menerima.”

“Memang demikian. Apa masalahnya?”

Tanya Durna.

“Ingat Kakang,” kata Drupada. “Kakang Durna sedang menjalani tapa ngrame.”

“Tidak salah. Memangnya kenapa?”

“Kalau lupa, kuingatkan, Kakang. Tak boleh ada pamrih dalam tapa ngrame. Esensi tapa ngrame adalah keikhlasan. Ikhlas dalam memberikan pertolongan kepada siapa pun yang sedang mendapat kesusahan tanpa syarat apa pun. Dalam hal ini berlaku ungkapan ‘sepi ing pamrih rame ing gawe’. Tapa ngrame itu murni kerja sosial, bakti sosial, kerja kemanusiaan, tanpa dimuat-bebani oleh kepentingan apa pun, termasuk kepentingan politik dan kepentingan pribadi. Tak boleh ada aksi tebar pesona supaya orang lain terpana lalu memberikan tepuk tangan dan sanjungan. Tak boleh ada motif pencitraan di situ. Setelah Kakang ‘menyihir’ publik dengan kepiawaian Kakang memainkan senjata, khususnya panah, kenapa Kakang Durna menyelenggarakan sayembara? Setelah Kakang Durna “gawe pengeram-eram”, kenapa Kakang menciptakan keonaran yang menyeramkan? Bayangkan, Kakang minta orang mengeroyok dan merangket orang lain. Lalu di hadapan orang banyak, Kakang melakukan penganiayaan. Ini merendahkan martabat orang, melucuti harga diri, Kakang. Lalu di mana ruh tapa ngramenya? Bukankah itu pamrih, Kakang?”

“Sayembara apa?” Durna menyela. Tampaknya ia belum mencerna sepenuhnya kata-kata Drupada. Terbukti dari reaksi spontannya itu. Segitu banyak hal yang diutarakan Drupada, hanya kata “sayembara” yang tersangkut di benaknya.

“Apakah Penangkapan Gandamana yang Kakang jadikan syarat memperoleh lenga tala bukan merupakan bentuk sayembara? Bukankah Kakang menyatakan bahwa barang siapa bisa menangkap Gandamana dan membawanya ke hadapan Kakang Durna dalam keadaan tangan terikat, dia akan mendapatkan lenga tala. Apakah itu bukan sayembara? Dengan pernyataan itu Kakang mencederai tapa ngrame yang sedang Kakang jalani. Belum lagi kalau dikaitkan dengan status kepemilikan lenga tala itu sendiri. Bagaimanapun Kakang Durna hanya berhak mengambilkan, bukan mengambil. Dengan membuat sayembara itu, seolah-olah Kakang memiliki lenga tala. Dilihat dari berbagai segi, Kakang jelas salah meskipun barangkali tindakan itu dilakukan tak sengaja.”

Durna shock seketika. Ia tak menyangka bahwa apa yang dilakukannya ternyata salah besar. Ia menyesali perbuatannya. Dihampirinya Drupada. Sambil merangkul Drupada, Durna pun berujar, “Kamu yang lebih muda ternyata justru lebih matang dan dewasa dalam menyerap dan menerapkan ilmu yang sama-sama kita pelajari. Tak kusangka sedalam dan sekental itu penghayatanmu, Drupada. Kamu jauh lebih peka dan halus budimu. Sedih hatiku. Kenapa aku masih menghamba hawanapsu. Aku telah gagal menjalani tapa ngrame.”

“Tak usah sesedih itu, Kakang. Selalu tersedia kesempatan bagi siapa pun yang khilaf untuk memperbaiki diri,” hibur Drupada.

“Dendam kesumatlah yang membuat aku tak bisa menguasai diri,” ujar Durna.

“Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, Kakang. Ada faktor lain yang kukira ikut mendorong Kakang Durna membuka sayembara.”

“Bisa disebutkan agar jelas. Konkretnya faktor lain itu apa?”

“Ada berapa pihak yang menginginkan lenga tala?”

“Oh iya, saat lenga tala sudah berada di tanganku, Sengkuni dan anak buahnya mendesakku agar menyerahkan lenga tala itu kepada mereka. Di lain pihak, Pandawa juga menginginkan. Dari situlah muncul hasratku untuk menjadikan lenga tala itu sebagai alat untuk membalas sakit hatiku pada Gandamana. Nah, kalau begitu, aku tak bersalah.”

“Tetap salah, Kakang. Subjeknya tetap Kakang Durna. Kalau subjek pelaku tak mudah terbawa arus, peristiwa itu tak akan pernah terjadi.”

“Oh, iya juga.”

“Aku hanya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya pertentangan Pandawa-Kurawa itu ikut memberikan andil dalam kekhilafan Kakang Durna.”

Durna mengangguk-angguk. Sementara Sengkuni dan Jaka Pitana gelisah. Pandawa mencoba tenang. (Bersambung)

2 Replies to “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (84-89)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *