LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (69-76)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (69)

Kalau ada yang belum tahu atau tak ingat, kuingatkan bahwa semasa hidupnya Pandu berjasa pada dewa. Ketika kahyangan Suralaya diobrak-abrik para raksasa, Pandulah yang membereskan. Itulah sebabnya ketika dia meminjam Lembu Andini atas rengekan Madrim, setengahnya Pandu memaksa Batara Guru. Ia berdalih bahwa dirinya sudah berjasa kepada dewa sehingga wajarlah kalau ingin meminjam sejenak Lembu Andini buat berbulan madu dengan istri mudanya, Madrim. Rasa cintanya kepada Madrim membuatnya kurang bijaksana dalam sikap dan perilaku. Tapi sudahlah, persoalan itu tak usah diungkit lagi. Bukankah aku sudah menceritakan panjang lebar sebelumnya. Sekarang aku akan fokus pada satu hal yang terkait dengan pesan Pandu kepadaku.”
“Apa tidak sebaiknya langsung saja ke inti masalah, Sinuhun?” sela Gendari.
“Justru sekarang ini sedang mau ke inti masalah, tapi karena kamu potong, aku jadi lupa mau bilang apa.”
“Sekadar mengingatkan, Kakang Adipati akan menyampaikan pesan swargi Kakangmas Pandu,” ujar Yamawidura.
“Nah, begitu. Terima kasih Dimas Yamawidura. Begini. Tak bisa dipungkiri, bagaimanapun Pandu mempunyai jasa dan andil dalam menenteramkan Kahyangan Suralaya. Karena besar jasa dan andil itulah Pandu mendapat ganjaran berupa pusaka dari dewa. Salah satu pusaka yang diberikan kepadanya adalah pusaka lenga tala. Namanya juga lenga, wujud pusaka ini berupa minyak.”
Sengkuni bergumam pada diri sendiri. ‘Boleh juga kalau ternyata minyaknya bisa dipakai untuk menghitamkan rambutku yang mulai beruban ini.’
(Ingin menambah lagi, tapi awak harus antar anak dulu ke stasiun. Stop dulu sampai di sini pembaca yang budiman. Nanti setelah pulang dari stasiun, awak lanjutkan ceritanya).

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (70)

Maksud hati, begitu sampai di rumah, ingin segera melanjutkan penulisan cerita “Lenga Tala” , tak tahunya ada Lik Mukidi.
“Sudah lama Lik?”
“Baru saja. Belum sepuluh menit,” jawab Lik Mukidi.
“Dari Wonogiri naik apa?”
“Keretalah. Mau pakai apa lagi.”
“Lik Mukidi negatif kan?”
“Maksudnya?”
“Kena covid 19 tidak?”
“Alhamdulilah segar bugar. Dari nada bicara kau, sepertinya kau berharap aku kena covid 19.”
“Jangan sensi begitulah,” kata awak sambil ingin mengajak Lik Mukidi berjabat tangan. Tapi dia menolak berjabat tangan.
“Tak usah salaman. Nanti kau tertular covid dari aku.” Wajah Lik Mukidi tambah masam.
Ndilalah di rumah lagi tak ada apa-apa. Maklum tanggal tua. Biasanya kalau tanggal tua awak bokek. Cuma keripik singkong dan pisang tanduk rebus adanya. Mana pisangnya terlalu matang pula. Untung Lik Mukidi tak nyinyir dan tak nyindir.
“Maaf, Lik.”
“Sensi itu makanan apa sih?”
“Sensi itu kependekan dari sensitif, Lik.”
“Bicara sama orang tua itu pakai bahasa biasa saja. Macam-macam. Tak usah kuatir. Aku cuma mampir sebentar. Mau lanjut ke Kedung Halang, menengok Yu Sainah. Kalau ada waktu, ingin ke Bogor. Ingin berkenalan dengan Pak Cunong Nunuk Suraja. Aku suka baca komentar dia di status fb-mu.”
Lik Mukidi pun bercerita tentang pengalamannya selama semalam di kereta. Katanya di kereta ia mendapat kenalan seorang perempuan yang senang politik. Tapi karena Lik Mukidi kurang suka dan kurang paham tentang politik, ia lebih banyak mendengar. Berjam-jam ia menjadi pendengar. Katanya capek dan kurang tidur. Untung perempuan itu cantik dan seksi sehingga meskipun bosan mendengar kata-katanya, tak bosan menatap matanya yang indah dan bibirnya yang ranum. Awak dengarkan cerita Lik Mukidi dengan saksama. Cerita biasa, tak ada yang istimewa. Mungkin karena awak sudah tua, mendengar cerita tentang perempuan yang cantik dan semok sudah tak tertarik lagi. Kalau kejadiannya sepuluh tahun yang lalu, akan lain ceritanya. Boleh jadi awak tertarik pada cerita macam itu. Tapi sekarang tak lagilah. Dalam bahasa vulgarnya, hasrat birahi awak boleh dibilang sudah padam. Sejujurnya awak malah lebih tertarik dengan cerita tentang keinginan Lik Mukidi untuk bertemu Pak Cunong. Ini menjadi pertanyaan awak. Untuk itu, perlu digali lebih lanjut. Kelihatannya Lik Mukidi serius. Ia juga ingin bermain ke rumah Kang Maman S Mahayana dan Bang Yahya Andi Saputra. Beberapa nama penyair perempuan juga dia sebut-sebut. Tak apa-apa sih, cuma masalahnya awak takut diminta mengantar ke sana kemari. Bukan apa-apa. Hari ini banyak yang harus awak kerjakan. Awak bisa kehilangan waktu sehari penuh.
“Aku tak mau merepotkan kau. Jangan kuatir. Aku bisa jalan sendiri. Aji panglimunanku masih mujarab. Aku juga masih bisa komunikasi secara telepatif dengan siapa pun. Nanti kalau aku sudah tiba di rumah Yu Sainah, aku bisa komunikasi secara batin dengan orang-orang yang akan kutemui.”
Waduh. Lik Mukidi mulai masuk ke dunia lain. Seram. Awak tak mau diajak bicara tentang lelembut. Repot kalau Lik Mukidi sudah masuk ke jagat itu. Karena itu, harus awak belokkan. “Diseruput kopinya, Lik. Itu kopi luwak Cisadon. Asli, Lik. Luwak pemetiknya luwak hutan. Rasa kopinya lain,” ujar awak.
“Benar kata kau. Enak. Beda banget rasanya dengan kopi lain. Apalagi dibandingkan dengan kopi sasetan.”
“Alhamdulilah. Cuma ada keripik singkong, Lik. Lagi bokek. Ha ha ha.”
“Tak apa-apa. Ini juga sudah cukup karena kopinya mantap,” puji Lik Mukidi.
“Omong-omong, apakah ada yang perlu kita bicarakan, Lik. Bukankah kampung halaman baik-baik saja.”
“Alhamdulilah. Kampung kita aman dan sejahtera. Aku mampir ke sini cuma mau tanya sedikit tentang cerita yang sedang kau tulis. Semalam di kereta, sambil mendengarkan perempuan di sampingku yang nerocos bicara, iseng-iseng aku baca cerita “Lenga Tala”-mu. Tapi omong-omong, yang aku duduki ini bukannya kursi dari kampung. Ini kursi di rumah Kang Marto Tukiyo. Aku kalau ngobrol dengan mbakyu Lasiyem–ibumu itu–duduk di atas kursi ini. Lah, itu lemari yang di rumah utara. Kang Marto dulu kalau menyimpan keris di lemari itu. Kapan barang-barang ini datang?”
“Tiba di sini seminggu yang lalu. Diangkut dengan truknya Mas Suduk Gawe Gawe. Daripada di kampung tak ada yang merawat, dengan seizin kakak-kakak tinggalan orang tua saya bawa ke sini, Lik. Saya rawat juga keris bapak.”
“Bagus. Sudah tepat itu. Siapa lagi yang akan merawat kalau bukan anak ragilnya.”
“Terima kasih. Kembali ke soal cerita ‘Lenga Tala’. Apa yang ingin Lik Mukidi permasalahkan?”
“Oh ya, rasanya ada yang ganjil dan tak masuk akal pada cerita kau itu.”
“Di bagian yang mana, Lik?”
“Itu lho. Masak Pandu bisa dipindahkan dari neraka ke surga. Bagaimana bisa. Tak masuk akal.”
“Ha ha ha. Lik Mukidi lupa ya. Saya sudah pernah menjelaskan bahwa ‘Lenga Tala’ ini fiksi. Di fiksi segala kemungkinan bisa. Di cerita rekaan apa saja bisa terkatakan. ‘Lenga Tala’ itu fiksi, bukan kitab suci. Soal masuk akal atau tidak, kembali ke esensi fiksi yang di dalamnya penuh imajinasi dan fantasi. Di fiksi berlaku logika sendiri. Jika dipikir, mana bisa orang ambles ke perut bumi macam Antasena atau terbang macam Gatutkaca. Sejak kecil Lik Mukidi sudah akrab dengan cerita wayang. Kehebatan tokoh-tokoh itu kita terima begitu saja kan. Kita lebur dan terhanyut pada cerita. Lha kok sekarang dipermasahkan. Santai saja. Sekali lagi ‘Lenga Tala’ cuma cerita.”

Awak panjang lebar menceramahi Lik Mukidi tentang fiksi. Awak sebut dan kutip saja pernyataan sejumlah pakar sastra agar terkesan bahwa awak memahami hakikat fiksi. Di hadapan Lik Mukidi awak harus seolah-olah tahu banyak tentang fiksi. Lik Mukidi mengangguk-angguk. Sepertinya dia percaya bahwa awak ahli sastra. Dia tak tahu bahwa awak tak tahu apa-apa tentang sastra. Dia tak menyadari bahwa sesunghuhnya awak sama awamnya dengan dia.
“Tadinya aku mau protes dan minta kepada kau agar kau mau menghapus sebagian dari cerita kau yang tak masuk akal itu. Tapi setelah mendengar penjelasan kau, aku tak jadi protes.”
“Terima kasih atas pengertian Lik Mukidi. Jadi, tak ada perdebatan pagi ini, Lik?”
“Kalau tak ada yang perlu diperdebatkan, kenapa harus dipaksakan? Santai saja.”
“Kesimpulannya, Lik?”
“Lanjutkan ceritanya. Aku pamit. Asalamualaikum.”
“Wasalamualaikum.”
Hampir tak terlihat kelebatnya. Lik Mukidi melesat dan raib begitu saja. Tahu-tahu sudah tidak ada. Sama sekali tak ada jejaknya. Gila. Lik Mukidi rupanya benar-benar menggunakan ajian panglimunan.
“Halo. Aku sudah di rumah Yu Sainah ini. Terima kasih. Keripik singkongnya gurih. Pisang rebusnya juga mantap.”
Baru awak mau merespon Lik Mukidi yang berbicara via telepon, dari seberang sana Lik Mukidi sudah mematikan teleponnya. Edan. Tak habis-habis keheranan awak. Ternyata dua bungkus keripik singkong dan pisang rebus pun ludes. Habis, tanpa sisa. Awak baru sadar. Gila. Edan. Lik Mukidi, top Lu!

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (71)

Destarata melanjutkan kata-katanya, “Ketika lenga tala itu diserahkan kepadaku, Pandu berpesan begini: ‘Kakangmas Destarata, tolong pusaka ini diserahkan kepada anak-anakku ketika mereka sudah dewasa.’ Begitu saja pesan Pandu kepadaku. Nah, sekarang Pandawa, keponakan yang sudah kuanggap anak sendiri, sudah dewasa. Tiba saatnya bagiku untuk menyerahkan lenga tala ini kepada Pandawa.”
Destarata pun mengeluarkan lenga tala. Pusaka itu ditempatkan di sebuah bejana yang terbuat dari tembaga. “Inilah minyak tala itu,” katanya. “Kunthi, Gendari, Yamawidura, Sengkuni, dan Jaka Pitana, kalian kupanggil ke sini untuk menjadi saksi atas penyerahan pusaka ini kepada Pandawa. Puntadewa, Bima, Pamadi, Tangsen dan Pingsen, bersiaplah menerima lenga tala. Tapi sebaiknya Puntadewa saja yang mewakili Pandawa.”
“Sebentar Sinuhun,” tiba-tiba Gendari bicara. “Lalu Kurawa dapat apa? Sekian tahun Sinuhun menjaga lenga tala. Rasanya tak elok kalau tak mendapat bagian. Tidak adil rasanya kalau lenga tala hanya dimiliki Pandawa. Sinuhun harus mendapat bagian.”
“Kakang mbok Gendari benar. Kalau dihitung per hari sewanya berapa. Menitipkan kuda saja ada ongkosnya, apalagi pusaka,” ujar Sengkuni.
“Rama, Jaka Pitana juga mau. Minyak tala harus dibagi. Tak boleh Pandawa saja yang mendapatkan. Kurawa harus dapat juga,” kata Jaka Pitana.
“Kunthi, bagaimana ini? Aku jadi bingung. Coba bersuaralah. Aku ingin mendengar,” kata Destarata.
“Dikembalikan saja kepada pesan almarhum. Apakah dalam pesannya swargi menyebut yang lain selain Pandawa.”
“Tidak.”
“Sudah jelas. Mau dipersoalkan bagaimana lagi. Ingat, amanat adalah amanat. Tak boleh diotak-atik, Kakang Adipati,” jawab Kunthi.
“Dimas Yamawidura mau bilang apa?”
“Kata-kata Kakang mbok Kunthi benar. Dinda setuju,” ujar Yamawidura.
“Sebentar. Sebentar. Hamba ingin bertanya, apa khasiat lenga tala itu?” tanya Sengkuni.
Destarata menarik napas dalam-dalam. Dalam benaknya berkata, ‘Kenapa jadi rumit begini? Tak kusangka lenga tala mendatangkan masalah.’
“Sinuhun, bisakah dijelaskan apa keistimewaan lenga tala itu. Mohon diutarakan,” desak Gendari.
“Namanya juga pusaka. Pasti ada khasiatnya, tapi bukan untuk mencegah pertumbuhan uban seperti yang dibayangkan Sengkuni.”
“Wah, mati aku. Kena lagi,” gumam Sengkuni.
“Waaaaa. Wa Adipati harus mengatakan, apa kegunaan lenga tala itu agar semua tak penasaran,” Bima ikut angkat bicara.
“Putranda Pamadi juga ingin tahu.”
“Demikian juga Pambarep dan si kembar. Pasti mereka juga ingin tahu.” Bima menambahkan.
“Terima kasih, Bima,” kata Puntadewa.
“Terima kasih, Kakangmas Bima. Wa Adipati, kami pun ingin tahu,” ujar Pingsen.
“Seperti anak-anakku, aku juga ingin tahu apa khasiat lenga tala,” Kunthi ikut bicara.
“Rasanya semua sudah bicara. Masih ada lagi yang mau menambahkan sebelum kujelaskan?” Kata Destarata.
Gendari menyenggol lengan Destara. Katanya, “Tak ada lagi. Sekarang saatnya bagi Sinuhun untuk menjelaskan. Sumangga.”
“Baiklah. Sekarang gantian aku yang bicara. Menurut Pandu, lenga tala ini kalau dioleskan pada tubuh seseorang, tubuh itu akan kebal terhadap jenis senjata apa pun. Semakin sering ditusuk, tubuh akan semakin kebal. Itu saja khasiatnya.”

Begitu dijelaskan khasiat, Kurawa yang diwakili Jaka Pitana dan didukung Gendari serta Sengkuni mendesak Destarata. Mereka tak mau hanya menjadi penonton. Mereka merasa berhak mendapatkannya. Menghadapi tuntutan dan desakan, akhirnya Destarata membuat keputusan yang mengejutkan.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (72)

“Kalau diteruskan, perdebatan ini tak akan ada selesainya. Sampai kapan pun masing-masing akan bersikukuh pada pendapatnya. Sekarang begini saja. Lenga tala ini akan aku lemparkan. Kalian kejar. Siapa cepat dialah yang akan dapat. Aku tak butuh persetujuan kalian. Gendari, tolong bawa aku keluar.”
Gendari menuntun Destarata keluar. Semua yang hadir dalam pertemuan ikut keluar. Sengkuni tampak berbisik-bisik. Entahlah apa yang mereka bicarakan lewat bisik-bisik itu. Orang yang diajak berbisik adalah Jaka Pitana, anak tertua pasangan Destarata-Gendari. Tiba di halaman istana Destarata berhenti. “Apa kalian sudah siap? Jika sudah, lenga tala akan kulemparkan.”
Semua menjawab siap. Sengkuni mendekati Gendari. Ia berbisik pada Gendari. “Siapa yang berbisik ini? Bicaralah yang keras. Di sini tak ada yang rahasia. Siapa, Gendari?”
“Dimas Sengkuni,” jawab Gendari.
“Sengkuni, kamu punya rencana apa? Kalau macam-macam, kujamah tubuhmu jadi abu.”
“Ampun Sinuhun. Tak ada yang kami rahasiakan. Hamba cuma pesan kepada Kakang Mbok Gendari agar lebih berhati-hati dalam menuntun Sinuhun.”

Yamawidura mencium adanya gelagat Sengkuni yang tak beres. Ia memberi kode pada Bima dan Pamadi agar lebih waspada.
Sengkuni kembali membisikkan sesuatu kepada Gendari. Untuk menghilangkan kecurigaan pada yang lain, terutama pada Destarata, ada kata tertentu yang ia ucapkan dengan keras.
“Berbisik apa lagi, Sengkuni. Kenapa ada kata lemper segala?”
“Oh, tidak. Hamba tertarik pada sisa lemper yang tadi dihidangkan. Hamba minta agar Kakang Mbok Gendari membungkuskan untuk Hamba,” ujar Sengkuni.
“Makanan saja yang diurusi. Sana menjauh dariku.”
Sengkuni pun menjauh, tapi Gendari menuntun Destarata ke arah Sengkuni. “Sudah. Aku tak mau ada perdebatan lagi. Lenga tala akan kulempar.”
Destarata pun mencondongkan tubuhnya ke kanan, agak merendah. Ia benar-benar telah siap melemparkan bejana itu sekuat tenaga yang ada padanya. Namun, Sengkuni yang sejak semula sudah punya niat tidak baik mencoba sekuat tenaga pula nenghalanginya. Saat Destarata hendak melemparkan lenga tala, Sengkuni sempat memukul tangan Destarata. Tutup bejana terlepas sehingga sebagian lenga tala muncrat keluar. Ajaibnya, tutup itu kembali ke posisi semula sehingga bejana tertutup lagi. Muncratan minyak itu mengenai tubuh Sengkuni. Sadar akan manfaat lenga tala, secara spontan kedua telapak tangan Sengkuni meratakan lenga tala ke sekujur tubuhnya. Sengkuni seakan tak tahu malu. Telapak tangannya merogoh kemaluannya sendiri. Dioleskannya lenga tala ke buah zakarnya, lalu ke wajahnya. Jari telunjuknya ia masukkan juga ke lubang hidungnya. Hanya satu titik yang tak terlumuri lenga tala, yaitu di bagian silit atau duburnya. Dengan demikian, seluruh tubuh Sengkuni, termasuk mister p-nya, kebal senjata, kecuali silitnya.

Melihat tingkah laku Sengkuni yang menjijikkan itu, Gendari dan Kunthi melengos. Yang lain pun menutup mata sejenak. Hanya sejenak karena dengan segenap kekuatannya Destarata telah melemparkan bejana berisi lenga itu ke arah utara yang harus dikejar Pandawa dan Kurawa. Lemparan Destarata luar biasa kuat karena dalam kecacatannya–buta– ia punya kelebihan lain, yaitu punya kekuatan lebih. Tenaganya setara dengan tenaga tujuh gajah yang paling perkasa. Di samping itu, ia punya ajian lebur seketi yang tersimpan di kedua telapak tangannya. Jika ajian ini digunakan, siapa pun yang terjamah telapak tangannya akan langsung hangus jadi abu.

Begitu kuatnya lemparan Destarata, bejana itu melayang di angkasa dan baru jatuh ke tanah setelah melampaui empat puluh desa. Pandawa mengejarnya. Sengkuni dan Jaka Pitana memacu kuda yang telah dipersiapkan sebelumnya. Mungkin ini salah satu hasil bisik-bisik Sengkuni. Meskipun sudah dibantu kuda, orang pertama yang tiba di lokasi adalah Bima sebab satu langkah Bima sama dengan seratus langkah orang biasa. Apakah akhirnya Bima yang langsung mengambil bejana itu? Ternyata tidak juga sebab saat jatuh ke tanah, bejana itu menggelinding terlebih dahulu sebelum akhirnya jatuh ke dalam sumur mati.
Bima yang sampai di lokasi paling awal gagal meraih bejana. Ia lantas bersandar pada batang pohon ketapang. Napasnya masih terengah-engah. Saat yang lain tiba kemudian, jari telunjuk Bima menunjuk ke arah sumur mati. Kurawa yang datang berbondong-bondong langsung berkesimpulan bahwa Bima telah mendapatkan minyak pusaka itu. Mereka minta bagian kepada Bima. “Bagi minyaknya. Jangan serakah,” kata Jaka Pitana. Bima tak sudi menjawab. Namun, akhirnya Jaka Pitana dan adik-adiknya, termasuk Sengkuni yang datang paling akhir, sadar dan tahu bahwa lenga tala jatuh ke dalam sumur setelah semua yang hadir mengarahkan pandangannya ke sumur tua.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (73)

Sengkuni yang merasa sekujur tubuhnya sudah terlumuri lenga tala tampak tenang. Ia seperti tak punya hasrat lagi untuk mendapatkan lenga tala. Tapi ia memikirkan para keponakannya. Maka disuruhnya Dursasana mencari galah untuk mengukur kedalaman sumur. “Dur, Dursasana.”
“Ya, Paman,” tanggap Dursasana.
“Coba cari galah atau tambang untuk mengukur seberapa dalam sumur ini. Kita harus mendapatkan pusaka ini. Tubuhku sudah terolesi. Rasanya kok aku lebih pede. Kamu dan yang lain seperti tampak kecil di mataku setelah tubuhku terlumuri lenga tala. Apa kamu tak ingin sakti dan kebal seperti pamanmu?’
“Kepengin, tapi malas, Man.”
“O, dasar anak bengal,” maki Sengkuni.
“Citraksi, kamu cari galah sana gih. Jangan seperti abangmu.”
“Waaa…waa. waaawani piii..pira, Man.”
“Ah, celeng. Kamu songong juga,” ujar Sengkuni jengkel.
Karena tak ada satu pun bala Kurawa yang mau berusaha, Sengkuni jadi ikut malas. Dia cari tempat yang teduh untuk tiduran. Kebetulan ada pohon serut tak jauh dari sumur itu. Ia tiduran di situ.

Sementara bala Kurawa acuh tak acuh, malah ada yang bermain benthik dan jelungan, Pandawa berusaha mengukur kedalaman sumur. Sumur sudah diukur dengan bilah bambu yang disambung-sambung, tapi ujung bambu belum berhasil menyentuh dasar sumur. “Jangan-jangan ini sumur tanpa dasar,” kata Pamadi.
“Apa maksudmu, Dinda? tanya Puntadewa.
“Sumur ini dalam sekali. Mungkin di sana ada sungai yang mengalir. Lenga tala mungkin sudah hanyut dan terbawa entah ke mana. Mungkin ke laut,” jelas Pamadi.
“Waaaa, jangan berandai-andai. Tak usah spekulatif,” kata Bima. “Lebih baik sekarang bikin obor. Siapa tahu dengan obor itu kita bisa melihat dasar sumur dan lenga tala,” ujar Bima.
“Dinda Bima juga spekulatif,” kata Puntadewa.
“Bagaimana kalau aku terjun saja. Aku yakin di dalam ada air,” usul Pamadi.
“Bahaya. Jangan,” larang Puntadewa. “Ya kalau ada air. Kalau tak ada? Kalaupun ada air dan kamu bisa sampai di bawah, naiknya bagaimana?”
“Lalu apa usaha kita?” kata Pamadi. “Waaaaa,
bagaimanapun lenga tala itu warisan orang tua kita. Jelas kata-kata Wa Adipati Destarata, setelah kita dewasa, lenga tala harus diserahterimakan dari Wa Adipati yang diberi amanah Bapak Pandu kepada kita. Dengan cara apa pun kita harus mendapatkan minyak itu. Aku tak habis pikir kenapa Wa Adipati tak menyerahkan langsung kepada kita. Apa perlunya dia melemparkan lenga tala jauh-jauh? Begini akibatnya. Waaaaa. Ini tidak benar. Tidak beres. Tidak adil. Wa Adipati tak bisa menjaga amanah.” Bima marah-marah sendiri.
“Bima, tak usah menyalahkan Wa Adipati. Kamu tahu sendiri situasinya tadi. Wa Adipati mendapat tekanan luar biasa. Sekarang kita berdoa saja agar datang pertolongan,” ujar Puntadewa menenangkan Bima.

Pamadi baru akan mengamini ucapan Puntadewa, tiba-tiba terdengar rengeng-rengeng seseorang. Lama-lama nyanyian itu makin terdengar jelas. Semua yang ada di lokasi seperti mencari sumber datangnya suara. Tak lama kemudian, muncullah sosok seorang laki-laki misterius dari balik gerumbul. Dari mulutnya meluncur kata-kata aneh, “Lole lole samarate emprit ganthil dawa buntute endog blekok enak rasane. Turgenop turgenop wong ayu moblong-moblong turon neng waru dhoyong.”
Sengkuni yang sudah sekian lama bersandar dan tertidur di batang pohon serut pun terbangun. Ujarnya, “Orang gila dari mana itu?”
Bala Kurawa yang sebagian bermain benthik, jelungan, dan gundu menghentikan permainannya. Pandawa pun mengalihkan perhatiannya dari sumur ke sosok yang baru datang.
“Wong edan. Pergi sana,” ujar Dursasana.
“Jajjjajjangan gagaaa ganggganggu kami. Eee…eennnnenyah dda dari sini,” Citraksi ikut-ikutan mengusir.

Sementara itu, Puntadewa yang merasa mendapat petunjuk gaib menyambut kedatangan sosok itu. Ia bahkan menyalaminya. Bima dan Pamadi pun menyusul dan ikut menyalami.
“Selamat datang Ki Sanak. Moga Ki Sanak sehat dan dewa melindungi selalu,” sambut Puntadewa.
“Lole lole samarate emprit ganthil dawa buntute endog blekok enak rasane. Turgenop turgenop wong ayu moblong moblong turon neng waru dhoyong. Terima kasih. Terima kasih.”
Tak butuh waktu lama untuk saling mengenal. Puntadewa, Bima, dan Pamadi sudah terlihat asyik ngobrol dengan sosok misterius yang baru datang itu. Tak seperti yang dibayangkan Kurawa, sosok itu sama sekali tak gila. Ia waras dan terkesan cerdas.
“Dari pancaran wajah kalian, aku tahu kalian butuh pertolongan. Kalau boleh, aku ingin membantu kalian. Kebetulan aku lagi ‘tapa ngrame’. Siapa pun yang butuh pertolongan, wajib aku tolong,” katanya. Ia sengaja melantangkan kata-katanya agar terdengar juga oleh bala Kurawa.

Begitu mendengar kata-kata tokoh itu, Sengkuni dan Jaka Pitana tertarik. Mereka mendekatinya. Sengkuni yang sebelumnya tak tahu apa yang diobrolkan tokoh itu dengan Pandawa bertanya tentang nama dan asal-usul tokoh itu.
“Kalian tak perlu tahu siapa aku dan dari mana asalku. Itu tak penting. Yang penting kalian tahu hasil kerjaku. Sekarang apa masalah kalian agar aku bisa membantu.”
Puntadewa baru mau menjawab sudah didahului Sengkuni. “Singkat saja. Begini. Di sumur itu ada pusaka kami. Tak perlu kami jelaskan bagaimana proses masuknya pusaka itu ke dalam sumur. Bagi kami, yang penting pusaka itu bisa diambil. Kami tak bisa mengambilnya. Kalau sampeyan bisa mengambil, tentu saja kami senang dan berterima kasih.”

Laki-laki misterius itu diam sejenak. Lalu, katanya, “Aku tahu pusaka itu berupa minyak. Namanya Lenga Tala. Betul atau betul? Ha ha ha.”
Puntadewa, Bima, dan Pamadi saling pandang. Dalam hati mereka berkata, ‘Orang ini jelas bukan orang sembarangan. Betapa tidak? Belum ada satu orang pun memberi tahu dia macam barang apa yang jatuh, tapi dia sudah tahu’.
“Aku bisa bantu untuk mengambilnya. Tapi kalian harus membantu aku juga. Mau?” katanya.
Semua berebut mengatakan mau. Lalu Sengkuni kembali mendahului yang lain. “Apa yang harus kami lakukan?” tanya Sengkuni.
“Carikan aku suket teki. Di sekitar sini pasti ada rumput teki. Cabutlah sebanyak-banyaknya dan bawa kemari,” kata lelaki misterius itu.
Durmagati spontan bereaksi, “Wong edan. Apa hubungan suket teki dengan lenga tala? Dari awal aku sudah curiga. Orang itu gemblung. Yuk, kita main benthik lagi saja.” Ia meninggalkan lokasi diikuti Citraksa dan Citraksi. Sengkuni tak sanggup mencegah mereka. Ia hanya mengelus dadanya sendiri dan dari mulutnya terucap, “Bajinguk. Bocah-bocah Kurawa ini susah amat dididik. Ya wis sak karepmu.” Tinggal dirinya dan Jaka Pitana, Dursasana, serta Kartamarma yang masih setia menunggu apa yang akan terjadi. Tanpa mempertanyakan apa maksudnya, Pandawa langsung pergi mencari suket teki.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (74)

Hanya Pandawa yang berusaha mencari suket teki. Bala Kurawa asyik dengan permainan mereka sendiri. Sengkuni, Jaka Pitana, dan Dursasana tidak ikut bermain, tapi mereka hanya duduk-duduk saja. Kartamarma yang semula duduk bersama mereka akhirnya ikut bermain juga. Tidak lama kemudian, datanglah Puntadewa dan adik-adiknya membawa rumput teki.
“Sekarang ikat dan sambung rumput ini semua. Aku pergi sejenak. Tak lama,” kata lelaki misterius itu.
“Ha ha ha. Rasain. Kalian dikerjai sama wong kenthir itu. Ha ha ha,” ejek Dursasana.
“Dari sini kelihatan siapa yang bodo dan siapa yang pinter,” timpal Sengkuni.
“Jangan-jangan yang bodo kita, Paman.”Jaka Pitana ikut bersuara.
“Kita lihat saja bagaimana akhir dari lakon ini. Tak usah dipikir-pikir amat. Yang penting tubuhku sudah kuat. Dur, coba lihat.” Sengkuni menirukan gaya seorang binaragawan mempertontonkan ototnya. “Bagaimana, Dur?”
Dursasana yang ditanya spontan menjawab “Luar biasa. Ha ha ha.”
“Luar biasa apanya?” tanya Sengkuni penasaran.
“Luar biasa mengerikan. Ha ha ha ha ha.”
“Asem kecut. Orang tua dijadikan bahan ledekan. Kuwalat kamu. Celeng,” maki Sengkuni.
“Man, pulang saja yuk. Buat apa lama-lama di sini. Enakan main dadu,” ujar Dursasana.
“Kita tunggu dulu. Sabar. Siapa tahu ada keajaiban di sini.”
Jaka Pitana menyetujui kata-kata Sengkuni. “Kita masih punya peluang untuk mendapatkan lenga tala. Kalau kamu bosan, ikut main benthik sana dengan adik-adikmu. Bukannya kamu membawa gangsingan tadi. Mainkan saja. Aku dan Paman Sengkuni menunggu di sini. Bukankah begitu, Paman?”
“Betul,” ujar Sengkuni sambil memberi tanda jempol.
Dursasana langsung ngeloyor menghampiri adik-adiknya yang masih asyik bermain.

Suket-suket teki sudah tersambung. Lelaki misterius datang kembali dengan menenteng panah dan gendewa. Pandawa, Sengkuni, dan Jaka Pitana kaget. Dalam benak mereka bertanya-tanya, dapat panah dari mana orang ini. “Sudah tersambung suket tekinya?” tanya lelaki itu.
“Seperti yang sampeyan lihat. Sudah terikat dan tersambung,” jawab Puntadewa singkat.
“Sekarang rumput teki itu kalian masukkan ke sumur tua itu,” perintah lelaki misterius itu.
Tanpa bertanya-tanya, Puntadewa langsung memasukkan suket teki ke dalam sumur tua.
“Ha ha ha. Orang boleh bodoh, tapi kalau bodohnya keterlaluan, tak ada bedanya dengan keledai. Puntadewa, kamu benar-benar super bego bin dongok,” ujar Sengkuni.
“Waaaaaa. Diam, Paman Sengkuni,” Bima menegur Sengkuni.
“Kasihan,” Jaka Pitana ikut mengejek.
Lelaki misterius rupanya tergoda dengan kenyinyiran Sengkuni. “Dari sini sesungguhnya sudah terlihat siapa yang akan mendapat lenga tala,” katanya. “Suket teki memang tak ada hubungannya dengan lenga tala. Aku sengaja menyuruh kalian mencari suket teki. Itu hanya caraku menguji kesungguhan kalian. Sapa temen bakal tinemu. Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan apa yang diinginkan. Suket teki hanya sarana. Boleh kalian lupakan, tapi sekarang lihat apa yang akan kulakukan.”
Lelaki misterius itu memasang anak panah pada gendewanya. Lalu ia tarik busurnya. Melesatlah anak panah itu tinggi-tinggi ke angkasa. Semua yang ada di situ melihat adegan itu. Mata mereka menyipit, mengikuti lesatan anak panah. Mulut mereka menganga. Bala Kurawa yang tengah asyik bermain sekonyong-konyong menghentikan permainannya. Semua mendongak, mengikuti arah anak panah. Suatu keajaiban terjadi: anak panah itu setelah melesat ke atas tiba-tiba menukik ke bawah–seperti ada yang melepaskan dari atas– dan langsung masuk ke dalam sumur tua. Semua yang ada di situ terheran-heran. Lelaki misterius mengelus jenggot kambingnya seraya terkekeh-kekeh.

Belum selesai rasa heran Pandawa dan Kurawa, tiba-tiba anak panah keluar dari dalam sumur menuju lelaki misterius. Pada saat anak panah itu keluar dari sumur tak terlihat membawa bejana, tapi entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu bejana isi lenga tala sudah berada di tangan lelaki misterius itu.
Semua memandang takjub pada lelaki misterius itu. “Bukan main,” komentar Pamadivspontan. Ada sedikit penyesalan pada beberapa bala Kurawa yang telanjur mencap lelaki misterius itu sebagai wong edan.
“Wah wah wah. Cek cek cek cek cek. Ini benar atau mimpi?” Ujar Jaka Pitana.
“Sulapan kali,” ujar Durmagati yang merapat ke arah Jaka Pitana berdiri.
“Di sini yang paling tua aku dan paling berpengalaman aku. Namaku Sengkuni. Patih kerajaan Hastina. Akulah yang berhak menerima lenga tala. Serahkan lenga tala itu kepadaku.”
“Waaaaaa. Paman Sengkuni. Jangan memutarbalikkan fakta. Sesuai dengan pesan Bapak Pandu, lenga tala hanya untuk Pandawa,” kata Bima.
“Tak bisa begitu. Lenga tala sudah dilemparkan dari istana. Itu menjadi hak siapa saja yang berhasil mendapatkannya. Karena Paman Sengkuni yang pertama kali meminta pertolongan kepada yang mulia ini, Paman Sengkunilah yang berhak memperolah lenga tala. Bahwa lenga tala itu akhirnya diberikan kepada keponakannya, utamanya kepadaku, itu soal lain,” ujar Jaka Pitana.
“Lole-lole samarate waluh gembol monyor-monyor bregendol bregendol manuk emprit dawa buntute endog blekok enak rasane . Tergenop tergenop, cah ayu moblong-moblong turon neng waru dhoyong. Sekarang kalian semua pengin mendapat lenga tala. Jangan kuatir. Aku tidak butuh lenga tala ini. Tapi kalian tak bisa begitu saja mendapatkannya. Kalian boleh mendapatkan lenga tala ini, tapi ada syaratnya.”
“Syaratnya apa?” tanya Sengkuni. “Minta ganti apa? Mas picis rajabrana? Kami siap. Minta perempuan cantik? Butuh berapa, kami sediakab.” Berbisik pada Jaka Pitana, “Tapi kalau melihat potongannya, orang ini meragukan. Dia sepertinya sudah tak sanggup begituan.”
Pandawa tidak ikut-ikutan bertanya. Mereka lebih memilih diam dan sabar menantikan kata-kata lelaki itu selanjutnya.

Lelaki misterius itu mengelus-elus jenggotnya. Tiba-tiba ia teringat pada pengalaman pahit di masa lalunya. “Barangkali sudah tiba saatnya bagiku untuk membalas dendam, untuk mempermalukan dia,” gumamnya pada diri sendiri. “Kalau tidak sekarang, kapan lagi?” katanya dalam hati. Keputusannya sudah bulat. Lenga tala itu akan dijadikan sarana baginya untuk menghukum orang yang selama ini telah melecehkan dan mpermalukan dia di depan umum. “Karma harus berlaku,” katanya dalam hati.

Bala Kurawa sudah mulai gelisah. Mereka bertanya-tanya, apa kira-kira syarat yang diajukan lelaki misterius itu agar lenga tala bisa segera pindah ke tangan mereka sehingga bisa dibawa pulang. Meskipun tampak lebih tenang, Pandawa juga bertanya-tanya dalam hati. Tapi mereka yakin bahwa lenga tala pada saatnya akan menjadi milik Pandawa.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (75)

“Syaratnya apa ki sanak? Katakan terus terang. Jangan ewuh pekewuh.” Sengkuni mengulangi lagi pertanyaan yang sama.
“Kami siap memenuhi,” Jaka Pitana ikut meyakinkan.
“Jangan kelamaan. Nanti malam kami ada acara penting. Para botoh sudah siap buka kalangan. Ha ha ha.” Dursasana ikut mendesak.
“Di pikiranmu cuma dadu saja, Dur,” tegur Sengkuni.
“Waaaaa. Katakan apa syaratnya.” Akhirnya Bima ikut bersuara.
Setelah didesak Kurawa dan Pandawa, lelaki misterius itu pun menyampaikan syarat yang dia minta. “Syaratnya cuma satu,” katanya. Ia talk langsung mengatakan.
“Apa itu?” Sengkuni sudah tak sabar.
“Sebentar. Aku haus. Tolong sediakan degan. Kalau bisa, kelapa ijo,” ujar lelaki misterius itu. Kebetulan tak jauh dari situ ada pohon kelapa. Bima dengan sigap memetik. Lalu dengan kuku pancanakanya kelapa itu dikupas. Dalam sekejap degan terhidang.
Diteguknya degan itu oleh lelaki misterius. Glek glek glek. “Terima kasih,” katanya.
“Jadi syaratnya apa?” desak Sengkuni.
“Kenapa tak bisa sabar sedikit. Biar air kelapanya turun dulu. Do ranjang, laki-laki macam kamu itu pasti bikin kesal bini. Iya apa iya?”
“Ah, tahu aja. Celaka. Terbaca aku.” Sengkuni bicara sendiri.
“Hayo, ngaku enggak?” kata lelaki misterius itu.
“Baik. Baik. Satu kosong untuk sampeyan. Memang aku selalu bikin kesal biniku,” aku Sengkuni. “Sekarang, katakan syaratnya apa,” tambah Sengkuni.
“Baik. Aku minta semua menyimak. Aku tak mau mengulangi apa yang sudah kukatakan. Paham?”
Semua yang ada di situ bilang “paham.”
“Hanya sekali. Ingat, SEKALI. Mengerti?”
Semua serentak bilang “mengerti.”
“Setelah kukatakan syaratnya, semua harus tahu apa yang mesti dikerjakan. Janji?”
Semua serentak berteriak “janji.”
“Syarat ini tidak main-main. Apakah semua yang ada di sini bersedia untuk memenuhi?”
Pandawa serentak bilang “bersedia.”
“Kenapa hanya lima orang yang bilang bersedia? Kalian yang dari tadi acuh tak acuh tak menginginkan lenga tala?”
Kurawa serentak bilang “ingin.”
“Kenapa tadi tak bilang bersedia?”
“Habis diulur-ulur. Tak segera disebutkan syaratnya. Capek kami,” ujar Sengkuni.
“Makin yakin aku bahwa bini kamu pasti sebal kalau kau ingin memasok nafkah batinnya yang sebetulnya tak selalu dia butuhkan.’
“Ampun. Ampun. Jangan lagi aku kau belejeti,” pinta Sengkuni.
“Baik. Syarat yang kuminta cuma satu: bawa Gandamana ke hadapanku dalam keadaan terborgol tangannya.”
Semua mulut yang ada di situ ternganga setelah mendengar kata-kata lelaki misterius itu. Mereka tidak menyangka bahwa syaratnya itu. Dalam hati mereka bertanya-tanya, siapa sesungguhnya lelaki misterius itu. Semua terdiam. Hanya mulut Sengkuni yang komat-kamit. Tangannya mengelus dadanya sendiri. Tiba-tiba ia teringat pada pengalaman pahit masa lalunya. Lama-lama matanya berkunang-kunang. Tubuhnya menggigil. Ia mencoba mencari pegangan, tapi tangannya tak menyentuh benda apa pun, lalu bruk. Sengkuni jatuh pingsan.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (76)

Oleh bala Kurawa Sengkuni digotong ke tempat yang lebih teduh. “Belum apa-apa Paman Sengkuni kok sudah pingsan, ini bagaimana,” kata Durmagati. Dengan cara masing-masing para keponakan Sengkuni memberikan pertolongan. Ada yang memijat betis Sengkuni, ada yang memijat tengkuknya. Ada yang mencabut sehelai bulu cumbu di jempol kaki Sengkuni. Ada pula yang mencari air putih. “Kalau Paman Sengkuni sampai tak bisa sadar lagi, celaka kita,” ujar Katamarma. “Paman, Paman Sengkuni, sadar, Paman. Bangun, Paman,” kata Jaka Pitana.

Lelaki misterius merasa iba juga. Ia menghampiri Sengkuni yang masih terkulai. “Minggir,” sambil minta jalan kepada bala Kurawa yang mengerubungi Sengkuni. “Biar kusadarkan dia.”
Lelaki misterius itu meniupkan udara dari mulutnya ke telapak kanannya. Lalu telapak kanan itu ia pukulkan pada pipi kanan Sengkuni
Plak plak plak. Sengkuni pun membuka matanya sambil menahan rasa sakit di pipi kanannya.
“Paman,” panggil Jaka Pitana.
“Aduhhh. Kenapa pipiku panas sekali? Sudah sampai di mana kita? Haus.” Sengkuni melihat sekelilingnya. Ia heran kenapa keponakan-keponakannya pada merubungi dirinya.
“Paaaappppaman pipipiipingsan ttaatadi.” Citraksi mencoba sekuat tenaga untuk menjelaskan.
“Oalah. Begitu. Kenapa aku bisa pingsan?”
Lelaki misterius itu ikut menjelaskan. “Begitu sebuah nama kusebut, kamu menggigil. Sebetulnya ada hubungan apa kamu dengan dia?”
Sengkuni sudah sepenuhnya sadar, lalu ia tanggapi pertanyaan lelaki yang menyebabkan ia pingsan itu. “Dia itu siapa? Lestari atau Rukmini? Katakan yang jelas.”
“Hei, kalian yang ada di sini, apa aku pernah menyebut nama perempuan tadi?”
Semua serentak menjawab “Tidak”.
“Siapa yang kusebut-sebut?” Kembali laki-laki misterius itu bertanya.
Dengan lantang semua bilang “Gandamana”.
Sengkuni spontan menutup telinganya. Badannya gemetar. “Tolong jangan sebut lagi nama itu,” katanya.
Lelaki misterius pun bertanya, “Kenapa?”
Sambil mengusap air matanya Sengkuni menjawab, “Dialah yang membuat tubuhku rusak begini.”
Lelaki misterius seperti setengah tak percaya. Meluncurlah sebuah pertanyaan lagi, “Benarkah?”
“Buat apa aku bohong. Huk huk huk.”
“Oh…kita senasib,” ujar lelaki misterius itu.
Lalu ia pun bercerita panjang lebar tentang siapa dirinya. Diutarakan semua tentang pengalaman dan petualangannya selama ini, termasuk pengalaman pahitnya: bagaimana wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang indah telah dipermak Gandamana. “Nama mudaku Bambang Kumbayana. Sekarang kalian panggil aku Durna saja. Jelek-jelek begini aku ini anak raja. Hanya karena kebadunganku di masa muda, keadaanku kini macam yang kaulihat. Aku percaya bahwa Sengkuni muda dulu, sebelum tubuhnya dirusak bedes elek itu pasti juga ganteng meski tak seganteng aku.”

Semua bala Kurawa mendengarkan dengan saksama cerita yang disampaikan Durna.
“Gandanama itu rupanya spesialis peremuk tubuh,” Durmagati menanggapi cerita Durna. “Gandamana, bukan Gandanama. Mengeja nama saja gak bener, apalagi merangket. Jangan-jangan nasibmu akan seperti Paman Sengkuni,” ujar Dursasana. “Boro-boro bisa merangket Gandamana, mendengar namanya disebut saja sudah ngeri.” Kartamarma ikut berkomentar.
“Kalian jangan jadi penakut semua. Kalau tak berani satu lawan satu, semua maju bareng. Dikeroyok saja,” ujar Sengkuni menanggapi para keponakannya.

“Jangan belum apa-apa sudah pada takut. Dengar kisahku yang penuh warna agar kalian punya nyali. Aku habis dianiaya Gandamana sampai remuk tak mau tinggal diam. Aku berguru lagi agar ilmuku meningkat. Begawan Rama Parasu kudatangi. Aku berguru bagaimana berolah senjata kepadanya. Aku jadi jago memanah. Kelak siapa saja boleh berguru kepadaku.” Panjang lebar Durna bercerita tentang dirinya. Tak ada yang dirahasiakannya. Semua dia beberkan di hadapan bala Kurawa.

Saking asyik dan takjubnya dalam mendengarkan kisah Durna, mereka sudah tak ingat lagi apa yang harus dikerjakannya. “Kuakhiri ceritanya, lain kali bisa disambung lagi. Kalian jangan larut dalam ceritaku. Ingat, sekarang penuhi permintaanku,” kata Durna.
“Mbok apik-apikan aten saja. Kasih lenga talanya ke aku. Lupakan yang sudah-sudah,” kata Dursasana.
“Kalian tak bisa mendikte aku. Ini soal harga diri. Ini soal sumpah yang sudah terucap. Utang malu dibayar malu,” ujar Durna.
“Kalian jangan wedi kangelan. Jaka Pitana, ajak dan pimpin adik-adikmu. Tangkap, ikat tangan dan kaki Gandamana. Bawa kemari,” perintah Sengkuni kepada bala Kurawa.
“Baiklah. Adik-adikku semua, ayo kita cari Gandamana. Kita rangket dia dan kita serahkan kepada Tuan Durna ini.”
Jaka Pitana dan adik-adiknya berangkat.
Tak lama kemudian, Pandawa mendatangi Durna. Sebelum mereka membuka percakapan, Durna sudah mendahului menegur. “Sejak Sengkuni pingsan, tak kulihat kalian. Ke mana saja. Kalian menginginkan lenga tala tidak?”
“Kami sangat menginginkan. Apalagi pusaka itu warisan ayah kami,” jawab Puntadewa.
“Kalau begitu, berangkat sana. Apa lagi yang ditunggu?”
“Waaaa, aku ingin tanya. Kalau Gandamana aku tanggkap dan bawa kemari dalam keadaan terikat, akan kamu apakan?” Tanya Bima.
“Itu urusanku. Kamu, kamu, kamu, kamu, kamu,” kata Durna sambil menunjuk satu per satu Pandawa, “tak perlu tahu.”
“Paling kalian tak akan berhasil,” ujar Sengkuni.
“Tak boleh begitu kamu. Aku paling benci dengan orang yang suka meremehkan orang lain,” kata Durna.
“Mereka belum tahu siapa Gandamana. Bisa-bisa saat pulang tak punya mata lagi. Sampeyan yakin ada yang bisa mengalahkan Gandamana. Tadi sampeyan cerita sudah berguru pada Rama Parasu. Kenapa tak ditantang saja Gandamana?” Ujar Sengkuni
“Suka-suka aku. Tak usah kamu mendikte aku.” Lalu kepada Pandawa, “Jangan kelamaan bengong. Cepat berangkat kalian.”
“Baiklah, kami berangkat,” kata Puntadewa sambil memberi kode kepada adik-adiknya untuk meninggalkan tempat itu.
Pandawa pun berangkat, meninggalkan Sengkuni dan Durna. Sengkuni mengajak Durna untuk mencari tempat yang lebih nyaman untuk ngobrol dan tukar pengalaman. Kedua lelaki yang sama-sama menjadi korban keperkasaan Gandamana itu akhirnya menemukan sebuah gubuk di dekat dangau untuk ngobrol. (Bersambung)

2 Replies to “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (69-76)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *