DI SINI

(Lukisan karya Rachman Efendi, dengan judul Semar).
Taufiq Wr. Hidayat *

Tetapi percintaan selalu ingin kekal. Ia menolak usia. Tak ingin dikalahkan kefanaan yang niscaya. Bagai syair manis yang dinyanyikan seorang penyanyi asal Semarang, Jawa Tengah, Daniel Sahuleka, pada 1979. Continue reading “DI SINI”

KOTA KECEMASAN

Taufiq Wr. Hidayat *

Ada puisi yang mengusung diksi atau metafora kesepian, keperihan, dan patah hati. Ada kenangan, wajah-wajah datang, meleleh di permukaan air sungai usia, menghanyutkan sehelai hati manusia ke lautan.

Keperkasaan waktu pada dinihari ditundukkan perempuan-perempuan baya yang membawa sayur-mayur dari tempat-tempat jauh. Mereka datang bagai mengepung kota yang sedang lelap, lengah dalam senyap, bersama beban-beban, bersama kereta, hingga senja. Hingga segala lelah cuma lelucon belaka. Continue reading “KOTA KECEMASAN”

Dipanggil Kiai Sutara

Moh. Husen
Radar Banyuwangi, 4 April 2018

“Baca Qur’an jangan “eker-ekeran” (bertengkar). Kalau baca kitab, jangan ketatap-tatap! Nanti malah kepalamu yang saya tatapkan tembok!” ujar Kiai Sutara.

“Ampun, Kiai.”

“Kitab itu bermakna buku atau teks yang terhimpun. Bukan belaka teks. Membaca itu perintah Tuhan. “Iqra'”: bacalah! Berdhamir tunggal, bermakna dengan diri, masing-masing diri. Bukan belaka membaca teks.” Continue reading “Dipanggil Kiai Sutara”

AIR HIDUP BANYUWANGI

Taufiq Wr. Hidayat *

Di samping beberapa situs budaya dan sejarah Banyuwangi, tidak boleh dilupakan aset utama kebudayaan kita, yakni para penjaga, pelaku budaya beserta para pendukung dan penganut kebudayaan itu sendiri. Ini penting kalau kita hendak mengembangkan kebudayaan Banyuwangi yang tak belaka festival tanpa makna, atau sekadar “politik identitas” Using yang kerap jadi alat praktis “orang pusat”. Continue reading “AIR HIDUP BANYUWANGI”

Bahasa ยป