Posted by PuJa on February 6, 2009
Teguh Winarsho AS http://entertainmen.suaramerdeka.com/ KATANYA kau akan menceritakan kepadaku kisah cinta yang mengagumkan. Kenapa tak kauceritakan sekarang?” pintaku pada Renata, kekasihku, pada suatu sore di bangku taman. Awalnya Renata hanya diam. Tapi beberapa saat kemudian dengan wajah malu-malu ia mulai bercerita:
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on February 3, 2009
Teguh Winarsho AS http://www.suarakarya-online.com/ AKU dan Annisa memutuskan menikah di usia muda. Aku, duapuluh tahun; sedang Annisa, sembilanbelas tahun. Awalnya keputusan ini ditentang ayah. Ayah menghendaki agar kami selesai kuliah, baru menikah. Tapi setelah mendengar penjelasanku, akhirnya ayah maklum dan mau menerima. Begitulah, aku dan Annisa sudah saling menyinta. Kami tak ingin terjebak pada perbuatan [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on December 19, 2008
Teguh Winarsho AS http://www.kr.co.id/ DIA melukaiku lagi. Dengan belati. Dia hunjamkan ke dadaku berkali-kali. Aku meradang. Merintih kesakitan. Aku sekarat, hampir mati. Lalu, aku pergi meninggalkan dia. Meninggalkan senyum manisnya yang menipu. Meninggalkan kerling matanya yang tajam ingin membunuhku. Tapi dia terus membuntutiku dengan belati. Aku bingung. Ke mana aku harus sembunyi? Aku sering merasa [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on December 3, 2008
Teguh Winarsho AS SENJA yang indah telah lama lewat disusul gelap merayap. Gelap yang selalu mengingatkanku pada seseorang yang pergi diam-diam kala gerimis turun pada suatu malam. Gerimis yang menyerupai jarum-jarum tajam berdenting di atas genting bagai petikan gitar seorang musafir di hamparan padang luas menyuguhkan kesunyian dan kekosongan. Membuat perasaanku cabik, ngilu dan perih, [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on November 25, 2008
Teguh Winarsho A.S. http://www.lampungpost.com/ SETIAP malam perempuan itu menangis di tengah lapangan. Ia menangis ketika orang-orang sudah lelap tidur. Ketika kampung telah menjadi begitu senyap seperti liang kubur. Suara tangis perempuan itu terdengar keras, melengking, seperti leher angsa digorok. Seperti denyit roda kereta api saat berhenti mendadak. Pekak, ngilu, menyayat, menggetarkan tubuh, membuat hatimu teriris-iris. [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on October 15, 2008
Dari Suara Karya Online Teguh Winarsho AS PAGI masih dingin. Embun masih menggantung di dedaunan. Nima membuka pintu rumah majikannya. Ia akan memulai pekerjaannya menyapu halaman rumah itu. Memang masih terlalu pagi. Tidak biasanya ia bekerja sepagi ini. Ada sesuatu yang menganggu pikirannya, beberapa hari terakhir ini. Apa lagi, kalau bukan laki-laki yang baru tinggal [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on September 18, 2008
[dari kitab kuning sampai komunis] Hak Cipta pada penerbit PUstaka puJAngga Teguh Winarsho AS* PENGANTAR: KEPADA PECANDU NOVEL Nurel Javissyarqi* Kantring Genjer-genjer, karya novelis Teguh Winarsho AS. Saya tidak membaca manuskripnya secara keseluruhan. Alasan pengantar, pertama; berangkat dari sini, kita menyimak secara bareng-bareng mengenai kelahiran gagasan anak manusia, sebab rasa mendahului itu, terkadang mencipta kesombongan [...]
Filed under: Novel
Posted by PuJa on September 6, 2008
Teguh Winarsho AS Sungguh saya menyesal tidak memberi uang recehan pada laki-laki tua yang menengadahkan tangannya sembari menatap saya dengan sorot mata iba ketika mobil yang dikendarai istri saya berhenti di traffic light, sepulang kami dari mengambil uang di Bank. Padahal di dalam mobil ada banyak uang recehan yang memang khusus disediakan istri saya untuk [...]
Filed under: Cerpen
1 Comment »
Posted by PuJa on September 4, 2008
Teguh Winarsho AS RAMADAN selalu membuat kampung kami bergairah. Orang-orang seperti berlomba memperbanyak ibadah. Bahkan, banyak di antara mereka yang sebelumnya tak pernah datang ke masjid, tiba-tiba di Bulan Ramadan ini rajin ke masjid. Tapi sayang, Ayah, laki-laki tua yang suka mendengus dan meludah, tetap tidak berubah. Setiap malam Ayah masih suka begadang di gardu [...]
Filed under: Cerpen