Arie MP Tamba
jurnalnasional.com
Kritikus sastra Indonesia berkebangsaan Belanda, A Teeuw, pernah merasa “kehilangan” Rendra. Itulah yang dialami A Teeuw sebagai pecinta puisi-puisi Rendra – periode sebelum puisi pamflet (1970-an). Puisi-puisi pamflet, yang banyak mempersoalkan kehidupan masyarakat keseharian, termasuk masalah pendidikan, ekonomi, politik, bahkan kebijakan pembangungan – yang disampaikan juga dalam bahasa sehari-hari – membuat A Teeuw tidak mendapatkan kenyamanannya sebagai pembaca. Continue reading “Lirik”
