Menguak Luka dalam Satu Hari Bukan di Hari Minggu

Dessy Wahyuni *
Riau Pos, 14 Mei 2011

YETTI A. KA menghadirkan realitas keperempuanan dalam empat belas cerpennya yang terkumpul dalam Satu Hari Bukan di Hari Minggu (SHBdHM [Yogyakarta: Gress Publishing, 2011]). Sebagai pengarang perempuan yang berada pada masa kini —yang seringkali berupaya mendobrak budaya patriarki— Yetti hadir dengan sekumpulan cerpennya yang tidak terjebak dalam kehidupan kosmopolitan dan berpesta merayakan tubuh dan seksualitas perempuan. Continue reading “Menguak Luka dalam Satu Hari Bukan di Hari Minggu”

Tentang Anak Lelaki yang Tinggal Satu Lorong dengan Kami

Yetti A.KA *
jawapos.com

Klau aku terlalu memikirkan Mendung, sebab dia teman putraku, Bami. Dan dia satu-satunya teman bermain Bami di lingkungan yang baru kami tinggali ini. Kebetulan sekali rumah kontrakan kami dan rumah anak itu berada dalam satu lorong yang menyisakan halaman sangat sempit dan hanya bisa dilewati sepeda motor. Di mulut lorong terdapat tulisan: mesin motor harap dimatikan. Continue reading “Tentang Anak Lelaki yang Tinggal Satu Lorong dengan Kami”

Malina dalam Bus Tua

Yetti A.KA *
jawapos.com

Malina belum menentukan ke mana ia akan pergi ketika ia menumpang bus tua. Dia hanya tahu bus itu akan keluar dari kota kecil tempat ia tinggal, dan itu pula tujuannya.

Ada beberapa kursi kosong. Malina bergerak ke dalam dan memilih duduk di pinggir, dekat jendela yang terbuka. Kursi di sampingnya belum terisi. Udara cukup dingin, digesernya kaca jendela sampai rapat. Tas warna hitam yang mengembung ia letakkan di antara kedua kaki. Continue reading “Malina dalam Bus Tua”

Lampu Taman

Yetti A KA
suaramerdeka.com

KALI pertama kami berjanji di sebuah bangku panjang di taman kota, memandang lampu taman putih susu yang berdiri tegak di dekat serumpun palem, lama-lama, sambil duduk bersisian, dan ia berkata: Lampu itu mengingatkanku pada kepala ayah.

Kalimat pertama darinya, dan aku tidak dapat menghapus satu kata saja. Continue reading “Lampu Taman”

Kamar Mandi

Yetti A.KA *
jurnalnasional.com

Saya rebahkan badan di lantai kamar mandi, telentang menghadap pagu. Rambut saya terserak di lantai, mirip tumpukan kain pel. Saya rentangkan kedua lengan, membentuk garis horizontal, lalu dua kaki saya merapat, jadilah saya sebuah pesawat terbang mainan. Benda belaka. Tentu enak menjadi benda, ia tidak punya emosi. Ia mati. Namun saya benda yang tidak mati. Saya terlihat memprihatinkan, bukan? Saya…ah, entah. Saya kurang yakin apa motif saya. Yang saya tahu saya sedang kesal padanya dan saya lepas kendali. Continue reading “Kamar Mandi”

Bahasa »