Tag Archives: Yetti A. KA

TELEVISI, PEREMPUAN DAN WACANA POSFEMINISME

Yetti A. KA
www.harianhaluan.com, 16 Okt 2011

Era globalisasi memiliki relevansi dengan kebebasan berekspresi. Pada zaman ini orang-orang merayakan kediriannya dengan bermacam-macam cara. Keadaan ini ditunjang pula oleh akses informasi dan fasilitas yang tersedia, terutama di kota-kota besar. Orang-orang dengan mudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Situasi ini dijawab oleh hadirnya berbagai tekno­logi sebagai pendukung eu­phoria itu.

Tebing

Yetti A. KA
http://lampungpost.com/

BELAKANGAN, aku sering merasa tiba-tiba berada di tepi tebing. Tebing yang sangat sepi. Aku tak berani melihat ke bawah, tapi aku bisa menyelam ke dasar yang gelap, teramat gelap; dinding napal yang basah, pohon-pohon dengan duri di sepanjang batang atau ranting-ranting kecil yang tajam, juga nyanyian sayup yang misterius dan terus membujuk: biarkan kami mengambil jiwamu yang sakit dan gelap.

BARAT DAN TIMUR DALAM TEKS SASTRA: PERBINCANGAN POSTKOLONIAL

Yetti A. KA
http://harianhaluan.com/

Pencitraan negatif yang dilakukan oleh bangsa Barat terhadap Timur banyak terdapat dalam kisah-kisah perjalanan. Dalam buku-buku itu, bangsa Timur sering digambarkan sebagai bangsa terbelakang dan asing. Faruk (2001) berpendapat bahwa, berdasarkan bacaannya atas buku Mirror of the Indies: A History of Dutch Colonial Literature karangan Rob Nieuwenhuys, imperialisme dan kolonialisasi tidak hanya menempatkan wilayah jajahan sebagai suatu wilayah tempat terbukanya peluang bagi eksp­loitasi sumber-sumber eko­nomi, melainkan juga

Kinoli

Yetti A. KA
http://suaramerdeka.com/

MINGGU, jam empat sore, dua perempuan akan bertamu ke rumahku. Salah satu dari mereka bernama Kinoli, teman baikku, sudah bertunangan lima bulan lalu. Harapan yang paling sering kudengar darinya adalah keinginannya memiliki dua anak perempuan.

Persis seperti yang dimiliki ibunya. Anak perempuan bisa menjadi teman di berbagai suasana, anak lelaki kadang memiliki selera yang jauh berbeda, begitu Kinoli beralasan.

Tentang Anak Lelaki yang Tinggal Satu Lorong dengan Kami

Yetti A.KA
http://www.jawapos.com/

Klau aku terlalu memikirkan Mendung, sebab dia teman putraku, Bami. Dan dia satu-satunya teman bermain Bami di lingkungan yang baru kami tinggali ini. Kebetulan sekali rumah kontrakan kami dan rumah anak itu berada dalam satu lorong yang menyisakan halaman sangat sempit dan hanya bisa dilewati sepeda motor. Di mulut lorong terdapat tulisan: mesin motor harap dimatikan.