Novelet: KRT. RPA. Suryanto Sastroatmodjo

Jurnal Kebudayaan The Sandour III 2008
PERNIKAHAN UNGU

Orang tuanya memang sudah sepakat untuk menjodohkan mereka, agar tali persaudaraan kedua keluarga itu tidak bertiup lembut, dan cairan ombak yang menghempas disana-sini memberikan irama gelisah, pada alam seputar yang telanjang.

“tentu, tentu saja, dik. Setiap makhluk punya orang tua masing-masing; begitu pula halnya dengan burung-burung walet itu. Namun mereka berasal dari berbagai keluarga, dari banyak bapak dan emak. Di laut dan gua-gua itu mereka berkumpul untuk mencari makan dan bermain.”

Sang adik manggut-manggut meskipun belum sepenuh-nya memahami arti perkataan Prabawa itu. Dari senyumnya yang kebocahan, terlihat betapa ia ingin mengetahui lebih banyak tentang dunia burung-burung yang dekat dengan perkampungan mereka.

Di ufuk sebelah barat nyata gulungan awan kemerahan, sedangkan langit yang semula berwarna biru bertambah tua dan purba, hingga warnanya menjelma sulak kehitaman.

Ah sebentar lagi malam tiba. Batu-batu tua di belakang kedua bocah cilik itu juga semakin legam. Namun alangkah beratnya kaki-kaki kecil itu beranjak dari sana. Alam memperlihatkan tarian burung-burung lincah, beranjak memaku mata mereka pada laut. Ketika hari pun pekat, sang abang membungkuk dan menepuk lengan si adik dengan sayang.

“yuk, pulang sekarang, Sari. Abang sudah lapar. Nanti bapak marah padaku.” “Sari senang main-main di laut sini, kang Bawa,” kata si adik merajuk dengan rengutan manja. “Sari ingin menemani burung-burung kecil itu bermain.”

“O, Sari,” abangnya meraih tangan si kecil dengan kelembutan prasaja. “Ia akan takut sekali kalau kita di sini terus. Soalnya mereka bukan hanya bermain -main tetapi juga mencari makan dan membuat sarang.”

“dengan apa mereka membuat sarang itu?” tanya si kecil “dengan air liurnya,” jawab sang abang sembari menggandeng tangan adiknya, dan hati-hati di bantunya si adik turun dari tebing karang. Si adik selintas melirik pada abangnya kemudian berbicara perlahan; “Dengan liurnya? Mengapa dengan liurnya, kang? Mengapa kita tidak bisa membuat sarang dengan air liur kita?”

Prabawa tertawa rinai mendengar pertanyaan adiknya yang naif itu, ia tahu, adik ingin jawaban pasti dan memuaskan. Ia faham, jawaban yang belum memuaskan selalu berekor pada pertanyaan-pertanyaan lain, beruntunan. Jadi, bagaimana memberikan jawaban yang pasti?.

“Sari adikku,” ucap Prabawa yang berjalan lambat pada pasir yang lumat. “Burung lawet itu jauh berbeda dengan kita. Manusia takkan dapat menciptakan rumah dari air liur. Air liur kita hanya untuk menghancurkan makanan yang kita telan. Nah, jelaskah jawaban ku ini bagimu ?”

Sari, atau lengkapnya Sarilaut, mengangguk disertai senyum merekahkan bibir tipis dan membuat lesung pipitnya kentara. Aih, manisnya bocah ini. Namun Prabawa, si abang, belum yakin bahwa sari paham betul terhadap keterangan terahir ini. Dengarlah, bagaimana Sari punya pertanyaan berikut. “Kang, kalau begitu, burung-burung itu lebih pintar daripada manusia, ya, kang ?”

“Tidak, Sari. Kita manusia jauh lebih pandai daripada binatang, termasuk diantaranya burung-burung itu. Burung itu hanya bisa menciptakan sarang atau rumahnya dengan air liur yang tersedia. Sedangkan manusia membuat rumah-rumahnya dengan batu, kayu, bambu serta lainnya yang berat dan diambil dari tempat lain.”

“Kalau manusia lebih dari burung-burung itu, kenapa manusia tidak mengajarkan burung-burung supaya pandai pula membuat rumah dengan batu dan kayu? Alangkah baiknya, ya kang, kalau orang membuat supaya hewan-hewan itu pintar seperti kita.”

Sekali lagi si abang ketawa oleh kenaifan menggelikan. “Ih, kau memang ceriwis, Sari. Nanti kucubit lho, bibir merahmu yang tipis itu. Masak manusia mengajarkan cara membuat rumah pada burung-burung. Kan tidak ada gunanya; burung-burung kecil itu sudah cukup puas, dan manusia itu terlampau besar buat binatang cilik itu, sayang. Burung-burung itu punya cara kehidupan sendiri dari pada kita.”

“pikirannya lain dengan kita, ya kang? O, makanya mereka takut dan selalu terbang menjauh bila melihat kita di sini; mereka takut kalau kita usir. O, kang Bawa. Kalau mereka tidak sepandai kita, dan hidupnya berbeda dengan kita, biarlah mereka terbang bebas dan leluasa membuat sarang di laut.”

“ya, mereka bebas leluasa. Manusia pun membiarkan burung-burung walet itu hidup di alamnya sendiri. Manusia tidak pernah mengusir mereka dari sana, Sari”.

“tetapi, mengapa manusia sering mengundui sarang-sarang burung itu, kang? Tidakkah ini menyakiti burung-burung cilik yang lemah dan tak berdosa itu?”

Memang Sari acapkali melihat penduduk Karang Bolong itu melakukan pengunduhan sarang burung di beberapa goa di dasar laut selatan itu, atau di balik-balik karang tajam yang bergelombang buas. Wajar, bila pemandangan yang sering di lihatnya kini mendorongnya untuk bertanya lebih jauh. Ia justru ingin tahu, kaitan dari peristiwa itu dari keterangan Prabawa sebelumnya.

“Hm, itu bukan menyakiti mereka, Sari. Dari dulu, manusia memerlukan obat mujarab dan makanan berkasiat yang berasal dari sarang burung. Mereka undu sarang burung itu untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Jelas, bukan?.”

Sarilaut terdiam beberapa saat. Abang dan adik kini ber-gandengan tangan, rukun sekali. Mereka telah tinggalkan pantai Karang Bolong, di sana matahari tenggelam dan malam jatuh mengkelami lautan dan daratan berkecupan abadi. Kedua bocah itu berjalan memasuki kampung nelayan, di mana bapak ibunya menunggu disebuah rumah. Sebelum memasuki rumah, Prabawa masih sempat berkata kepada adiknya yang serba ingin tahu itu.

“Lihatlah Sari, kita dan burung-burung tak pernah usik mengusik. Tapi kata bapak, manusia harus pandai mengambil segala isi alam ini buat kepentingan hidupnya yang baik. Sebab itu, kalau manusia mengambil sarang burung sebagai obat dan makanan berkasiat, itu sudah pada tempatnya.

Kau lihat, meski pun banyak sekali sarang-sarang lawet itu yang di unduh, tak pernah mereka kehabisan sarang. Mereka terus menerus mem-buat sarang, tak jemu-jemu. Itu tandanya, burung-burung itu menyediakan sarangnya selain demi mereka sendiri juga bagi kita para manusia. Apakah keteranganku bisa kau mengerti, Sari?”

Si adik, tak menyahut, ia hanya memejamkan matanya dan menyandarkan diri pada abangnya. Ia sudah amat mengantuk. Mereka memasuki rumah. Dan malam itu, tidak pernah terlintas kembali pertanyaan dan jawaban yang amat berlarut-larut itu pada benak Prabawa dan Sarilaut yang lelah bermain seharian di pantai.

Keduanya cepat tertidur selesai makan malam nasi liwet dan goringan ikan laut yang gurih. Istirahat yang tenang, penuh kedamaian. Lelap seperti tiada persoalan apa-apa yang memberati otak dan hati. Otak dan hati kanak-kanak yang murni-bersih!

Sarilaut dan Prabawa; adik dan abang angkatnya. Sejak kanak-kanak, keduanya telah memperlihatkan kasih-sayang yang tulus. Kasih sayang orang tua Sarilaut terhadap Prabawa tidak pernah bergeser atau di ragukan oleh Prabawa, sedari usia mula hingga berangkat dewasa. Kasih sayang itu selalu membungai pelupuk matanya, di manapun ia berada.

Keluarga yang merengkuhnya dengan cinta ranum adalah keluarga yang telah menjadi keluarganya. Prabawa takkan mengelakkan kenyataan agung begini.

Malam itu Prabawa terbangun. Hawa kamarnya terasa sumuk. Kenang-kenangannya bersama Sarilaut begitu dalam nan berkesan di hati. Masa bocah di dusun terpencil! Ia menyeka keringatnya yang membasahi leher, kening, dada dan punggungnya. Ia segera melepas bajunya, tidur bertelanjang dada.

Kamar ini tidak berjendela. Dan ia terbangun karna mimpi itu; mimpi mengembalikan peristiwa indah yang terisi butir-butir percakapan kanak-kanak begitu lucu memikat, namun alangkah mengharukannya.

Sekarang, beberapa tahun telah berlalu. Sarilaut bukan lagi gadis cilik empat tahunan, dan Prabawa bukan lagi bocah lanang asuhan paman Waneng-driya di Kutawinangu. Ia tidak ingat lagi, beberapa puluh pal jarak Kutawilangu dari desanya dahulu. Yang ia ingat, setelah ia dan Sarilaut menginjak kota Kutawilangu, paman Wanengdriya yang menjadi kemasan sang Adipati itu, tidak diperbolehkannya meninggalkan lingkaran benteng yang mengikat itu.

Gurit senyum perawan cilik itu terbayang kembali. Tapi sekarang, ia merasakan betapa jauhnya jarak yang memisahkan dirinya dengan Sarilaut. Jarang ia bisa bicara bebas mesra dan santai seperti dahulu, sewaktu masih di dusun dengan Sarilaut yang remaja itu. Prabawa jadi heran dengan dirinya sendiri. Ia merasakan pengaruh lingkungan yang di tempatinya, dan kekuasaan sang paman, kemewahan seputarnya, setelah menjauh jarak itu.

Lebih dari pada itu, ia merasa bahwa gerak-geriknya tidak sebebas dulu. Ia kini berada dibawah pengawasan sepasang mata gadis remaja yang amat di cintainya, yakni Saraswati, putri kemasan Wenengdriya. Gadis yang tidak diizinkannya terlalu akrab dengan Sarilaut.

Pernah suatu hari, ia menimbahkan air untuk Sarilaut yang mandi di sumur. Waktu itu baru beberapa bulan ia berada di rumah Sarilaut, yang masih dalam rangka menyesuikan dengan lingkungan yang dianggapnya jauh berbeda dengan suasana di dusun dahulu. Setiap hari, dua kali Prabawa mengisi kulah untuk mandi keluarga kemasan Wenengdriya.

Dahulu, pekerjaan ini dilakukan oleh para abdi. Tapi semenjak Prabawa memasuki lingkungan keluarga tadi, tugas tersebut diambil-alihnya, bukan atas perintah Paman, melainkan atas kesadaran sendiri, bahwa ia sebagai pemuda, tidak sepantasnya berpangku tangan. Pekerjaan itu dianggap ringan saja, malahan sambil berolah raga ia bisa melakukannya; Prabawa tidak pernah manjakan dirinya sendiri. Sebagaimana sering di lakukannya di desa, mandi di sungai atau belik, bersama Sarilaut.

Setelah ia membiasakan diri mandi di kulah, ia menganggap tidak selayaknya mencontoh begitu saja kebiasaan ini tanpa pertimbangan apa pun. Sesekali saja, ia langsung mandi di kulah yang telah di isinya penuh-penuh. Ia lebih sering mandi langsung dari sumur dengan mengambilnya lewat kerekan dan timba dari daun enau itu.

Dan menginginkan Sarilaut suka mencontoh perbuatannya itu. Ketika mengambil air dan mandi itu, Prabawa bisa mencari waktu tepat saat keluarganya belum bangan, yakni dinihari. Prabawa menimba air dan Sarilaut mandi di dekat itu juga. Atau bila waktunya mendesak, mereka mandi bersama dengan guyuran air dari timba daun enau itu. Terasa segar air sumur itu. Tapi betapa terkejutnya Prabawa, ketika Saraswati berteriak, demi melihat abang dan adik itu mandi bersama di situ.

“hai, hai, bukan main! Apakah kalian mesra-mesraan sepagi ini di situ, ha? Adat mana gerangan kalian anut. Adat desa? Adat gunung? Jejaka dan perawan mandi bersama di tempat terbuka? Samber geledek!” ucapannya sangat pedas dan memerahkan telinga, baik Prabawa maupun Sarilaut. Matanya pedas, ia menggigit bibir. Lontaran kata-kata Saraswati di anggapnya keterlaluan.

Namun ia mau apa, kalau Pamannya maupun Bibinya membenarkan ucapan-ucapan anak tunggalnya itu. Prabawa mengalah, mandi sendirian di sumur, di tempat terbuka. Sedangkan Sarilaut mandi di kulah dengan kesempatan terakhir, sesudah paman, bibi dan adik misannya selesai mandi puas-puas di tempat itu. Kemarahan Saraswati itu mula-mula di anggapnya biasa saja, sebagai peringatan terhadap anggota keluarga yang belum terbiasa dengan kebiasaan setempat.

Hanya lama-kelamaan, Prabawa mulai meraba, ada titik-titik yang membuat darahnya tersirap. Ia bisa menduga apa yang tergerak di dada putri kemasan Wanengdriya itu. Ia tahu, karna naluri keperjakaannya berbicara tepat. Ia tahu, Saraswati mencintainya.

Haruskah Prabawa menjawab suara hati gadis hitam-manis ini? Ah, sukar menjawabnya. Saraswati bagai ingin memiliki pemuda itu buat dirinya sendiri. Di rumah ayahnya, dimana ia mempunyai hak besar dan menjadi pusat perhatian, Saraswati tidak mungkin di kendalikan. Ia bisa meledak sewaktu-waktu manakala kehendaknya tidak di kabulkan orang tuanya. Ia bisa mengumpat-umpat bila tidak mendapat pakaian indah dan mahal.

Dan orang tuanya takut, kalau Saraswati sakit lantaran kecewa. Ia pantang ditolak apalagi mengenai Prabawa. Waneng-driya memang pernah berangan-angan untuk mengangkat Prabawa sebagai menantu, sekaligus penerus pekerjaan yang langka tapi terhormat bagi daerah itu, pekerjaan kemasan.

Dalam hal ini, apalah keberatannya. Prabawa masih jejaka dan anak angkat saudara ki Wanengdriya sendiri. Cukup banyak alasan maton sebagai penguat baginya. Dan Prabawa sungguh mempunyai bakat besar dalam mengukir emas. Hanya beberapa bulan ia mempelajarinya langsung dari paman dan anak buahnya, setelah itu ia mahir memainkan pahat-mengukir. Tangannya terasa hidup, dan paman yakin, kelak Prabawa akan menjadi kemasan pilih tanding di kota itu.

Prabawa duduk termenung di atas tempat tidurnya. Tiba-tiba ia merasa asing dengan dirinya, dengan lingkungan, asing dengan segala yang dicintainya dulu, “aku sudah banyak berubah.” pikirannya. “dua tahun lebih ia mukim disini. Oh, tiga tahun hampir. Aku pernah mengatakan pada Sarilaut bahwa apapun yang terjadi, aku akan selalu disisinya. Aku setia menda-mpinginya, sebagaimana ia telah mengucapkan prsetyanya dulu.”

Lalu prabawa berdesah. Suasana, jaman, tempat, pergantian pemikiran, telah membuat semuanya berubah. Sarilaut yang cantik pernah diidamkannya sebagai ibu anak-anaknya kelak. Sarilaut yang manja dan kebocahan, mengisi hari-harinya yang kosong selama tinggal di desa. Sarilaut yang manis, suka mengalah namun keras hati. Prabawa seakan kini terbantun dari bumi kenangan, kecintaan serta kerinduannya akan gadis molek itu. Ia bukan lagi milik Sarilaut. Sarilaut bukan lagi miliknya.

Yang meniadakannya adalah ruang, manusia dan paksaan-paksaan dunia sekeliling yang menjadikannya sebagai boneka. Ya, boneka di tengah keluarga Wanengdriya. Mengapa ia diam bagai kerbau di cocok hidungnya, patuh dan tak berani melawan?

Satu sebabnya; ia berutang budi kepada keluarga paman Sarilaut ini. Kemasan Wenengdriya telah mencabut Prabawa dari akar-akar pedusunan, membimbingnya ke dunia baru; dunia solek kota, dunia yang dekat dengan para priyayi; dunia tempat martabat menjadi bahan pameran.

Sungguh, dalam senyap begini, ia ingin berteriak, meneriakkan nama gadis Sarilaut. Apakah daya sekarang? Apabila Prabawa enggan dengan paksaan serta keterpenjaraan begini; ia boleh enyah kembali ke desa. Namun dengan begitu, ia kehilangan kesempatan buat meraih hari esok yang cerah.

Kota dapat mengantarnya ke pintu gerbang kemuliaan. Ia bisa menjadi priyayi, ahli, pembesar, bangsawan, atau apa saja yang diidamkan oleh seorang pecinta hidup. Kota adalah pusat pemerintahan yang memungkinkan insan-insan kuat menggayuh drajat setinggi mungkin. Kehilangan kesempatan itu berarti hancur kelembah kehinaan.

Orang tua Sarilaut di desa telah mengirimkannya bersama gadis itu ke kota untuk mencapai cita-cita itu. Ya, mereka tidak berbicara seperti itu jelas-jelas kepadanya. Tapi Prabawa merasakan dengan sentuhan jiwanya, bahwa ini kurang lebih yang didambakan oleh orang tua Sarilaut.

Jika ia balik ke desa sunyi, maka yang akan di temuinya adalah keterbatasan. Keterbatasan angan, harapan, cita-cita. Ia akan seperti katak di bawah tempurung. Akan cuma menjadi petani, peladang, nelayan, seperti orang-orang sekampung, tidak pernah berubah hingga berpuluh tahun. Maka dengan hati tersayat, ia mencoba bertahan di bawah naungan serta bimbingan ki kemasan itu.

Dengan tersendat ia kudu berani menerima kenyataan yang menyeringai, dan menelannya itu. Kalau perlu, ia kehilangan Sarilaut. Dalam soal ini, ia bukan melihat dari Saraswati sebagai mutiara yang diketemukannya. Ia mencoba berpegangan pada tebing, dimana akar-akar serabut pohon kehidupan-nya nyaris rantas terangkut gempa. Dengan menerima kehadiran perempu-an hitam manis itu di pangkuannya, sama memapah keluhuran hayat yang didambanya, keluarganya, orang-orang tercintanya.

Kendati pun, Prabawa mesti menahan isak batinnya. Ia takkan tertawa renyah lagi bila berhadapan dengan Sarilaut, oleh mata paman, Bibi dan putrinya itu menatapnya tajam-tajam, apalagi berani mencubit lengan Sari, atau mencumbui seperti dulu. Ia mesti menghadapi Sarilaut dengan kekakuan, sikap yang dibuat-buat, agar segalanya nampak, bahwa ia dan Sari hanya berhubungan sebagai kakak dan adik, tak lebih.

“kalian telah menjadi jejaka dan perawan. Tak baik bergurau mesra begitu seperti bocah. Sungguh, tidak enak dilihat orang,” demikian Bibinya menegaskan kata-kata ini, sewaktu ia melihat Prabawa menjentik dagu adiknya itu dekat pintu senthong. Dan Prabawa patuh. Tapi lain halnya bila ia mencubit lengan Saraswati, atau memandangnya lama-lama dengan mesra, Paman dan Bibi nampak begitu berbahagia, menyambutnya dengan senyum ikhlas.

Alangkah gelisanya Prabawa malam itu. Ia berjalan mondar-mandir dari satu ruangan keruangan lain yang belum terkunci. Tubuhnya masih berpeluh. Mimpinya tentang masa kecil di Karang Bolong telah menyebabkan kegundahan tidak berhingga. Ia membolak-balik pikirannya.

Kalau aku menolak keadaan ini, aku takkan merebut sesuatu pun di kelak kemudian hari. Kalau aku tampik uluran tangan ki kemasan Wenengdriya maka suatu hari, aku bakal hidup kehampaan. Aku pulang ke kampung. Wajah-wajah mencibir di balik punggungku. Suara-suara nyaring dan bisik-bisik tersebar. Orang-orang tua menunjuk diriku sebagai pribadi gagal. “lihatlah anakku, jangan seperti Prabawa itu.

Jauh-jauh ia meninggalkan desanya, katanya untuk mengadu nasib. Tapi lihatlah, apa buktinya sekarang? Ia tidak peroleh pangkat, tidak dapat bintang. Ia tidak kuat derajat, kembali kemari sebagai pengembala kambing!”

O, betapa hinanya, andai hal itu terjadi. Bukan hanya ia seorang akan malu. Orang tua angkatnya dan keluarga-keluarga dekat yang dikenalnya juga bakal menanggung malu akibat goyah langkah, gagalnya tujuan, kekandasannya.

Dengan tak terasa, ia sampai ke senthong sebelah barat. Senthong pribadi paman Wenengdriya. Sebenarnya ia tidak ingin ke situ malam-malam larut seperti itu. Tetapi langkah kakinya yang berat terseret, telah terdengar oleh orang yang asik bekerja di dalam senthong itu. Pintu kamar terbuka dan paman melongokkan kepalanya.

“siapa itu? He he he, kau prabawa” sapanya ramah di sertai mata berkejap-kejap. “saya, paman,” sahut Prabawa yang ragu-ragu. “paman, ya. Begini larut malam belum juga mengaso.” “kau juga belum. Aku kalau mendapat tugas, tak mungkin tidur sore-sore, ngger.”

Prabawa masuk, dan duduk di setengtang kaki paman kemasan. Di atas ambin kecil, paman duduk. Di depannya terdapat meja bundar pualam, berkaki rendah. Pada meja licin itu terlihat sebuah mahkota terbuat dari emas. Untaian mutiara dan berlian kecil-kecil menghiasi lengkung-lengkungannya, jalur-jalur dan pucuk lingkaran mahkota itu.

Paman kemasan sedang membenahi letak butiran-butiran benda berharga itu pada jajarannya yang tepat. Sejumlah peralatan tatah, perekat emas tahan api, siap di ujung kakinya. Tak-tik-tik-tok-tak-tik, demikian kedengaran suara tatahan yang jatuh pada lengkung keemasan itu. Karya yang membutuhkan kecermatan, ketekunan, kecintaan luarbiasa.

“dua pekan lagi, haruslah mahkota ini rampung, ngger,”ujar ki kemasan dengan gerak tangan bertaut pada benda yang menjadi pusat perhatiannya itu. “siapa yang memesannya, paman?” tanya prabawa dalam nada kagum. “seorang bangsawan tinggi. Maaf, aku tidak sedikit pun memperlihatkan mahkota ini. Aku kira, belum saatnya kau ikut membantu pekerjaan yang rumit ini. Kau masih serat dengan pekerjaan-pekerjaan harian yang harus kau selesaikan secepatnya, toh.”

Prabawa menyimak pekerjaan pamannya itu. Baru pertama kali ia melihat ramuan emas-permata-manikam yang begitu indah. Raja manakah yang akan mengenakannya? Bangsawan manakah bakal menghiaskan benda mahal berharga itu ke atas kepalanya?

“ku kerjakan seorang diri, nak. Tiga bulan lamanya. Mulai tengah malam, hingga fajar menyingsing. Memang begitulah waktu yang layak buat menggarap perhiasan ini. Karena disamping mahkota sebagai barang hiasan, ia punya nilai mukjijat. Sebab itu hanya melalui tirakat, tapabrata, nilai seperti itu terhayati.”

“Oh, mengagumkan. Sebutkanlah paman, bangsawan mana yang memesannya.” Itulah kali pertamanya prabawa menyaksikan hasil karya rangkuman emas murni yang demikian bagus. Sungguh tak mengherankan bila orang menjuluki ki Wenengdriya sebagai satu-satunya kemasan tangguh di kota ini. Tiba-tiba terbesit sesuatu di kepala Prabawa.

“untung, aku menyadari keadaanku disini. Patut aku berguru kepadanya, menjadi pendampingnya. Banyak pengalaman dan kecakapan yang ku peroleh melalui cara ini.” Ia beruntung bahwa paman Wenengdriya bukan seorang yang kikir dengan jenis ketrampilan yang di milikinya. Dengan suka rela ia akan menularkan ilmunya itu kepada Prabawa.

“kalau begitu, dua pekan lagi, mahkota itu siap untuk jumenengan raja,” serta merta Prabawa berbicara asal tebak. Tetapi paman hanya manggut sekilas, kemudian memperbaiki sikap ini dengan ucapannya, “Emmm, ya. Harus siap di pakai, atau siap disimpan sama saja. Sebetulnya sudah kadaluwarsa sebagai hiasan untuk jumenengan Sribaginda. Sinuhun itu telah setahun berada di atas tahta kesunanan surakarta adiningrat, anakku.

Nah, nak, adapun mahkota ini di pesan oleh kanjeng bupati Arungbinang, untuk di persembahkan ke hadapan yang mulia baginda. Sepintas lalu, persembahan ini kadaluwarsa. Tapi pada asasnya, tak dapat dikatakan begitu. Karena, persembahan ini bakal di peruntungkan bagi hari ulang tahun panobatan itu. Kukira baginda akan sangat berterima kasih, bahkan amat berbahagia.

Emas murni yang di peruntungkan sebagai bahan baku mahkota ini seutuhnya berasal dari hasil pendapatan daerah kota Winangu sendiri. Kanjeng bupati mengatakan, para bupati jajahan Surakarta berlomba-lomba memper-sembahkan kenang-kenangan sebagai penghormatan bagi perayaan ulang tahun panobatan Sinuhu yang mulia.” “paman tak kuatir, kalau benda-benda berharga itu lenyap? Begitu besar nilainya, paman. Sebaiknya di simpan di tempat aman, terlindung, lepas dari pengamatan orang lain.”

Hal ini membikin kemasan tua itu tertawa renyai. “Ah, kau ini ada-ada saja. Emas segudang boleh saja mereka telan. Tapi maling manakah yang cukup gila mencuri sebuah mahkota berharga yang sama harganya dengan nilai sebuah negeri.” “O, tapi maksudku, dalam senthong seperti ini, bila kita lalai, mudah saja orang-orang jahat memasukinya. Siapa tahu, emas yang tak terkatakan harganya ini hilang di curi orang yang kebetulan lewat di sini dan tertarik untuk meraihnya.”

“Ah, kau,” sang paman ketawa. Ia melirik sedikit, kemudian tangannya sudah bermain dengan lincahnya: tik, tik, tak, tik, tok, tak. Kerlip-kerlipan mata beberapa ular naga yang berbelitan ekornya, di atas mana terdapat jambangan berisi tajuk teratai, demikian pola ukiran pada mahkota itu.

Moga-moga saja itu tidak terjadi, nak. Orang setua aku ini dapat dipercaya. Barang ini tersimpan primpen sekali dalam sebuah peti terkunci rapat. Hanya pada saat itu di butuhkan, ia akan keluar dari peti itu. Kanjeng bupati sendiri yang akan menjemputnya, kemudian kami akan bersama satu rombongan pembawa persembahan ini ke ibu kota Kasunanan Surakarta Adiningrat. Hebat, toh?”

Lalu mereka berbicara tentang pola-pola ukiran, batu-batu mulia, kadar emas, dan kemajuan yang bisa dicapai kelompok pengukir emas yang dihimpun oleh ki kemasan Wenengdriya itu. Pembicaraan yang tak pernah akan kering akan bahan, lantaran diucapkan oleh pecinta, pengudi.

Kemudian percakapan beralih kepada masalah-masalah dalam negeri Kutawinangun. Dalamhal ini Prabawa lebih banyak sebagai pendengar. Ia ingin tahu lebih jembar lagi tentang negerinya itu. Bukankah ia telah bertekad untuk mengabdikan diri kepada Kutawinangun? Jalan ke arah itu bakal terambah berkat pengarahan paman yang dermawan ini.

Kala terdengar kokok ayam ke dua, Prabawa meninggal-kan senthong paman ini dengan pikiran lebih serat oleh harapan-harapan serta tambahannya kesadaran terhadap hayat ini. “aku sudah tua, semakin tua malah. Aku sudah sewajarnya berfikir kepada siapa pekerjaan berat yang memerlukan tumpahan cinta besar ini ku hibahkan. Kupikir, kau Prabawa, akan banyak membantu dalam usaha-usahaku di masa datang.” Prabawa insyap karena mengerti, betapa sang Paman mengharapkannya untuk satu tanggung jawab yang luas.

Sambil mendengarkan langkah kakinya menapaki ubin rumah pada larut malam itu, Prabawa memamah perkataan-perkataan yang barusan diucapkan sang paman. Ia lalu menghubungkan dengan kata-kata itu dengan apa yang pernah pula di ucapkan ki kemasan itu bulan-bulan sebelumnya, tatkala paman itu melihat Prabawa melamun dekat tritisan.

Kemasan tua ini berjongkok di sebelah kirinya. Tercium bau asap klembakmenyan dan kemudian ia bicara. “tujukkan, bahwa kau benar-benar lelaki dewasa, Prabawa. Sesuaikan perangaimu dengan usia yang kau sandang. Aku tak melarangmu bergaul rapat dengan Sarilaut, adikmu itu. Namun kau mesti tahu batas. Tahu menjaga diri. Ingatlah, disini banyak abdi kemasan. Mereka bisa saja membikin omongan yang bukan-bukan kalau melihat kalian bergurau cubit-cubitan dan tertawa keras seperti beberapa hari lewat. Kewajaran sikap sebagaimana antara kakak dan adik, itulah yang kami harapkan.”

Kemudian paman itu menghembuskan asap rokoknya, dan bersuara lebih lirih. “Dan, kalau jejaka dewasa kini. Kalau tahu, bahwa anakku, ya… anakku Saraswati… nampaknya amat mencintaimu, Prabawa. Aku maklumi kegelisahan hatinya akhir-akhir ini. Kulihat betapa ia mencoba memerangi perasaan dalam dirinya. Apakah kau, prabawa, bisa memahami perasaannya itu?”

Prabawa lama tidak menanggapi perkataan ini. Hanya terdengar keluhnya dan ia terpekur. Memang, bukannya tidak tahu. Ia cukup dewasa untuk membaca hati serta perasaan-perasaan perempuan yang terkaca lewat matanya. Ia hanya bingung sekarang, bagaimana kudu berbicara dengan ki kemasan sendiri mengenai soal yang satu ini.

Prabawa belum siap untuk mengambil keputusan. Jalan yang terbentang di depannya masih begitu panjang, dan tidak tahu di mana ujungnya. Maka ia pun membisu saja. Dan ki kemasan meninggalkannya dengan suara yang terdengar mirip rintihan itu.

“Pikirlah baik-baik, anakku, ia sungguh berharap dan berharap barangkali kau sudi mempertimbangkan sesuatu dari sudutmu yang terbaik, Nak, paman ingin penjagaan, keselamatan dan… dari saraswati, kuserahkan dalam dirimu.” ki kemasan berlalu dari tempat itu.

Tinggal prabawa termangu dalam sepi. Langkah kaki Prabawa memantuli lorong-lorong di rumah itu. Dan terbayang kembali wajah Sarilaut, sang adik angkat yang berada dalam satu lingkungan; dekat, dekat dengan dirinya, yang sangat ia rindukan di malam itu. Entah apa sebabnya oleh mimpi itukah gerangan? Mimpi tentang masa kecil yang manis?

Seandainya ia tidak pergi ke kota dan tidak memasuki rumah paman kemasan Wanengdriya, karenanya tidak mungkin semua ini merisaukan. Ia banyak bedanya. Ia melihat mata, gerak tubuh dan cara Sari menunggang kuda, atau memasak, memberi perintah kepada abdi-abdi di situ.

Tetapi ia tak dapat, atau lebih tepat dikatakan: tak boleh menjamah perwujudan yang sekian lama ia kasihi. Karena itu ia mencoba mengatasi kerinduan yang memekat ini dengan makin menenggelamkan diri kedalam kesibukan-kesibukan keras dan menyita hari-harinya di rumah ki kemasan.

Tapi bila telah mengaso dari pekerjaan, dan kembali berada di kamar, ia tergoda pula oleh bayangan raut paras remaja yang tak berdosa itu. Kadang-kadang terisi oleh kehadiran Saraswati yang membujuknya, memesrainya, melengkapkan kepaduan cinta muda yang lembut. Namun rasa jiwanya sendiri belum mampu menggenggam sosok gadis ini sebagai pengganti Sarilaut.

Dan setiap ia berduaan dengan Saraswati di kamar ini, sebentar kemudian ia mendengar pintu gedogan dibuka orang, lalu terdengar derap kaki kuda Sarilaut yang dicongklang, dan setelah itu derapnya menjauh dan menjauh. Ciuman-ciuman Saraswati membenamkannya pada kepasrahan melekapkannya dalam-dalam. Prabawa menerima pelukan hangat itu untuk yang kesekian kalinya. Ia lebur dalam kesatunafasan.

Malam itu Prabawa pelan-pelan menuju senthong Sarilaut yang terlatak paling ujung dari kamar-kamar yang berderet di Dalem kulon. Hal begini acap kali dilakukannya selewat waktu malam. Meski hanya untuk melihat sejenguk, tidak lebih.

Kadangkala, bila keresahan sukmanya memuncak, tidak dapat dibendung hasratnya untuk bertemu dengan Sarilaut. Bertemu muka, berbincang-bincang, saling menatap, saling menggoda. Ah, ini mustahil dapat ia lakukan sekarang, setelah Saraswarti merampasnya dari adik angkatnya itu. Jadi Prabawa hanya dapat menahan nafas. Siang hari ia cuma bisa memperhatikan sosok serta solah-tingkah Sarilaut dari tempat ia bekerja.

Malam hari pun hanya bisa memandangi perawan ini bergulung sunyi di ranjangnya. Akan mungkinkah Prabawa malam itu menyentuh Sarilaut? Mungkinkah ia meraba kulit dan hati gadis yang belakangan ini seperti menghindar-hindar setiap pertemuan bakal terjadi? Atau, malah ia sendiri yang menghindari Sarilaut demi menjaga perasan ”kesopanan” keluarga ki kemasan yang ia hormati setinggi-tingginya itu?

Seperti didorongkan oleh tenaga diluar kemauannya, Prabawa berjingkat-jingkat menuju ke kamar adik angkat yang di rinduinya. Temaram lampu clupak masih menerangi kamar itu. Slarak pintu tidak terpasang, alamat kamar tidak terkunci. Perlahan prabawa membuka pintu. Tampaklah Sari tidur menelungkup dengan muka yang di benamkan pada bantal putih. Hatinya tersayat. Prabawa menutup pintu itu pula.

Dengan hati-hati didekatinya si adik. Ah, Sarilaut biasanya tidur berselimut. Kali ini, pada larut yang dingin, perawan ini tidur dengan sehelai kain kawung agak lusuh yang tersampir begitu saja pada badannya. Punggungnya terbuka. Prabawa duduk di tepi ranjang.

Di rapatkannya kain itu hingga bahu, lalu jejaka ini mengelus rambut Sarilaut yang panjang legam ini. Gadis itu nampak kaget oleh kedatangan Prabawa. Ia membalikkan tubuh-nya. Ketika di ketahuinya bahwa lelaki muda ini mengayuh lengannya, Sarilaut cepat-cepat menarik kainnya ke atas sehingga sebagian buah dadanya yang kelihatan tadi, kini tertutup.

“Sarilaut, adikku sayang,” bisik Prabawa dengan keharuan yang sangat. Direngkuhnya gadis itu ke dadanya. Di luar dugaan, Sarilaut meronta. Mata Sari yang biasanya sejuk dan teduh itu kini memandangnya asing. Teramat asing malah, sehingga membuat Prabawa bagai ditempalak. “Sari, alangkah jauh dirimu berubah,” desisnya. Tapi Sarilaut hanyalah bergumam, “tidak. Tidak. Kau, kau jangan mendekatiku.”

“adakah Sarilaut betul-betul tidak menghendaki kedatanganku? Kau marah?” bisik Prabawa seraya mengelus rambut anak perawan ini. Rambut-rambut yang membaruti kening itu dipiyakannya ke belakang. Baru prabawa tahu, bahwa mata Sari membengkak. Terang, sedari tadi, Sari menangis dan menangis. Ketika Prabawa memperhatikan mata yang sembab itu, sudut-sudut mata Sarilaut basah, dan butiran air mata meleleh ke pipinya.

“Sari, Sari. Mengapa kau begitu sedih. Dan tatapanmu asing terasa.” “jangan mendekat. Kakang… kakang Bawa. Jangan.” Suara Sari gemetar. Tubuhnya berguncang. Dan sekejap ia tenggelam dalam isyaknya yang meredam.

Prabawa merengkuhnya. Di pandanginya pelupuk mata yang membendul karna banyak menangis ini. Parasmu, alangkah pucat, Sari. Tubuhmu semakin kurus. Aku baru kali inilah memperhatikan perubahan pada dirimu. Baru kali ini pula aku sempat mendengar tangismu dekat, dan dekat. Tangis yang terpantul dari kedukaan dalam. Tangis yang kau curahkan ke dadaku, si abang sayang. Tangis dan tangis.

Tetapi derita apakah gerangan yang kau pendam selama ini? Berbulan-bulan lamanya mereka saling pandang, saling melihat. Tapi tak pernah tatap muka atau berbicara dari hati ke hati. Dan malam ini, Prabawa menciumi rambut gadis yang ia rindukan. Ketika tangis adik itu mereda, Prabawa mengecup keningnya.

Kerongkongannya bagai tersumbat. Bibir mungil Sarilaut yang menggeletar itu di kecupnya pula. Lembut dan penuh kasih sayang. Seakan-akan ia ingin tumpahkan sejuta kangen, sejuta rindu tertahan. Dan beberapa menit kemudian, suara yang terakhir dari bibir mungil itu hanya sepatah-patah, “ kakang… kakang… kang Prabawa. Aku, aku sendirian, kakang.”

“Sari, kau tidak sendirian, dik. Kakangmu Prabawa ada di sampingmu.” “tapi, kang. Kau telah meninggalkanku. Sari tidak berdaya menghadapi cobaan ini. Kepada siapa lagi Sari harus menggantungkan diri. Aku hanyut dan hancur.”

Lalu, tangis kembali berbuyuh dan dada Prabawa merasakan goncangan dari gadis yang selama ini merasa di sia-siakan olehnya. Sendirian, menangisi sunyi yang merongga.

“apa artinya hidup, jika Sari tidak memperoleh kasih sayang sejati? Sari di manjakan pula di rumah ini. Tetapi Sari tidak boleh mendekati kakang. Mereka, mereka memarahi Sari jika melihat Sari menghampiri kakang Bawa. Apa artinya Sari ini…”

“O, adikku sayang. Semua ini jangan kau lihat dari pahitnya saja, dik. Benar kita menerima cobaan. Tapi cobaan itu bagi makhluk yang kuat. Orang yang lemah niscaya hancur merana karena imannya tidak kuat. Sedang kita anak keluarga tahan prihatin. Tahan menderita. Kita harus tabah. Berbahagialah orang yang bisa mengalah, demi memperoleh kemenangan dari yang maha pengasih.”

“apakah kang Bawa…benar-benar tak melupakan Sari?” “percayalah, sayang. Kang bawa tidak pernah menghianati cinta kita yang telah berkembang. Kita memang belum berhak memetik keranuman cinta itu dalam waktu dekat, dik. Kerena apa? Kita masih dalam laku, dalam perjalanan. Semua yang kita temui di rumah ini, mesti kita hayati sebagaimana harusnya seorang pendatang yang memasuki negeri baru. Kita menyesuikan, mengambil pati dari kejadian yang berlangsung.”

“apakah dalam hubunganmu dengan Saraswati juga demikian, kakang? Tanya Sarilaut seraya memandang tenang-tenang pada abang angkat yang juga kekasihnya. Prabawa memagutnya erat. Mengelusi rambutnya, mengecupi leher-nya. Meremasi tangannya yang halus terbuka. Memeluknya, seakan ia tidak punya waktu lagi untuk menikmati kehangatan cinta ini.

“kau Sarilaut milikku satu-satunya di dunia ini. Berdosalah namanya kalau aku segampang ini menghapus namamu yang indah-suci dari kalbuku. Berdosalah aku kalau semudah itu melupakan jasa-jasa orang tuamu yang telah memelihara serta mengasuhku sejak kecil.”

“hanya lantaran angin membalas budi itukah kakang mengucapkan cinta kepadaku,” Tanya Sarilaut tiba-tiba. Bibirnya dekat dengan telinga laki-laki itu. Pada rengkuhan ke dada kekasihnya yang bidang, Sarilaut kepingin menanyakan apa yang selama ini merupakan keraguan baginya. Keraguan mencucuk-cucuk. Yang membendalkan-nya kesebuah lembah yang cengkar.

Dan tiba-tiba Prabawa menarik kedua belah tangan Sari, kemudian ia mendekatkan mukanya ke wajah gadis itu. Garis-garis paras yang dihapalnya, yang di resapinya, sampai pun terbawa mimpi. Paras itu putih kepucatan bagai tak berdarah.

“bukan karena sekadar ingin membalas guna, Sari,” ungkapnya tegas. “aku bahkan mulai berfikir, bahwa kenyataan hidup mengharuskan kita langsung berhadapan dengan kekerasa tuntutan jalang, bahkan kalau perlu; kepatahan dan maut. Aku berterimakasih atas perawatan kasih orang tuamu.

Di samping itu aku perlu mewujudkan makna terima kasih ini dengan perbuatan nyata yang mewakili kejantananku. Salah satu bukti kejantanan ini adalah mengisi dirimu, hari esok, memulai jembatan perjuangan yang sedang ku tempuh. Masa pengabdianku di rumah paman kemasan ini adalah masa yang kumaksudkan itu, Sari. Dengan cara demikian aku ingin memperlihatkan kepadamu, kepada satu-satunya gadis yang ku cintai di dunia ini, bahwa aku adalah lalaki sejati.”

Sarilaut menatap mata pemuda itu. Mata itu tajam, tetapi ia masih mampu menatapnya seperti dahulu. Dan Sari menemukan kerindangan kasih pada mata itu. Kerindangan kasih tempatnya bernaungan. Sari bergayutan pada sulur-sulur-nya, bergayutan kuat-kuat. Malam itu Prabawa menginsafi, betapa Sari membutuh -kannya, dan ia pun membutuhkannya; ia tak ingin melepaskannya barang sedetik. Ia reguk kesejukan telaga jernih yang kemilau.

Dalam telaga jernih itu pula ia menyelam dan berenang bebas, nikmat, leluasa, merasa tiada terhambat-hambat. Bagai layaknya seekor ikan berkecimpung di sungai yang telah di kenalnya. Renangan yang mengantarkan kedua ingsan yang saling mencintai itu ke telempap-telempap bumi yang mengapungkannya, untuk kemudian melontarkan-nya tinggi-tinggi, sampai tinggal keletihan yang tersisa dari perjalanan ini.

Akhirnya tetes-tetes keringat jua berlelehan ke sekujur badan, dan mata yang terpejam telah membukakan kelopaknya. Baru keduanya sadar ketika kokok ayam ketiga terdengar nyaring, menjagakan mereka dari persinggahan yang menghanyutkan. Keduanya terlentang memandangi langitlangit kamar. Kemudian Prabawa memandang kekasihnya.

Tersenyum, ia pun melihat senyum melengkung atas bibir mungil yang basah. Wajah pucat itu kini telah kemerahan, segar dan sehat. Senyum yang melukiskan perasaan puas tiada bertara. Prabawa mengecup kembali bibir itu. Di reguknya puas-puas, kemudian ia membisikkan kata-kata pembangkit semangat kehidupan ke telinga Sarilaut. Yang nyaris patah-patah itu.

Keduanya bangkit dan mengenakan pakaian kembali. Semenit setelah itu, pintu bergerit, dan Prabawa telah berada di luar. Di hirupnya udara subuh yang nyaman, dan kedua tangannya terangkat ke atas, melonggarkan rongga-rongga dadanya yang serasa sesak.

Tatkala menuju ke senthongannya kembali, Prabawa melalui lorong kecil pula, dan lorong itu menuju kamar Saraswati. Sesampai di depan kamar itu ia terkejut. Pintu kamar telah terkuak lebar. Biasanya tidak sepagi itu Saraswati bangun. Maka segeralah Prabawa masuk ke dalamnya. Dilihat Saraswati duduk di kursi dengan kepala menangkup ke meja. Perlahan Prabawa menyentuh bahu Saraswati dan bisiknya, “Wati, Wati. Sakitkah engkau? Mengapa bangun sedini ini?”

Saraswati mengangkat wajahnya. Rambutnya kusut, ia menggeleng lemah. Setelah menekurkan kepala seperti berfikir, baru ia bilang serak; “aku tak dapat tidur, kang Bawa. Hawa teramat sumuk. Aku berjalan-jalan ke kebun belakang, kemudian menemani ayah sebentar. Sesudah itu aku masuk pula ke kamar dan minum air seteguk. Aku pusing.”

Begitu pula aku. Habis jalan-jalan, aku juga ke depan menemui ayah. Mungkin kau datang ke sana sebelum aku, bukan? Kami mengobrol sampai lama. Lalu aku kemari.”

“mengapa kau melalui lorong sebelah sana? dari kamar mandi?” Tanya Saraswati dengan mata menyelidik. Tetapi Prabawa dapat mengelakkan sorot mata yang berisi kecurigaan itu, lantas menjawab cerdik, “aku buang air bentar, perutku mulas sekali. O, ya, maukah adik membuatkan kopi bagiku?”

“kopi, he? Kakang kan mulas. Tak baik minum kopi. Lebih baik wedang pokak saja. Baiklah ku buatkan bagimu” kata Saraswati pula seraya berdiri menuju ke dapur. Tidak, Saraswati tidak melihatnya waktu ia masuk ke dalam kamar Sari tadi. Nah, syukurlah kalau demikian.

Andainya dik Wati tahu, kemudian memaksa ku berkata jujur, apa boleh buat. Aku hanya menjenguk adikku karna mendengar dari seorang abdi, bahwa Sarilaut sakit. Sebentar kemudian Saraswati telah mem-bawa talam dengan segelas wedang pokak di atasnya. Langsung Prabawa duduk, kemudian mengambil gelas itu dan meminumnya beberapa teguk.

“aduh segarnya. Terimah kasih, sayang. Barangkali pagi nanti aku sudah bisa membantu bapak lagi,” ujarnya manis. Wati duduk pula di sampingnya, dan berkata menggarami,” kalau kesehatan belum mengijinkan, lebih baik kakang istirahat barang sehari dua hari. Bapak tidak memaksamu.”

“ku usahakan berkerja kok, aku kan cuma sakit perut.” “baik, baiklah kalau begitu” kemudian Saraswati melondotkan badannya ke tubuh Prabawa dan berkata, “O, bajumu basah, kakang sebaiknya ku lepas, ya nanti kau masuk angin,” dan Prabawa tidak menolak, merengku Saraswati ke pangkuannya di ranjang itu. Sedetik kemudian, terdengar nafas berdesah di seling rinti tertahan. Waktu cahaya pergi berderang, barulah Prabawa meninggalkan kamar itu.

Beberapa hari kemudian, ki kemasan Wanengdriya memperlihatkan satu hasil karya yang sungguh-sungguh menabjubkan. Prabawa baru menyelesaikan pesanan seperangkat pekinangan, ketika paman itu memanggilnya ke senthong. Sore waktu itu dan prabawa melihat wajah sang paman berseri-seri.

“duduklah nak,” ujar ki kemasan menyilakan, sementara ia membuka almari berukir yang berlapis dua, masing-masing menggunakan kunci berlainan. Dari dalam almari tersebut ia mengeluarkan sebuah buntalan besar sebanyak dua buah, yang masing-masing terbuat dari beludru merah tua, dengan krepus kayu bulat lonjong yang merekatnya satu demi satu. Setelah krepus tadi di letakkan di atas meja, paman membuka kantongan sutra yang ternyata berisi mahkota emas kemarin. Setelah itu menyusul kantongan lain, yang juga berisi mahkota sama dan sebangun dengan yang di ambilnya tadi.

Prabawa melongo. Dua buah mahkota raja. Semuanya terbuat dari emas. Bukan main! Paman meletakkan mahkota-mahkota itu kepada krepus bulat panjang itu dan sisa-sisa mentari sore yang kekuningan memantulkan cerlang berkejap. Paman duduk di samping Prabawa, berkata bangga; “karyaku yang utama. Boleh kau lihat. Manakah di antara kedua mahkota ini yang murni.”

“Ah, sukar. Bagai bermimpi rasanya.” Prabawa pada beberapa hari lalu menyaksikan mahkota itu dengan takjub. Dan sekarang ia harus melipat gandakan kegaguman itu. Tapi ia adalah kemasan muda. Mesti tahu membedakan mana emas, mana mamas. Hal semacam itu telah di latihnya lewat timbinan pesanan-pesanan orang yang kudu dia rampungkan. Tapi kini, ia cuma dapat memandang muka pamannya itu seraya menggeleng bodoh.

“Tak tahu, paman. Keduanya adalah mahkota emas murni,” katanya bimbang. “Salah satu harus murni. Atau salah satu harus palsu. Mustahil kedua-duanya.” Tapi Prabawa tetap menggelengkan kepalanya, menyerah. “barang kali paman dapat mengajari aku untuk membedakan perhiasan yang asli, tanpa kudu bertaruh tentangnya.” “Justru karena itu merupakan batu ujian bagi para kemasan muda,” terdengar tawa berderai-derai paman.

“Anakku, hidup sejati sesungguhnya berkisar antara yang benar, yang tak benar, antara murni dan tidak murni, yang asli dan palsu. Manusia teruji untuk memilih satu yang terluhur baginya, yakni sejati. Bila belum berhasil menemukan nya, berarti masih oleng biduk nuraninya. Ah, aku tidak berfilsafat. Akan tetapi ini sekadar memperbandingkan dua ufuk pandangan dengan sikap hidup yang selaras dengan kebenaran. Oya, nanti ku jelaskan, mengapa harus dibuat dua mahkota.”

Paman menghisap rokok klembak menyan. Prabawa mengiling-iling kedua benda berharga itu ganti-berganti. Dan kerena tetap ia belum menemukan kesejatian mahkota itu, maka ki kemasan bilang, “ini, ini yang disebelah kanan. Inilah mahkota asli. Emas murni. Intan permata menghiasi sekelilingnya murni. Tetapi yang di sebelah kiri itu mamas, emas tiruan. Demikian butiran-butiran permata itu tak lain hanya batu kaca biasa.”

Hening sejenak. Antara paman ini menegaskan padanya, betapa masih banyak yang kudu di serapnya sebagai calon kemasan. Pengalaman mengajarkan, kepalsuan-kepalsuan serupa itu bakal terbukti manakala sang kemasan mempunyai mata yang jeli, waspada. Ini bisa tercapai kalau orang mau mengadakan penelitian.

“Kalau kau tajam tilik, maka tidak mungkin terkecoh, ngger,” kata ki kemasan pula. “Sebelum kau gunakan alat-alat pembuktian terhadap murni tidak-nya emas yang tergubah indah sebagai hasil karya lunuhung begini. Ya kau takkan dipermain-kan oleh saudagar-saudagar yang memalsukan barangnya.”

Tiba-tiba Prabawa menanyakan kepada Paman, mengapa ia membuat tiruan mahkota itu. Sebelum ia sempat membuka mulut, Paman berkata lirih, “perjalanan membawa mahkota emas ini ke Surakarta bakal melalui alam yang penuh marabahaya.

Di sana berkeliaran begal-begal, penyamun yang tidak kenal kasihan. Maka untuk itu, kanjeng bupati Kutawinangu memerintahkan supaya di bentuk dua rombongan, yang masing-masing akan membawa mahkota ini. Mana-kala salah satu rombongan tercegat penyamun, dan mahkota bisa di rampas, maka masih ada mahkota lain sebagai penggantinya. Dalam hal ini kita berharap, keselamatan yang asli terjamin.”

(sekian).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *