Menziarahi Karya-karya Sang Maestro

Sri Wintala Achmad

Manakala bertandang ke rumah seorang kawan, perhatian saya terserap habis pada coretan-coretan liar dan naïf di dinding ruang tamu yang membentuk gambar binatang, mobil, kapal terbang, atau orang. Tanpa bertanya pada kawan tersebut, perkiraan saya tidak bakal meleset. Gambar-gambar itu pasti karya anak-anaknya. Manusia-manusia kecil yang mulai membutuhkan penghargaan atas karya-karyanya, serta pengakuan eksistensinya dari lingkup internal (orang tua dan keluarga) atau lingkup eksternal (orang luar).

Tanpa pertimbangan teknis yang menyoal nilai-nilai estetika di dalam dunia seni rupa, saya menangkap kepolosan pribadi, kebebasan bersikap, dan kesederhanaan berfikir anak-anak di balik visual karya tersebut. Masalah inilah yang sering membuat jengkel kawan saya. Maklum, ia selalu menghendaki rumahnya dalam suasana rapi, tertata dan bersih. Sementara bagi pecinta anak-anak, gambar-gambar di dinding ruang tamu itu justru tampak rekreatif, segar, dan komedial untuk disaksikan.

Perihal gambar yang divisualkan di dinding ruang tamu itu tidak dapat diklaim sebagai refleksi kekurang-ajaran seorang bocah. Hal itu hendaklah lebih dimaknai bahwa anak-anak kawan saya mulai membutuhkan keleluasaan sebuah media (baca: bukan sekadar buku gambar) untuk mengekspresikan gagasannya yang berpijak naluri kreatifnya. Bukan berdasarkan teknik atau teori dibakukan dalam dunia kreativitas seni rupa.

Ulah anak-anak kawan saya itu tentu saja tidak dapat diidentikkan dengan ulah sebagian remaja yang suka mencoret-moreti tembok-tembok bangunan, tiang listrik, dinding-dinding gua dll. Mengingat graffiti yang dibuat sebagian remaja tersebut cenderung bertendensi untuk menunjukkan keakuan kelompok (gang)-nya. Tidak musykil kalau graffiti tersebut berpotensi memicu konflik yang mengarah pertikaian antar gang. Persoalan inilah kiranya merupakan salah satu pemicu realisasi Projek Mural Kota Sama-sama Apotik Komik pada beberapa tahun silam. Suatu projek yang salah satunya bertujuan untuk menyalurkan kreativitas remaja pada jalur sebenarnya. Hingga hasil yang diharapkan mampu memberikan kesejukan, kenyamanan, dan keasrian lingkungan kota dan desa.

Lain Apotik Komik yang melakukan aktivitasnya dengan pijakan krisis kreativitas remaja, lain pula sebagian perupa di dalam penciptaan karya-karyanya senantiasa mengacu kreativitas anak-anak. Nama-nama semisal: Heridono, S. Teddy D, dan Ugo Untoro dapat dijadikan contoh perupa yang banyak terinspirasi gambar anak-anak. Alhasil, para kritikus sering menglasifikasikan karya-karya mereka bergaya naïf. Boleh dibilang anti teknik atau teori yang telah dibakukan di dalam penciptaan karya seni lukis.

Bahkan sewaktu membuka file karya seni rupa Indonesia yang tersimpan di dalam personal computer, saya menyaksikan sebagian lukisan Affandi bergaya naïf. Karya-karya naïf dari pelukis maestro tersebut terutama dapat ditilik pada lukisan potret diri. Lukisan yang terbentuk lewat komposisi garis-garis liar dan dominasi warna merah, hitam, dan kuning tersebut tidak hanya mencitrakan kenaifan, melainkan totalitas ekspresi jiwa merdeka seorang kreator.

Dari Karya Ke Sikap Hidup Affandi
Diakui bahwa gambar anak-anak yang divisualkan di dinding ruang tamu kawan saya itu memang tidak sebanding dengan karya-karya naïf Affandi. Namun kalau menilik karya-karya naïf sang maestro tersebut, sontak saya teringat pada karya anak-anak. Karya-karya ekspresif yang merefleksikan ungkapan polos dari dalam hati (perasaan) dan dari dalam tempurung kepalanya (intuisi dan imajinasi).

Sebagaimana anak-anak, Affandi mencoba menemukan jati dirinya melalui karya-karyanya. Hingga bagi Affandi, karya-karyanya yang berupa potret diri dapat dijadikan media refleksi tentang ke-Akuan-nya. Sementara bagi apresian, visualisasi wajah Affandi tua berjenggot, berkepala botak, rambut keriting tidak terisir, dan garis-garis tegas di seputar mata dapat dijadikan wahana untuk mengenal kepribadiannya. Setampang wajah sang maestro yang mencitrakan keugaharian, ketegasan, keperkasaan jiwa dalam meniti jalan kehidupan. Sungguhpun tak dipungkiri, garis-garis tegas di seputar mata pada sebagian karya potret diri tersebut menyiratkan jiwanya yang melankolik.

Menangkap jauh tentang sikap Affandi atas kehidupan dapat ditilik pada karya Aku Mengisap Pipa (oil on canvas, 99 x 125 cm – 1977). Visualisasi dirinya yang tengah mengisap pipa di bawah matahari itu memberikan kesan, bahwa sang maestro tetap nglaras (memaknai) nikmatnya kehidupan di tengah teriknya matahari. Garang menantang nyali setiap manusia yang berhasrat untuk survive. Inilah jiwa Jawi Affandi. Di mana, beliau senantiasa ngeli ning ora keli (mengalir namun tidak terhempas) oleh ganasnya arus kehidupan.

Jiwa Jawi Affandi dapat diteladani setiap orang yang bermimpi hidup damai di tengah kemelut modernisasi. Mengingat modernisasi yang gagal dimaknai sebagai jalan menuju kota kesejahteraan manusia justru menjadi mesin pembunuh jiwa. Banyak orang kelas bawah terhempas sebagai tumbal-tumbal tak berdaya. Senasib sampah terombang-ambingkan arus bah menuju muara keterpurukan.

Karya-karya dengan komposisi garis-garis liar namun terbentuk secara dinamis dan bernuansa ekspresif terdapat pula dalam karya Main Street India dan Ke Roma (oil on canvas, 125 x 99 cm – 1977). Karya-karya naturalis yang diabstraksikan Affandi tersebut bukan sekadar memotret, melainkan mengekspresikan situasi buruk di dua negara yang pernah dikunjunginya. Ini dapat disaksikan melalui pelukisan ketidak-berdayaan becak, bendi-bendi yang ditarik kuda, dan sapi di salah satu jalan raya India, serta matahari biru bak pembunuh berdarah dingin yang mengambang di atas bangunan negeri Roma.

Karya-karya bergaya senafas Potret Diri, Aku Mengisap Pipa, Main Street India, dan Ke Roma tentu masih banyak jumlahnya. Karenanya, pengkajian dari para kritikus atau apresian atas karya-karya senafas lainnya sangat diharapkan. Agar publik dapat mengenal jauh perihal sang maestro yang selama ini sekadar mendengar namanya saja.

Sisi Lain Affandi
Diakui oleh banyak apresian bahwa sebagian karya Affandi bergaya realis dekoratif. Melalui gaya yang ditekuni pada awal proses kreativitasnya, saya dapat mengenal lebih jauh tentang Affandi. Di mana selama meniti proses kreativitasnya, sang maestro tidak terjebak ke dalam lembah stagnasi (kemapanan). Beliau tetap berhelat dengan kerja eksplorasi. Hingga gaya naïf ekspresionisnya mampu menggetarkan dunia seni rupa itu, beliau jadikan pilihan terakhir hingga tutup usia.

Melalui karya-karya realis dekoratifnya, saya menangkap keugaharian, keperkasaan, ketegasan dan kesantunan Affandi di dalam menyikapi kehidupan, serta kecintaan Affandi dengan negara, bangsa, dan keluargaanya. Kecintaannya pada bangsa dan negara direfleksikan melalui karya A Captured Spy. Visualisasi sosok lelaki pribumi yang telah mengkhianti perjuangan bangsanya sendiri itu harus ditindak tegas. Keadilan harus ditegakkan, kalau kemerdekaan yang merupakan embrio kesejahteraan seluruh bangsa bukan sekadar slogan kosong dari calon-calon pemimpin Negara.

Dalam kehidupan, Affandi tak sekadar membanggakan keberadaannya yang divisualkan melalui karya-karya potret dirinya. Beliau juga membanggakan keberadaan keluarganya. Hal ini direfleksikan melalui beberapa karya yang memvisualkan anggota keluarga dan putrinya, seperti: Little Kartika, Kartika Wears Kebaya, Portrait with My Daughter dll.
Karya realis dekoratif Affandi memang tampak ugahari. Namun, pemvisualan simbolis bunga kamboja di kepala Kartika Kecil (Little Kartika) merupakan nilai atau makna yang memberikan bobot karya tersebut. Saya pula menangkap bahwa pemvisualan simbol bunga kamboja dapat dimaknai sebagai wasiat luhur sang maestro yang mengajarkan kepada putrinya untuk berjiwa semekar, seputih, dan sewangi kamboja.

Dari sini, saya semakin paham perihal bagaimana Affandi mengajarkan kepada Kartika putrinya. Tidak melalui kata-kata keras sebagaimana kawan saya saat melarang anak-anaknya untuk tidak mencoret-moreti dinding ruang tamunya, melainkan melalui bahasa simbol. Pesan tersirat dengan mengacu bahwa terealisasinya maksud seseorang tanpa harus melukai atau menyinggung pihak yang dituju. Ibarat: Entuk iwake, nanging ora buthek banyune (mendapatkan ikannya, tetapi tidak memperkeruh airnya).

Dengan demikian kemaestroan Affandi di dalam blantika seni lukis tidak sekadar terletak pada nilai-nilai estetik, melainkan pesan moral yang tersirat di balik visualisasi karyanya. Di samping itu, spirit eksplorasi dan konsistensi Affandi di dalam menekuni bidang seni lukis dicatat sebagai salah satu legitimasi yang memperkokoh gelar kemaestroannya itu.

Catatan Akhir
Apa yang saya uraikan ini tidak dimaksudkan sekadar mengenang Affandi, pelukis yang telah damai di alam kelanggengan. Lebih dari itu, saya bermaksud memperkenalkan kepada generasi zaman, terutama anak-anak yang tidak memiliki kesempatan mengenal sosok Affandi dan belum mengenal karya-karyanya. Maksud yang diarahkan agar anak-anak mampu meneladani spirit kreatif dan mengambil nilai atau makna di balik karya Affandi tersebut adalah penting. Sebagaimana pentingnya sewaktu saya memperkenalkan anak-anak perihal spirit, nilai, atau makna perjuangan dari para pahlawan Indonesia.

Sosialisasi kemaestroan Affandi dan karya-karyanya layak dilakukan pula oleh para pendidik di dunia akademis. Ini dimaksudkan agar anak didik di dalam mengembangkan kepribadiannya tidak semata berorientasi pada spirit, nilai, atau makna perjuangan para pahlawan. Melainkan para seniman yang pula memiliki andil besar di dalam turut membangun citra Indonesia di lingkup internasional. Maka jangan heran, seniman di negara maju mendapatkan penghargaan dari pemerintah.

Affandi sudah meninggalkan kita untuk selamanya. Namun spirit, nilai, atau makna perjuangan kreatifnya senantiasa melekat di tiap karyanya. Abadi sampai detik peniupan sangkala yang mengisyaratkan hari terakhir telah tiba. Semoga arwah sang maestro diterima di sisi Tuhan. Raja semesta raya. Amin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *