SASTRA DEVELOPMENTALISTIK DAN ECRETURE PENYAIR PEREMPUAN

Ahmad Muchlish Amrin

Robert Pinsky, demikianlah nama penyair Amerika yang pernah menjadi poet laureat, ia menurunkan sebuah idealitas bahwa karya sastra (puisi) tidak hanya barisan kata pilihan yang berat membawa kata-kata, melainkan karya sastra juga membawa setangkup makna, sejarah, idealitas dan wawasan humanistik diluar lajur “kepentingan” personal atau kelompok. Bagi Robert, menikmati sastra (puisi) seperti menikmati suara, musik, tanpa mengetahui pengetahuan khusus yang secara ilmiah mengkaji sastra seperti hermeneutika, semiotika yang dapat digunakan untuk menginterpretasi karya sastra. Robert malah meyakini bahwa karya sastra sebagai ruang spirit dapat dinikmati dengan cara mencermati rima-rima, pilihan kata, muatan roh yang mengetuk detak jantung kita. Seperti pada metrik tradisional, dapat menikmati karya-karya William Butler Yets, Ben Johnson, untuk memahami free verse bisa menikmati kumpulan puisi William Carlos Williams dan Wallace Stevens, untuk memahami linea pendek dapat membaca puisi Emily Dickinson, tentang balada puisi modern dapat menikmati karya Thomas Hardy. Tak ada yang lebih membantu memahami puisi selain mendengarkan secara cermat bunyi (menjadi musik) setiap bersit larik sastra (puisi) yang dibaca.

Semenjak Marks Twain yang membawa warna vernakular dalam sastra Amerika, kemudian dilanjutkan oleh Hamengway yang membebaskan bahasa berbelit-belit dari prosa, perkembangan sastra dunia sudah lama lepas dari purple prose dan mengarah ke berbagai perkembangan menakjubkan seperti belakangan ini bisa kita lihat dalam karya WG Sebald dan Gao Xinjian, begitu piawai mereka memadukan fakta dan fiksi sehingga terciptalah karya-karya yang sangat menghanyutkan. Tak lain dan tak bukan, karya-karya yang dilahirkan mereka merupakan karya-karya yang menyuarakan sejarah kehidupan manusia, tantangan, penindasan yang dihadapi, birokratisasi, strukturalisme yang mengkungkung manusia memanfaatkan kebebasannya. Semuanya itu dapat direspon mereka dalam karya sastra, direspon dengan memberikan otokrtik kontruktif sehingga karya-karya mereka dapat dibaca tidak hanya sebagai karya sastra melainkan juga sejarah.

Sastra Develepmentalistik yang penulis maksudkan di sini lebih mengarah pada peran penting sastra merespon realitas sosial, lingkungan hidup sastrawan dengan berbagai kacamata yang dipakainya. Janet Wolf, ahli sosiologi sastra mengungkapkan dalam bukunya Hermeneutic Philosopy and The Sociology of Art (1975) bahwa dunia sastra berangkat dari ranah kehidupan sosial yang disebutnya sebagai “dunia kehidupan” (lebenswelt) yang membangun dua alasan sosiologis. Pertama, makna-makna dunia bagi indvidu merupakan makna dunia sosial yang sudah ada sebelumnya, diperoleh dari interaksi sosial dan sosialisasi individu yang bersangkutan. Kedua, tidak sendiri dalam kehidupan itu, melainkan berbagi dengan sesamanya sehingga membuatnya menjadi dunia sosial pula. Bila dalam sebuah lingkungan terdapat “penyimpangan” aksi maupun bentuk “kelainan” dari lingkungan sosialnya, kita akan beranggapan penyimpangan itu sebagai satu bentuk “penemuan” yang kemudian dicari idealitas kulturalnya, sebab sebuah tindakan soial tidak serta merta muncul dari ruang kosong, tindakan sosial terjadi karena adanya pengaruh intern maupun ekstern individu/kelompok yang mengadakan interksi.

Dunia kehidupan merupakan tempat manusia dengan kegiatan sehari-harinya bekerjasama dengan sesamanya. Dari itu Alfred Schutz (1963) mengatakan, dunia dari keseharian hidup merupakan wahana kebangunan pertumbuhan manusia yang terlibat di dalamnya, diantara pengalaman sesamanya di mana dicap kodrati dipandang sebagai suatu realitas. Dunia sastra merupakan sebuah dunia yang bersentuhan dengan segala realitas dan segala keperihannya. Bagi seorang sastrawan develementalis sangat berdekatan dengan dunia masyarakat secara umum, bahkan suara yang termuat dalam karya-karyanya banyak memasukkan idealitas-idealitas lingkungan sekitarnya, baik karya itu dikemas menjadi bentuk berita dan keunikan-keunikannya atau karya itu berbentuk pemberontakan terhadap realitas.***

Seolah menjadi doktrin dalam sastra bahwa sastra lahir menjadi bentuk perlawanan terhadap sebuah sistem atau struktur masyarakat dan lingkungan sekitarnya, sastra melakukan pembelaan terhadap penindasan, ketidakadilan, kesewenang-wenangan. Sastra menyuarakan sebuah spirit humanisme dan komunisme marxian, yang mengidealkan sama rasa sama rata sehingga dengan perlawanan semacam itu sastra mampu menjadi dirinya sendiri yang independen serta memberi inspirasi bagi sebuah perkembangan menuju pencerahan (aufclarung). Dalam sisi lain, sastra juga melakukan hegemoni Gramscian yang dimulai dengan meleburkan idealitas dengan fakta sosial (social fact) sebagai aspirasi melakukan unjuk rasa terhadap sekian sistem yang mengkungkung.

Di Eropa, kita dapat menyimak karya sastra yang dilarang terbit di negaranya bahkan Derek Walcott diusir dari negaranya karena menulis puisi tentang perlawanan terhadap pemerintah Rusia. Veronika karya Paulo Colho dilarang terbit di negaranya sehingga membuat sang pengarang tersisih dalam realitas sosialnya. Di Indonesia, kita bisa menyimak sebuah puisi pendek karya Widji Tukhul yang berbunyi “Hanya ada satu kata, lawan!” yang telah menginspirasi mahasiswa Indonesia untuk mengadakan pemberontakan pada tahun 1980-an, sehingga dengan itu menyebabkan Tukhul hilang dari permukaan; tak tentu rimbanya. Tetralogi Bumi Manusia karya Pamoedya Ananta Toer yang dilarang beredar pada zaman orde baru, dianggap telah melakukan pembangkangan terhadap pemerintah sehingga siapa yang memiliki buku tersebut dapat dimasukkan ke penjara. Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur, Kabar Buruk Dari Langit, Adam dan Hawa karya Muhidin M Dahlan yang sempat disomasi dan ditarik dari peredaran karena berisi tentang perlawanan terhadap kalangan Islam garis kanan (HTI) yang “normatif”.

Ah! Jika demikian, sampai kapan idealitas-idealitas suci itu akan tersisih, akan menjadi musuh bagi “kelacuran-kelacuran” ideologi yang telah menjadi sistem? Entahlah! Namun kita selalu berharap sebuah struktur yang mendominasi bukan salah satu institusi yang merasa memiliki kebenaran absolut, institusi adalah sebuah media untuk membangun dan mencari kebenaran-kebenaran yang masih semu.

Ecreture
Sastra (dalam hal ini puisi) tidak hanya berupa rangkaian kata yang dipilih untuk mewakili nuansa estetik yang terkandung dalam diri penyair, lebih dari itu, puisi menyampaikan segerobak idealitas, inspirasi dan gagasan baru bagi pembaca. Janet S Wong, seorang penyair perempuan berkebangsaan Amerika, lahir dari seorang ayah emigran China dan seorang Ibu emigran Korea. Pada mulanya Janet sangat membenci puisi ketika ia berprofesi sebagai seorang direktur hubungan kerja pada Universitas Studius Hollywood, ia bertanggung jawab dalam soal negosiasi kontrak untuk 9 serikat kerja yang berlainan dan bertaanggung jawab dalam rekrutmen dan pemecatan para karyawan/buruh. Dalam waktu satu minggu, Janet bisa saja memecat sepuluh orang di sebuah perusahaan terkait. Karena pekerjaannya yang sangat ‘keras’ itu menyebabkan Janet tidak yakin, apakah dia mampu bekerja di bidang lain yang lebih baik dan bisa memberinya kesenangan.

Untuk menghilangkan kejenuhan kerjanya, suatu hari Janet menghadiri workshop yang dilakukan Myra Cohn Livingston, wanita yang telah menggarap 83 buku, Janet yang sebenarnya juga cerdas terkagum-kagum pada Myra, begitu mendengar penyampaiannya yang luar biasa, ia sadar dan banyak belajar dari kearifan-kearifan yang disampaikannya, walau ketika itu Janet masih belum suka puisi. Meski tidak suka puisi, Janet sudah terlanjur kagum pada pengarang 83 buku itu, apa boleh buat, ia melanjutkan ‘kursus kilat’nya selama tiga bulan. Dan setelah itu Janet S Wong baru jatuh cinta pada puisi.

Nah, sebagai seorang yang terbiasa dengan efisiensi, Janet membuat target ‘dalam satu tahun dirinya diharuskan menyelesaikan satu buku antologi puisi anak-anak’. Namun ternyata target tersebut hanya menjadi niat belaka yang pelaksanaannya ternyata tidak semudah membolak-balikkan telapak tangan. Baru setelah bekerja keras selama satu setengah tahun, Janet bisa menyelesaikan antologi tunggal pertamanya yang berjudul Good Luck Gold. Seperti pengakuan Janet sebagaimana dirilis New York Times (1997) buku itu diselesaikannya karena motivasi dari suaminya yang sarjana hukum. Glenn, suaminya tidak hanya membaca manuskrip puisi-puisinya, lebih dari itu ia memberikan hembusan optimisme pada Jenet ketika dirinya ragu-ragu untuk menerbitkannya, Glenn juga mengantarkan Janet mengirimkan naskahnya ke penerbit—yang dianggapnya sebagai ujian awal bagi karya-karyanya.

Bagi Janet, motivasi suami benar-benar sangat menolong terbitnya antologi tersebut. Buktinya, masyarakat puisi dan kritikus menyambut baik kehadiran antologi tersebut sehingga dengan sambutan itu membuat Janet mengambil sebuah keputusan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai direktur dan secara full time menjadi penyair. Kemudian lahirlah buku kedua yang tak kalah tenarnya dengan buku pertama yang berjudul A Suitcase of Seaweed yang terbit pada tahun 1997. Hanya dengan dua buku itulah nama Janet S Wong menjadi terkenal di seluruh Amerika, bahkan Janet seringkali diminta untuk bicara di sekolah-sekolah AS, mulai tingkat SD hingga perguruan tinggi. Sampai saat inipun nama Janet masih bergaung harum di daratan Amerika dan masih menjalani hidupnya sebagai seorang penyair.***

Dalam ruang feminisme, idealitas yang dikedepankan adalah “menolak” peran laki-laki secara total dan mengabaikan peran perempuan. Hal itu ternyata tidak di-ia-kan oleh semuanya perempuan, sebagian perempuan berupaya membangun kehidupan secara logis berdasarkan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing yang sesuai. Sementara para pejuang feminisme kadang memberikan bombastis ke-nakal-an idealitasnya dengan mencoba untuk merombak sekian struktur pemahaman masyarakat tradisional menuju pemahaman modernitas yang serba rasional. Yang perlu disadari, Secara fitrah psikologis perempuan membutuhkan motivasi dari seorang laki-laki (suami) untuk meyakinkan bahwa langkah yang dilaluinya merupakan langkah yang tepat—lebih pada dewan pertimbangan langkah-langkahnya sebagaimana yang dialami Janet, walaupun Janet sendiri adalah seorang wanita karier yang hebat.

Jurgen Habermas mengungkap dalam teori Komunikasinya bahwa seorang laki-laki butuh perhatian, seorang perempuan butuh perlindungan. Laki-laki yang diperhatikan perempuan, keseriusan dalam melaksanakan dan menyelesaikan program-programnya akan semakin bertambah. Begitu pula sebaliknya, perempuan yang (merasa) dilindungi, akan semakin cerdas, karena ia tidak sedang berpikir untuk (keamanan) dirinya. Pertanyaannya kemudian, mengapa perempuan kadang cenderung “sofistik” (bergenit-genit), ketika genderitas dapat bergaung bebas di era modernitas ini? Apakah ruang modernitas kemudian dijadikan kesempatan untuk mengeksplorasi dan menjadi ruang pemberontakan perempuan di wilayah kelamin, kedudukan, kinerja (khususnya pemberontakan dalam tulisan)?

Mariana Aminuddin (2004) pernah mengungkap tentang Ecriture yang berangkat dari sebuah kata atau konsep yang diambil dari bahasa Perancis tentang gagasan dunia penulisan. Istilah ecriture lahir dari Helene Cixous, tokoh sastra feminis Prancis yang biasa dikenal dengan ecriture feminine “penulisan feminin”. Ide ini tidak menutup kemungkinan penulisan maskulin atau penulisan yang dibangun oleh pengalaman pria. Penulisan feminin adalah dunia penulisan yang diciptakan berdasarkan perbedaan seks yang di dalamnya terdapat ketiadabatasan, seperti mimpi. Perbedaan seks dapat menunjukkan determinasi penulisan yang berbasis jender dan memiliki potensi alternatif sekaligus jalan memahami dunia. Penulisan feminin memiliki potensi kemungkinan analisis bagi kedua jenis kelamin, meski perempuan akan lebih dekat dengan konsep ini daripada laki-laki. Penulisan feminin berpotensi menyatakan dan memformulasi struktur yang bahkan meliputi atau memasuki pengalaman lainnya.

Penulisan feminin kental dengan hasrat kematian sebagai kehidupan (kelahiran) atau kebangkitan. Sedangkan penulisan maskulin menjadikan kematian sebagai inspirasi kesudahan, the end of the world. Penulisan feminin mencari kehidupan di balik kematian karena investasi organ seksnya yang bernama rahim selalu mengandung semangat kehidupan. Perempuan meninggalkan kehidupan karena penindasan dan posisinya sebagai jenis kelamin kedua setelah pria (meminjam The Second Sex Simone de Beauvoir). Kematian bagi perempuan adalah kehidupan yang tiada batas. Sedangkan pada laki-laki, kematian adalah lari dari absurditas hidup yang bergelimang kuasa dan kedudukan, yang sesungguhnya sangat terbatas dan tak bebas. Penulisan maskulin tertarik pada kematian karena jenuh dengan kemenangan dan kekuasaannya yang ternyata kaku, membosankan, dan penuh aturan.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *