Aroma Ikan, Amanat dan Komik

Minggu, 20 Apr 2008 Jurnal Nasional

Arie MP Tamba

Penyair Mardi Luhung mencul dengan puisi-puisi bernuansa khas: bau sesetan ikan dan kota tepi laut, Gersik sekitarnya, khususnya pesisir Lumpur Gersik. Mardi Luhung memang berkreasi dengan menunjukkan keakrabannya yang kental atas lingkungan kelahiran dan tempatnya bertumbuh, serta menjadi wilayah kerjanya sampai kini. Berikut obrolannya dengan Jurnal Nasional.

Apa kabar?
Baik-baik

Apa buku Anda terbaru? Tentang Apa?
Buku saya yang terbaru adalah Ciuman Bibirku yang Kelabu (2007). Terbitan Akar Yogjakarta. Buku ini berisi puisi saya mulai tahun 1993 sampai tahun 2005. Jadi campuran antara puisi lama dan baru. Di dalam buku ini, saya menggarap pesisir dengan segala persoalannya. Dan tentu saja, di dalam menggarap itu, saya tetap masih terpukau pada tokoh yang ada di dalam puisi. Apakah itu tokoh rekaan. Atau tokoh yang benar-benar pernah saya temukan di pesisir. Khususnya pesisir Lumpur Gresik. Sebuah tempat, yang bagi saya, begitu terbuka, polos dan beraroma potongan dan sesetan ikan. Aroma yang entah kenapa selalu mengingatkan saya pada sekian komik yang pernah saya baca saat kecil. Komik Indonesia yang hitam-putih itu.
Jadinya, jika boleh saya katakan, dalam buku itu, saya lebih banyak berimajinasi dengan gerak fisik. Seperti: kelebat, mengigal, gerayangan, cakaran, menggelinjang, dsb.

Seperti apa puisi Indonesia mutakhir menurut Anda?
Puisi Indonesia menurut saya adalah taman dengan sekian kembang yang berbeda-beda. Tapi saling melengkapi. Ada yang merah, ungu, biru. Dan ada juga mawar, kamboja dan anggrek. Tentu saja, kembang-kembang itu hadir dengan kekhasan sendiri. Yang wangi ya wangi. Yang enggak ya enggak. Dan hal seperti ini mengingatkan saya ketika menjadi PO Sastra Festival Seni Surabaya (FSS) 2007. Lewat acara sastranya, Nirwan Dewanto (sebagai kurator), telah memilih lima penyair dari lima daerah. Lima penyair itu memiliki gaya penulisan yang berbeda-beda. Ada Sindu Putra yang lari ke perenungan dengan tipografi yang bolong-bolong. Ada Zen Hae yang riuh dengan suasana yang mirip karnaval yang bertaburan. Dan ada juga Yoga, Iswadi Pratama dan Gunawan Maryanto dengan gayanya yang tersendiri itu.
Dan saya pikir, ini juga berlanjut pada Festival Kesenian Yogjakarta (FKY) 2007. Coba lihat, betapa kayanya gaya puisi para penyair dalam FKY itu. Nah, kekayaan inilah yang semestinya terus digerakkan. Dan terus dijadikan pembelajaran. Sehingga, isu-isu yang menyatakan jika puisi Indonesia seragam atau diseragamkan dapat dijawab langsung. Sebab, saya yakin, perkembangan puisi-puisi Indonesia selalu lekat dengan keunikan para penyairnya. Yang punya latar belakang dan tempat yang beragam.

Bisa berkomentar tentang puisi-puisi Joko Pinurbo, Saut Situmorang, dan Sitok Srengenge?
Joko, Saut dan Sitok adalah contoh penyair Indonesia yang memang layak untuk diandalkan. Joko dan satirenya. Saut dengan teks-teks yang diselundupkannya. Dan Sitok dengan guman lirihnya yang penuh rima itu. Tiga penyair ini, pun layak untuk dijadikan sebagai obyek dari studi sastra perbandingan. Khususnya studi perbandingan puisi. Sebab, lewat latar belakang, pemikiran dan gaya penulisan mereka yang berbeda itu (meski lahir sekurun), kita akan menemukan persoalan yang saling melengkapi. Bahkan, saling mendeskripsikan.
Sebuah persoalan tentang arah estetika puisi Indonesia saat ini. Yang pada puncaknya, pun akan kita bandingkan dengan karya-karya penyair sekurun atau sesudahnya. Seperti: karya Afizal Malna, Acep Zamzam Noor, Ook Nugroho, Nirwan Dewanto, Raudal Tanjung Banua, Warih Wisatsana dsb.
Lalu menuju ke karya para pendahulu. Apakah itu karya Goenawan Mohamad, Taufiq Ismail, Sutardji, Sapardi, Abdul Hadi WM, Rendra, Sitor. Dan terus sampai pada Chairil Anwar, STA, Amir Hamzah, Muhammad Yamin dst. Wah, saya pikir dengan cara ini, kita akan menemukan sebuah dialog puisi antarkurun yang mengasyikkan.

Bagaimana anda menempatkan kerja kreatif Anda di antara mereka?
Kerja saya ya itu tadi. Yaitu mencoba untuk membandingkan puisi-puisi para penyair antar kurun itu. Misalnya, saya membandingkan Amir Hamzah, Sutardji, Goenawan dan Taufiq Ismail. Lalu, dari perbandingan itu, saya bawa ke tempat saya berada. Yaitu di Gresik.
Oleh karenanya, hampir semua puisi saya lahir di Gresik. Dan tentu saja, dalam perbandingan itu, lagi-lagi saya tetap terpukau pada tokoh yang ditampilkan dalam puisi itu. Dan tokoh itu bisa berupa binatang (kucingnya Sutardji), sosok pangeran (pariksitnya Goenawan), atau orang mati (penerbangan terkahirnya Taufiq Ismail) atau juga benda (kandil kemerlapnya Amir Hamzah).
Nah, setelah tokoh-tokoh itu ketemu, baru saya beri latar, persoalan dan selesaian yang menjadi pikiran saya. Jadinya, jika saya pikir, tepat juga jika almarhum Hamid Jabbar pernah mendorong saya untuk menulis prosa. Sebab, katanya, waktu di Mastera 2002 di Bogor, puisi saya itu lebih cenderung ke cerita. Meski ceritanya sering “kacau” dan fantastis. He, he, he, saya pikir benar juga Bang Hamid.
Saya memang suka pada cerita-cerita yang “kacau” dan fantastis. Ikan paus dapat terbang, hantu bapak yang memegang tali, sepeda yang dikayuh di dalam laut dsb. Dan sampai sekarang, saya belum tahu, mengapa saya suka hal yang seperti itu. Atau jangan-jangan, ini karena ulah komik yang saya baca saat kecil dulu. Komik tentang Mandala, Si Buta dari Gua Hantu, Walet Merah, Djampang, Panji Tengkorak, Aquaman, Gundala, Godam dsb. Akh, kemana ya komik-komik itu sekarang.

Anda sering bepergian ke berbagai daerah mengikuti kegiatan sastra. Seperti apakah sastra daerah yang?
Sastra Indonesia di daerah yang ideal adalah sastra yang berani membuat taman sendiri. Menumbuhkan kembang sendiri. Dan menuliskan pertumbuhannya itu dengan caranya sendiri. Dan jika perlu, berani pula untuk menyapakan dengan taman di daerah-daerah lain. Lalu, tentang sastra yang berorientasi ke Jakarta, bagi saya wajar saja. Selama sastra Indonesia di daerah itu tetap terlihat “taman kedaerahannya”. Sebab, pada kasus-kasus tertentu, ada sastra Indonesia di daerah tidak berterima dengan provinsinya. Tapi justru berterima dengan Jakarta.
Lain itu, cara pandang terhadap Jakarta juga harus dideskripsikan terus. Untuk urusan-urusan administrasi politik dan kenegaraan, bolehlah Jakarta jadi pusat. Tapi, untuk urusan sastra, Jakarta mesti dianggap tak lebih sebagai atau seperti daerah-daerah yang lain. Sama-sama terus belajar. Dan sama-sama saling punya kesempatan untuk meracik cara menulis dan memandang sastra atau puisi yang terus bergerak. Tapi, soalnya, daerah selalu kalah dalam hal publikasi. Terutama untuk publikasi di dalam koran.
Misalnya: saya menulis puisi di koran nasional Jakarta, maka teman-teman dari beberapa daerah langsung dapat menyimak. Tapi, jika menulis di koran daerah, tentu daerah itu sendiri yang menyimaknya. Jadi, bagi saya, beruntuglah teman-teman di daerah yang punya publikasi karya yang cukup bagus. Seperti: Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Semarang dan Bali. Tapi, bagi teman-teman di daerah yang tak punya publikasi yang baik, maka harus berjuang dengan lebih tabah. Dan ini menurut saya adalah perjuangan yang unik.

Seperti apa Anda melihat perkembangan sastra di koran dan perbukuan?
Untuk sastra di koran dan perbukuan, terus terang saya tidak bisa bicara. Sebab, ada koran-koran tertentu, yang konon katanya punya selera tertentu, tapi ketika saya menulis dengan cara lain, cara saya, ya masuk. Dan ini kerap berulang. Meski ada juga yang ditolak. Lalu, tentang sastra perbukuan, saya juga tak punya pengalaman menerbitkan buku di percetakan besar. Waktu di Akar kemarin, saya dengan Raudal, Ida dan Joni melakukan dengan cara kekeluargaan. Tanpa ngomong royalti atau ini dan itu. Buku jadi ya sudah. Puas. Sedangkan untuk sastra di sekolah? Saya pikir, majalah sastra Horison yang lebih layak untuk menjawabnya. Yang jelas, dengan adanya Kakilangit di Horison, karya-karya anak sekolahan (siswa dan santri) dapat terwadahi dengan jelas. Sekarang tinggal memantau perjalanan mereka di tahun-tahun mendatang.

Tentang komunitas Anda di Gersik?
Untuk masalah komunitas, apa pun namanya, bagi saya baik-baik saja. Dan bagi saya, di komunitas itu kita bisa saling belajar. Dan saling membikin laboratorium kecil. Tapi, soalnya, ada komunitas yang memang dihidupi dengan serius. Dan ada yang sebaliknya. Yang serius itulah yang akan muncul. Sedangkan yang sebaliknya mungkin cuma akan menjadi bayang-bayang. Tapi, soalnya juga, apa mau sebuah komunitas tertentu cuma jadi bayang-bayang?
Saya pikir, dalam sastra, kita harus percaya, bahwa: “Tulisan yang buruk akan membunuh dirinya sendiri. Sedangkan, yang baik akan menghidupkan, tidak saja dirinya, tapi juga sekitarnya,” Dan perkataan ini, pun dapat dikenakan pada komunitas-komunitas itu, baik yang muncul atau yang cuma bayang-bayang.

Siapa penyair Indonesia yang Anda kagumi?
Saya paling kagum pada Sutardji, Goenawan Mohamad dan Taufiq Ismail. Pada Sutardji, saya kagum pada buku O Amuk Kapak-nya. Sebuah buku yang saya baca waktu SMA. Tapi, gaungnya tetap melekat sampai kini. Lewat buku itu, saya melihat foto-foto, tipografi dan juga puisinya seperti perjalanan tokoh unik. Tokoh unik yang kerap saya impikan. Tokoh yang bisa terbang ke mana suka. Atau menyelam di kedalamanan mana saja.
Pada Taufiq Ismail, saya suka pada puisinya yang memang sangat komikal itu. Terutama pada puisi Kopi Menyiram Hutan. Puisi tentang hutan yang terbakar. Yang tiba-tiba padam hanya karena tersiram secangkir kopi. Sedap bukan? Belum lagi pada Puisi-Puisi Langit-nya dulu. Ada orang mati yang naik kapal terbang. Yang tangan dan kakinya di rantai oleh malaikat. Wau, imajinasi yang gila!
Sedangkan pada Goenawan Muhamad, saya sering merasa penyair ini kerap melindur ketika menulis puisi. Kata-kata seperti: bulan takabur, sejumput merica, mengguyang kerbau (pada puisi-puisi terbarunya), seperti kata-kata yang sering mencari bentuk tersendiri di dalam imajinasi saya. Lalu yang lebih unik, saat saya membaca Don Quixote-nya, saya membayangkan, tokoh itu hidup di masa kini, lalu dengan kuda kurusnya masuk ke sebuah plaza. Naik-turun. Naik-turun. Lalu hinggap ke toko buku. Dan ketika membuka halaman sebuah buku, pun terkejut. Sebab, ada kisahnya yang ditulis dalam bentuk puisi oleh seorang penyair dari Indonesia. Don Quixote pun ketawa. Lalu balik menulis puisi dengan judul Goenawan Muhamad. Nama si penyair itu. Wah, menarik bukan? Tiba-tiba ada tokoh rekaan dalam puisi, menulis balik si penyair yang telah menulis dirinya.

Seperti apa perpuisian dunia saat ini?
Terus terang saja, saya penyair yang buruk dalam berbahasa asing. Khusunya bahasa Inggris. Jadinya, perkenalan saya dengan sastra dunia atau sastra Nobel hanya dari terjemahan. Dan itu pun saya merasa, bukan membaca karya aslinya. Melainkan karya penerjemahnya. Misalnya, ketika saya membaca puisi Ocatavio Paz, Derek Walcot, Tagore atau Neruda, saya bukan membaca puisi mereka. Melainkan, puisi Sapardi, Saut, Nirwan, Abdul Hadi atau Arif B Prasetyo, yang kebetulan sebagai penerjemahnya. Jadi, barangkali inilah kerugian saya yang terbesar. Oleh karenanya, sambil merangkak, saya saat ini masih mencoba untuk terus membaca secara langsung.

Anda sedang menggarap apa?
Kini saya menggarap puisi dengan tema Pulau Bawean dan sepeda. Untuk tema Pulau Bawean sudah rampung dan siap terbit. Sedangkan, untuk tema sepeda baru rampung sebagian. Yang unik dengan tema sepeda ini, saya dapat menulis sebuah cerpen. Yang sudah saya publikasikan di Jawa Pos. Ceritanya, tentang sepeda yang menabrak dinding tapi tak terguling. Terus menggelinding dan masuk ke dalam lautan. Di dalam lautan itulah, si tokoh, pengendara sepeda, bertemu dengan sekian tokoh, yang notabene tokoh komik. Tokoh yang unik. Yang antara berkepala atau tidak sama saja.
Sedangkan, di puisinya, ada yang berjudul Seperti Adam yang Bersepeda. Sebuah puisi yang bercerita tentang Adam yang naik sepeda ke sebuah pantai, dan ingin memancing Eden. Yang konon akan menyembul jika dipancing. He, he, he, kata teman-teman, puisi ini tak masuk akal. Tapi kata saya, justru puisi yang seperti inilah yang paling masuk akal. Daripada kehidupan di sekitar kita, yang sepertinya aman, tapi tawuran. Sepertinya tenang, tapi tiba-tiba keserbu lumpur dan bandang. Sepertinya baik, tapi tega menjuali aset yang tersisa. Dan yang sepertinya pelopor dan pejuang bangsa, tapi di belakang punggung, menadahkan tangan, sambil berkata: “Ternyata, dunia ini, memang terlalu sakit untuk beramanat!”

Bila ditanya ingin menjadi penyair, pengusaha, pejabat, olahragawan ‘“ anda memilih apa?
Saya akan tetap memilih seperti ini. Dan apakah seperti ini dianggap penyair atau bukan, saya tak perduli. Sebab, saya yakin, sebelum lahir, saya sudah berjanji dengan Tuhan untuk menjadi seperti ini. Menjadi seseorang yang selalu tertarik pada kelebat tokoh. Terutama tokoh yang berbau komik dalam puisi.