Posted by PuJa on September 28, 2008
Suara Merdeka,15 Feb 2004. Marhalim Zaini Siak, sungaimu menyulapku. Perempuan itu, kaurendam di dada senjamu. Pekat hitam rambutnya, setiap kali kaubasahi, tumbuh ribuan bunga kenanga. Menyambangi hidung lelakiku. Segera, di taman imajinasiku, segala yang terindah merekah. Entah di mana tiba-tiba lenyapnya gubuk-gubuk yang runduk di sepanjang tepian sungai itu. Sampah-sampah yang terapung di bawahnya pun [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Jawa Pos, 28 Sep 2008 Beni Setia ADA banyak pihak yang kecewa ketika dengan senang hati Sutardji Calzoum Bachri (SCB) menerima Ahmad Bakrie Award 2008 untuk bidang kesusastraan –sebesar Rp 150.000.000 (seratus limapuluh juta rupiah). Mereka menginginkan SCB meniru Frans Magnis Suseno yang menolak pengharaan itu pada 2007, dengan mengaitkan institusi yang memberi anugerah itu [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Jurnal Nasional, 28 Sep 2008 Theresia Purbandini Tak banyak penyair Indonesia seperti Zawawi Imron, tetap memilih untuk berdomisili di desa kelahiran. Dalam hal ini, desa dengan alam yang kaya, jadi lebih penting lagi bagi Zawawi. Zawawi Imron yang lahir di Batang-batang, Sumenep, Madura pada 1945. Sejak 1970-an, di tengah riuhnya panorama perkotaan memasuki puisi-puisi para [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Dwi Fitria http://www.jurnalnasional.com/ Dalam puisi-puisi Zawawi Imron, muatan lokal yang kuat kerap dipadukan dengan nilai-nilai religi dalam pengertian luas. Ada dua hal yang menjadi kekhasan puisi-puisi Zawawi Imron. Yang pertama adalah hadirnya idiom-idiom lokal Madura yang merupakan daerah asalnya, dan yang kedua adalah muatan Islam yang kerap muncul.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Jurnal Nasional, 14 Sep 2008 Arie MP Tamba Ombak itulah yang membangunkan aku lagi padamu: rambutmu masih hijau meskipun musim berangkat coklat. Kujahit lagi robekan-robekan tahun pada gelisahku dan darahmu kembali mengatakan yang ingin diucapkan jantung.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 27, 2008
During times of universal deceit, telling the truth becomes a revolutionary act -George Orwell Menanggapi beredarnya Long-list Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2008 yang memasukkan buku saya “otobiografi” ([sic] Yogyakarta, November 2007) sebagai salah satu 10 besar kategori Puisi, dengan ini saya nyatakan menolak pengikutsertaan buku saya tersebut. Adapun alasan saya adalah sebagai berikut :
Filed under: Canting
Posted by PuJa on
HIATUS -pesan mai selagi masih ada ruang keberanian biarkan kehendak yang tak masuk akal menaruh kepercayaan, bahwa takkan ada pengucilan akibat kebencian, atau hukum manusia
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on
Haris del Hakim Sudah setahun Lurah Matasan menjabat kepala desa Berbeku. Ia seorang kepala desa yang baik bagi penduduk desanya. Hanya akhir-akhir ini saja punya kebiasaan aneh. Hampir seluruh waktunya habis untuk memancing di telaga desa.
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Nurel Javissyarqi* http://pustakapujangga.com/?p=227 Suara gending-gending masih megalun dalam jiwamu, walau tetabuhannya telah dihentikan, merasakan diamnya ke puncak membiru lalu sukma berbisik, mengetuk jendela perempuan-perempuan abadi (IV: I). Ketukan tembang mengalun ke tangga pesawahan wewaktu, ia membuat minuman yang paling kau sukai sehabis berlatih lama pepohon kehidupan itu menggeraikan tetangkai usiamu (IV: II).
Filed under: Puisi