Balada-Balada, Suryanto Sastroatmodjo

BALADA GAGAK RIMANG

I
Pada jelaga paling hitam, Gusti
Sandang lelakon telah semayam
Biar nanti malam bintangku ketawa
lantaran pentil mempelam jatuh tengah hari
mengusik tidurku di kerakal jalanan desa

II
Akulah penikam itu, bapa! Akoni akon terlongok
Lha wong belum sepertiga menit doaku terbang
dan sang penunggang datang tergopoh
Kini lengkap pelana dan jubah pradah
O, bakal menembus malam kakiku nyongklak

III
Dan tida ‘kan gamang perlawanan
ada di sanggar-sanggar jumagar. Leleh lili kakang
Kala langkah kuayun, dan pagi cengkring
meninggalkan senyap berdering

IV
Lebih bakal tempelak-menempelak nanti
pabila kisah Dang Mantri Pamungkas
terakhir menggiring cicak
terakhir melingsir tandak berpupurtebal!

V
Kilah dan kiat di pupuk
sedang tongkat punden terobat-abit
Alangkah panjang gores pengakuan di
kais di anjungan griya rongsok
Menyanyikan demam geraham, kala Jum’at Kliwon
loncatan senyap malamcengkar. Diriku terpenggal

VI
Santuni dia,para kanak dolanan
yang mengimbang juluk-jaluk taktercurah
Kemudian, pada tawar-menawar liar. Tikam jangkar ,
atilah Dang Mantri Pamungkas
Kugelintir butir pelanangannya
hingga tales-tales apesnya merembes

VII
Pagut-rengkuh pada subuh taubat
Gagak Riamg rebah bagai bersujud
Ah, ah, ah-depan kubur Den Ayu Manyul
menyatakan senapa tawar. Ada yang dinanti
Sang Penunggang yang terpenjara dalam kandung!

BALADA JAGO KEPRUK

I
Nilai dan semburan garam
kusangkut di tenggorok berborok
Tapi kenapa tuan tak gumregah
buat kentong pincang gelagapan?
Aduh, ‘nak jabang, lihat sepinggan ceper
gumletak tak terjamah
Sementara gurung asat, hidung terjongkat
upil-upil yang mengering congkal

II
Ayuh, para sahabat-di mana gapaian mawar
dalam demam kita, dalam dendam serokah
Melilitkan sabuk gatal di perut
Melilitkan bengkung di sengkelut
Tengok, biyung, ada gelagah terbentang wiyar
di kaki lazuardi nan sepuh nian!

III
Aku membilang terimakasih pada sungai dan kedung
atau batang-batang alang-alang, bebatang genjer
Mematahkan sorak dalam dada
memalang kayu glugu dikuncungan pondok
takkan berpaling pada dunia lain

Mungkin Dursasana dan Kartamarma
memasrahkan topeng kepada bunda semasa bocah
Dan Demang Sapujagat, pemilik aji Singabanda
baru kini menyeleh selendang ke pundak sengkleh!

IV
Warna bukit lorkulon tak lagi kunyit
tapi kembara si anak manusia dipungkasi
Selewat satu oktaf dari gending Pandelori
tarian sukmaku nan lilipit
jadi cuwer dan terus menetes: tes, tes, tes,tes, toooos!
Galap cuaca musim gugur
kutabuh dongeng senggang-ladang
Hanyapun pabila kentong pincang memalik
maka aku diseret pulang oleh poyangku

V
O, Allah, dubillah setan! Siapa pernah durhaka
tak sekelumit jeritku di Lebaran tanpa puasa.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *