Militer dalam Novel Kita

Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional,19 Okt 2008

Novel Indonesia dihuni banyak tokoh dari beragam profesi, seperti wartawan, guru, pedagang, mahasiswa, dan juga militer.

Militer seolah tak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia, tak terkecuali dalam perkembangan dunia sastranya. “Bagi para sastrawan angkatan 45, militer sempat menjadi tema yang inspiratif,” kata Nurinwa Ki S Hendrowinoto kepada Jurnal Nasional, Selasa (14/10).

Pramoedya Ananta Toer merupakan salah satu pengarang yang dengan sempurna mengangkat tema militer dalam karya-karyanya. Pria yang dinobatkan sebagai tokoh yang paling berpengaruh di Asia oleh Majalah Time ini memang pernah berkecimpung langsung dalam dunia tersebut.

Disisi lain, militer pula yang merampas kebebasan hidup mantan karyawan Kantor Berita Domei ini. Hampir separuh umurnya terpaksa dihabiskan di balik terali besi, baik pada zaman revolusi kemerdekaan, Orde Lama, maupun Orde Baru.

Di dalam tahanan, secara fisik Pramoedya memang terpenjara, tetapi imajinasinya tetap membumbung tinggi menyentuh cakrawala. Buktinya ketika ditahan Belanda di Penjara Bukit Duri tahun 1947-1949, pengagum Leo Tolstoy ini mampu melahirkan karya monumental berjudul Keluarga Gerilya.

Dalam novel yang diterbitkan tahun 1950 tersebut, Pramoedya bertutur melalui tokoh Sa’aman yang merupakan alter ego dari Wahab. Pada halaman awal novel Pramoedya sempat menjelaskan kalau Wahab adalah wakil komandan pasukan yang dibawahinya dan telah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Belanda.

Kerinduan yang begitu pekat terhadap kemerdekaan memaksa Sa’aman mengamputasi syaraf perih di kepalanya. Demi kemerdekaan negerinya ia harus rela menarik pelatuk pistol untuk mengakhiri nyawa ayahnya karena sang ayah menjadi tali barut Belanda.

Revolusi tak berhenti meminta upeti. Setelah ayah, ibu, saudara, serta ribuan orang lainnya tergeletak mati, kemerdekaan masih harus dibayar dengan nyawanya sendiri. Sa’aman bersedia, bahkan ia menolak meminta pengampunan pada Belanda dan meminta agar eksekusi terhadap dirinya dipercepat.

Pengalaman bersentuhan langsung dalam dunia militer menjadi salah satu nilai tambah bagi Pramoedya. “Pengaruh dari pengalaman tersebut dalam proses kreatif Pramoedya sangat terasa, berbeda dengan pengarang lain yang tidak memiliki pengalaman langsung,” ujar Guru Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Jakob Sumardjo.

Dalam proses kreatifnya, Pramoedya berusaha mengawinkan antara pengalaman, nalar dan pengamatan. Maka tak heran jika karya-karya penulis kelahiran Blora, 6 Februari 1925 ini terasa begitu nyata. “Seorang yang tidak pernah mempunyai pengalaman sendiri maka struktur berceritanya akan terasa datar,layaknya pastur yang bertutur tentang persetubuhan,” kata Nurinwa.

Suasana nyata yang berhasil dihadirkan membuat sebagian pembaca menempatkan karya-karya Pramoedya bukan hanya sebagai sebuah karya fiksi melainkan catatan sejarah. “Jalinan kalimat yang dirangkai oleh Pramoedya mampu membuat pembaca merasakan dinamika semangat revolusioner masyarakat pada zaman itu,” ujar Jakob.

Semangat kebangsaan yang diusung melalui tokoh militer juga ditulis Pramoedya dalam novel berjudul Di Tepi Kali Bekasi. Novel yang memotret gejolak pemuda ini disebut Pramoedya sebagai epos tentang revolusi jiwa Angkatan Muda, dimana jiwa jajahan berubah jiwa merdeka.

Revolusi jiwa ini dikisahkan Pramoedya melalui Farid, sosok muda yang memiliki semangat membara untuk membela tanah airnya. Di tengah desakan kehidupan pragmatis yang diminta ayahnya, ia melangkah tegar menuju medan pertempuran.

Tentulah rangkaian kata yang diuntai Pramoedya akan terasa hambar dan kurang bermakna jika tidak didukung data akurat. “Sampai saat ini Pramoedya adalah pengumpul data terbaik yang dimiliki oleh negeri ini,” kata penerima Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata selama tiga tahun berturut-turut ini.

Pramoedya meletakkan data sejarah sebagai bahan mentah, sementara supaya karya tersebut dapat hidup dan sesuai dengan nalar ia meniupkan ruh melalui daya imajinasi yang melambung tinggi.

Kumpulan data sejarah tentu sangat penting guna membangun karakter, percakapan, adegan, serta konflik, supaya terlihat hidup dan meyakinkan. Bagi para penulis fakta sejarah tidak mengikat dan dapat berupa fiksi. Tetapi ketika menyusun cerita, ia dituntut membangun logika cerita.

Pergeseran Karakter
Pramoedya lahir dari lingkungan keluarga sederhana, ayahnya berprofesi sebagai seorang guru. Pramoedya tak sempat mengecap pendidikan tinggi hanya sampai kelas dua di Taman Dewasa. Kemampuan luar biasa yang dimilikinya merupakan hasil dari tempaan alam. “Pramoedya merupakan sosok yang istimewa. Ia tidak mengenyam pendidikan tinggi tetapi belajar banyak dari pengalaman hidup,” kata Nurinwa.

Jakob melihat kekuatan karya Pramoedya terletak pada karakter-karakter di dalamnya. “Semua itu dikarenakan karya-karya dia berangkat dari pengetahuan dan pengalaman, bukan hasil sekedar lamunan kosong,” ujar ayah empat orang anak ini.

Tengok ketika Pramoedya menulis Tetralogi Pulau Buru yang dibangun dari tetesan elemen sejarah hidup R.M. Tirtoadhisoerjo (1880-1918). Pramoedya berhasil menghidupkan karakter Minke dalam sebuah panggung fiksi yang memikat.

Nama Tirtoadisoerjo yang semula jarang terdengar, perlahan namun pasti mencuat ke dalam narasi sejarah pergerakan Indonesia sebagai seorang protagonis yang tak bisa disepelekan.

Dari baki prosa yang disajikan Pramoedya, terkuaklah jika Tirto merupakan jurnalis pribumi pertama yang menggunakan bahasa Melayu sebagai “bahasa bangsa-bangsa yang terperintah”. Secara sadar Tirto dengan aktif menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa perjuangan dan pemersatu.

Karakter tokoh militer dalam novel-novel Pramoedya mengalami pergeseran dari masa-masa awal kepenulisannya hingga kemudian diasingkan di Pulau Buru. Pada masa awal Pramoedya menggambarkan militer sebagai tokoh pelindung rakyat yang memiliki rasa kebangsaan tinggi. Karakter tersebut dapat ditemukan pada Di Tepi Kali Bekasi (Keranji dan Bekasi Jatuh), Mereka Yang Dilumpuhkan, Percikan Revolusi, Cerita Dari Blora, Subuh, dan Keluarga Gerilya.

Pada Keluarga Gerilya, Pramoedya melukiskan tokoh militer sebagai manusia biasa yang memiliki hati nurani. Penggambaran humanisme pada tokoh militer begitu terasa pada percakapan antara Sa’aman dengan kepala penjara yang berkebangsaan Belanda. “Konflik-konflik yang dibangun Pramoedya tak hanya menumbuhkan rasa kebangsaan, tetapi juga cinta kasih sesama manusia” kata Jakob.

“Revolusi menghendaki segala-galanya… menghendaki kurban yang dipilihnya sendiri. Demikian hebatnya revolusi. Kemanusiaanku kukorbankan. Dan sekarang ini… jiwa dan ragaku sendiri. Demikianlah paksaan yang kupaksakan pada diriku sendiri. Kupaksa diriku menjalani kekejaman dan pembunuhan agar orang yang ada di bumi yang kuinjak ini tak perlu lagi berbuat seperti itu… agar mereka itu dengan langsung bisa menikmati kemanusiaan dan kemerdekaan.”

Nurinwa mengatakan, pergeseran karakter militer pada karya Pramoedya dapat ditemui pada Tetralogi Pulau Buru dan karya-karya setelahnya, di mana ia lebih cenderung memposisikan diri sebagai anti militer. “Rasa muak Pramoedya terhadap militer bermula dari pengalamannya menjadi korban,” kata Ketua Yayasan Biografi Indonesia ini.

Jakob mengatakan, suatu hal yang lazim ketika inspirasi seorang penulis bermuara dari potongan-potongan peristiwa hidupnya. Peristiwa itu kemudian membentuk sederet tanda tanya yang kemudian dituangkan dalam bentuk karya. “Bagaimana karya tersebut bisa menjawab pertanyaan pada zamannya dan masa mendatang,” ujar Jakob.

Pergeseran karakter tokoh militer tidak hanya terjadi pada karya-karya Pramoedya, tetapi pada hampir semua karya sastra di Indonesia. “Kalau dulu tokoh militer digambarkan dengan citra positif, saat ini berubah menjadi sebaliknya,” kata lulusan IKIP Negeri, Bandung ini.

Tokoh militer yang tadinya digambarkan sebagai sosok pelindung dan pengayom masyarakat, berubah menjadi sebaliknya, merusak dan menakuti masyarakat. “Militer menjadi sosok antagonis yang dimusuhi oleh masyarakat,” ujar suami dari Jovita Siti Rochma ini.

Tak Menarik
Selanjutnya, militer seperti dilihat sebagai tema yang tidak lagi menarik untuk diangkat, kalaupun ada jumlahnya sangat terbatas. Para penulis lebih tertarik mengelaborasi tema-tema lain seperti cinta, ketuhanan, ataupun tradisi. “Jarang sekali pengarang yang tertarik mengangkat tema militer, bisa dilihat dari buku-buku yang dihasilkan,” ujar lelaki Klaten, 26 Agustus 1939 ini.

Penulis buku Segi Sosiologis Novel Indonesia ini mengatakan, langkanya buku dengan tema militer karena latar belakang profesi sebagian besar penulis di tanah air adalah guru dan wartawan, sangat sedikit yang berasal dari tentara.

Nah, latar belakang tersebut menyebabkan tokoh yang diceritakan dalam karya sastra Indonesia pun hanya berkisar sekitar wartawan, dosen atau orang kantoran. “Mereka tidak terlalu dekat bahkan asing dengan dunia militer,” kata Jakob.

Situasi berbeda terjadi di negara-negara Eropa, di mana para penulisnya berasal kebanyakan dari kelas atas, sehingga cerita yang diangkat seringkali mengenai masyarakat kelas atas, termasuk tentara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *