Mistik Gojegan Supali dan Chaplin

Fahrudin Nasrulloh

Cekintung Wak Tulkemat
Petuntang-petuntung watuke kumat

Eprekenyes, dulur! Dari manakah ketawa kita meledak? Apa yang tiba-tiba bergerak di aliran darah sebelum ketawa itu dilepaskan? Tak tahu. Karepmu-lah. Tapi, konon, cerita Mbah Sariyo, ketawa meledak saat Gusti Hyang Suci lupa bahwa Ia telanjur menciptakan kita. Atau saat kita dalam sejenak melalaikan-Nya. Karenanya, humor meletus, keliwungan tersingkap, ngakak gentayangan ke mana-mana: di atas kesadaran suci bercampur nista. Bahak yang tersusun dari keremehtemehan yang dusta dan mulia. Manusia kala itu tersadarkan akan satu hal: dunia mengawang, derita lindap, airmata dikeringkan neraka. Iblis dan malaikat istirah sejenak, ngopi-ngopi dan ngrokok di warung Yu Mijang, berleha-santai dari rutinitas terkeji terluhur mereka.

Saat itu, makhluk-makhluk Gusti Kang Murbeng Dumadi yang malang dan eksentrik itu, mengabadikan kembali deru tawa, keterbuangan dari firdaus, untuk menikmati banyolan Chaplin dan Supali yang kuasa menguras kebunekan urip dan kotoran perut mereka: “ngumbah jati rasa, ndudah geni lelara”. Dunia tiba-tiba mengecil, terlarung di pulau tak bertuan, tersucikan. Kesengsaraan dan kebahagiaan mengisut. Terasing ke surga entah. Keseharian yang bejibun kejudekan tergirangkan oleh geguyonan seolah di sana tersimpan kemurnian jiwa terdalam.

Kebenaran tertawa, Mr. Bean keplorot katok klombornya! Di sanalah Chaplin yang berakting bisu, layar film yang hitam putih, gerak-gerik bandelnya, kepencilakannya, kebengalannya, sungguh komedis, keusilannya yang spontan, serta cerutunya di mana korek apinya sesekali dipantiknya dari sepatunya yang rombeng dapat kita suntuki dalam film The Kids, Shoulder Arms, The Great Dictator, atau A Dog’s Life. Terpelantinglah dunia yang penat dan pelik membuyar disergap bahak-cekikikan. Tuhan lupa, dan kita pun jengkelitan. hehehe!

Awan-awan ngrakoti ungkal
Isuk-isuk klelegan kukusan
Dadi prawan ojo cengkal-cengkal
Mengko digasruk jurukunci kuburan

Tang ting tang bonang wak kaji nanggap ludrukan! Lantas kita sedikit tersadar dan diserbu tanya, adakah waktu ujug-ujug terhenti kala kita terhempas menyuntuki Supali yang nglawak dan bikin “usus mengkeret” itu? Ia pendek, tampang culun melankolik. Merangsang geli-gelak. Weteng buncit. Sual kolornya kerap mlorot. Brengos nyoncrong. Rambut kriwul-wul kayak sarang manuk jambul. Gaya jalannya njentit. Pletotan mulutnya pastilah kampungan pol bikin sirna susah sedih kita. Lalu ingatan kita menghambur dalam lakonnya Juragan Tahu, Maling Sepeda, Mayit Gendong Sing Urip, atau Supali Mendem Wedokan. Byarrr!! Jagat kelakar kaum jelata diblejetinya. Dikocakkan dalam dagelan-dagelannya, romantika campursarinya. Pasti malaikat pencatat amal bakal bikin “kotak pahala” baru untuk gojegan Supali yang menyorong kegembiraan dan melepaskan kesedihan banyak orang. “Idkh?lussyur?r”: membuat senang orang itu pahala. Dan tugas para “dai pelucu”yang berkeringat-keringat ceramah sedikit terkurangi.

Mak lhap derr! Maka orang-orang pun seketika melupakan tragedi Lapindo, minyak goreng yang melambung, koruptor yang bledos wetenge, pengemis dan gelandangan yang terlunta-lunta, korban penggusuran, gerombolan pengangguran yang kian menggila, juga selibritis yang hedonis. Lalu Lek Wadi, Cak Karso, Minten, Ning Jinem, Sukarbol, Mbah Jito, Yu Painten, Pakde Dasem, Wak Kaji Sate Bola, Sudarpo, Sudarpi, Mimin lan Mintuno, Wahyu Pambudi Bajigurkali, Sumartol Blawiro Sentonol bin Cindil Kintil-kintil Gondolprawanlimo bin Pakwo Cakcikcok bin Singobegarukgaruk, Munidi, Muniran, Mbokde Siti Denok, Gus Mut Dulat-dulit, Mbah Yai Ran, Samimin bin Samintun, Semanten bin Berasjinten, Misdi Mbong Tekuk, Juariyah Nglirip, Retno Jendil kontalkantil, Mbak Kemprit Geyal-geyol, juga Mat Gembrot Kekatkekot: mereka berduyun-duyun menonton demi menguras ampas perut dan kebusukan tingkah hidup yang keblasuk “memuja dunia” kerlap-kerlip seperti itu.

Menek ondo kayal-kayal
Nemu rondo susune sak bantal

Tentu, mistik gojegan dan keseharian kawanan pelawak tak musti muluk-muluk dibabar-tafsirkan. Mereka sekadar menghibur. Memarodikan ketidakpastian dan ke-nggletek-an hidup yang sebentar ini sebagaimana terlukis dalam buku Ilmu Nggletek Prabu Minohek anggitan Sindhunata yang merekam pernak-pernik keseharian nglawak Kartolo Cs. Selebihnya, tak lebih guyonan semata. Sehabis nonton lawakan Supali dan adegan bisu Chaplin, rengeng-rengeng mungkin terlintas di benak kita wejangan “Ngelmu Pring”-nya Kyai Petruk ini: Pring pada pring/eling pada eling/ eling pepadane/ eling uripe/ eling patine/ eling Nabine/ eling Gustine/ pring pada pring/ eling pada eling.

Ya, semacam mengakrabi hidup dengan sumeleh, khidmat, bertasbih di relung batin tersunyi, bahwa “sejatining ngaurip” adalah kepasrahan tiada ujung pada Hyang Esa dan solidaritas penuh kasih pada sesama. Terkadang kita sendiri perlu mendagel, betapa berat tersenyum, mengongkosi riang, mengubur kegundahan, agar hidup tidak melulu dipikir berat-berat. Santai tapi senantiasa waspada lan eling pada tembang Kyai Petruk di atas. Memang jika dipikir-pikir dengan teropong sufistik-fatalis, “Hidup hanyalah serupa tidur dan impian tersingkat, dan manusia si pejalan mimpi itu terombang-ambing di arung pusarannya,” begitu ujar Ki Ageng Abu Tumahah.

Aih, preketek! Hoelah-hoelah! Kapankah hembusan tawa kita bakal berakhir, dulur? Sempatkah kerabat atau kawan terdekat mencatat gaya “ngekek” terakhir kita sebelum kematian merampas segalanya? Merenggut yang kita anggap sepele dan berharga dari aneka gemerlap, suka-duka, dan segenap yang kita cintai dari hidup ini? Tampaknya hal itu jadi tak penting. Saat ketawa melebur kita, dan Tuhan nun jauh di sana, perlahan turun dan terpingkal-pingkal bersama Supali dan Chaplin.

Auih, jenggeret prekecet manuk dares mencret! Barangkali kaum pendagel tak berniat mengeduk intisari kehidupan, dulur! Supali dan Chaplin cuma berikhtiar tiada putus mentadabburi Tuhan, entah saat Ia terlupa atau terjaga. Merawat kegilaan tersuci ini betapa menyakitkan namun mengasyikkan. Dan selamat untuk kawan-kawan di Maja van Java Cinema Club yang menggelar pemutaran film Chaplin dan ludrukan Supali itu. Yehuwah weleh-weleh! Jah rastafara!

__________________
Esai diskusi film bertajuk “Menembus Dagelan Supali vs Chaplin”, 31 Maret 2008, di Nanggalrekgaleria, Mojosari, Mojokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*