Sajak-Sajak Mashuri

http://mashurii.blogspot.com/
Sajak yang Menolak Ditundukkan

di ujung musim, kepalaku bengkak oleh pikiran
aku lalu memarkir bibir di bir
aku tulis sajak dalam kemabukan —seperti angin
yang berputar dan menjelajah perbuktian
seperti burung yang bercicit dari dahan ke dahan
juga selaknat mayat yang terguling ke lahat
dan dihajar gelap…

aku berharap
sajakku muram —serupa malam yang berderap
ke retina, seperih nyanyi sunyi mengungsi ke bilik
hati; aku yang bercakap sendiri
aku berharap sajak yang menawar dahaga,
menggunting resah kepala…
tapi terngkorakku masih bergasing juga
berkelok di jalan-jalan berlubang
kadang terperangkap, kadang bisa melenggang
sampai bunyi cericit roda pikiran
membentur dinding —menggelinding
ke ruang tak dikenal, tak terpahami, ruang-ruang
liar dari diri

ah, sajak sengak sundal tak mau diajak menjadi begundal
pikiran, sajak yang menolak
ditemali, sajakku melompat ke luar jejak
yang tercetak di jalan-jalan yang terlampaui…
aku pun tak memahami diriku sendiri
o sajak, kenapa kau penjarakan aku di sini!

aku pun menyepi ke ruang berterali
—o sajak, hilanglah segala ruang
kenapa aku cari kebebasan yang berlari di balik kabut
kenapa aku harus bunuh diri demi pikiran-pikiran basi
kenapa aku tak mengungsi…

di tepi musim, aku masih bertugur di tepi
tapi hatiku pun terisi oleh hasrat mati
: tembaklah kepalamu, penggallah kepalamu…

aku tenggak lagi kemabukan, aku tulis sajak-sajak
aku berharap sajakku hitam agar aku terbebas
di dalamnya dalam malam-malam panjang tak terbatas
: melepas pikiran-pikiran, membebaskan hati dari kematian
meski aku tahu, sepanjang musim, sajakku selalu
menolak ditundukkan…

Surabaya, 2008

Ruang Tamu Peristiwa

lelaki itu mencukur rambut kemaluannya di televisi
di ruang tamuku, handuk dan sikat gigi di meja
aku hendak berangkat kerja
aku teringat pada jeda, kisah bunda mengantarku
meneguk mimpi ketiga, tentang peri yang terperangkap
lalu ditelanjangi beramai-ramai
oleh bibir perempuan yang menidurkan anak-anaknya
tapi tak ada bidadari dalam memoriku, juga memori
anak-anakku, pun tak ada keajaiban karena keajaiban
hanya milik peri yang menghuni kisah-kisah pengantar tidur
ketika aku angkat telepon, nenekku segera dikubur
terwarta: ada pentol bakso nyangkut di tenggorokannya
yang menyudahi tugas jantungnya selama 100 tahun
aku teringat pada labirin dongeng 1001 malam itu,
jalannya berliku dengan pusat-darah dicatat berbuku-buku
cerita berbingkai itu membingkai hidupku —sampai aku bisa
onani sendiri dengan pasta gigi
lalu bisa melupakan peri dan cerita parsi itu
tapi lelaki itu tak juga berhenti mencukur di ruang tamuku
setelah rambut kemaluan, ia mencukur rambut ketiak, cambang,
kumis dan rambutnya sendiri; setelah ia sempurna dari evolusi
—ia kemudian mencukur rambut anak-anakku,
istriku, juga rambutku —aku pun membebaskan tubuhku dari bulu
aku lalu bertanya pada istriku yang gundul: ‘masihkah peri itu
tinggal di ranjang kita, agar anak-anak kita segera tidur
sebelum kita sadar bahwa di antara kita tak menghuni ruang
yang sama, kita telah sama-sama mengungsi dari rumah, terusir
dari ruang tamu kita yang berjejalan peristiwa’

Surabaya, 2008

Api Mimpi Rajasa

Sebuah nama, sebuah tanda
Dalam nama tergantung segalanya, meski hampa
tak dikenal hulu-muara, tak dikenal makna-kata
tapi sebuah nama tetap bermakna, tak sia-sia
seperti ruh yang tak kenal angka, mula, atau
sebait panggilan-panggilan sengau, tapi riuh
panjang pasti menggema
di ingatan, di kenangan, juga di malam-malam
sebagaimana adam…

juga Arok!

sebuah nama tak dikenal arti, kecuali api
mungkin carok! atau mengulang sapaan ibu, Endok
tapi ketika benih tersemai di rahim Bunda
dihisapnya hidup sang ayah, Gajah
belalai pun terkulai, hanya gading yang tertinggal
dingin yang retak, amsalkan jejak, asal pal
sebentang nama yang tanggal, tapi kekal
‘ada yang datang, ada yang berpulang’
tapi ada yang bersulang: mungkin Arok julung sungsang

ia lahir di Pangkur, tapi dibuang ke kubur
Lembong menggendongnya, membaptisnya
sebaga putera: sosok pencuri kecil telah tercipta
terbit melewati cahaya, bias cahaya yang menuju arah
entah…

‘dalam Para Datu, ia titisan Wisnu
tapi siapa yang sungguh tahu’

hikayat memahatnya di pohon-pohon hayat
penuh liku; akar-akarnya meliar
membayang di batang-batang hitam
daun-daunnya bersepuh tembaga
seperti sebuah tekad: “tulang iga
yang lepas dan harus dirampas”
ia terlahir dari darah hitam yang memanas
di sumbu-sumbu waktu
kadang memberi amar pada bambu
: buatlah pagar dan pembatas, tapi tak ada janji
segala yang telah ditepati tak bisa retas
oleh api, oleh nyala abadi

ia tak punya pilihan, kecuali harus meraih
ia tak punya angan, kecuali harus menggapai
dilampauinya lalu, ditujunya mimpi —seindah
negeri dewa-dewa, sebuah masa depan yang bernyawa
tak lagi ingat ibu, ayah, juga darah
yang membasah, melayah di sekujur pembuluhnya,
tak lagi ia harapkan lagi tangan-tangan trah
untuk menuntunnya menaiki tangga, bahkan pada pelangi
ia telah berjanji akan menaiki, dengan kaki sendiri

sejarah mencatat lewat taklimat…

sahdan, di sebuah negeri, ketika segala rakyat
masih demikian taat; tak ada khianat
kecuali hasrat —pada wanita, tahta
juga wewangian kembang ketika musim kawin tiba—
ada pusat, ada pusar, ada titik tunggal
tapi tak selamanya pinggir tersingkir,
tak selama titik-titik terpenggal dari akal-takdir
segala lingkaran sempurnakan pusaran
dan Arok menjulang dengan lidah jalang, keramat
kemarahan memintal hari depan
dengan perintah, dengan gairah, dengan letup
berdegup di sepanjang jazirah: kuasa Jawa

tapi ia masih kanak; riak-riak yang bermimpi
menjejakkan jejak di batu-batu waktu
mengukir segala tabir dengan satu sentuh: tubuh
onak pun memberinya bukti, bahwa hidup
tak seteguh mati; mati tetap berderap
meski segala lampu redup, meski segala dunia gelap
meski segala waktu dirampatkan ke titik tak teraih
dalam kelahiran: awal segala raihan
tapi keabadian maut pun terpahat
menitipkan alamat-alamat di kakang kawah, adi ari-ari
puser juga darah yang menyembur
dari liang garba, muasal segala ada, muasal nyawa…

ia mencuri wahyu, dari sebuah waktu
melampirkan waktu lain, menanamkan benih lain
di lipatan angka-angka yang menghening
lalu riwayat mencatat: ia seorang perompak, pencuri
riak yang tuju ombak, seorang yang diberkati
—sakti, dengan berpundi-pundi ruh suci
tapi berkat, juga keramat, hanya bukti,
bahwa mimpi tak bisa lari dari hati
sebab garis edar tak mesti keluar lingkar
sebab segala nubuat tak mesti tersesat ke ingkar
segalanya mungkin, seperti batu tulis menulis sabak hitam
segalanya mungkin, seperti siang yang digantikan malam

lalu nama-nama sampiran, seperti Bango Samparan
memberi arti tentang nasib dan perjudian
juga sekilas nama yang memberi bukti arti
sebuah pencurian hati,
juga pertaruhan yang berarti, nanti
ia pun bangkit dari langit, melangitkan diri,
segera didapatkan nama yang ber-isi
nama yang terakit dari segala bait-bait putih,
langgam sutra penuh hati, kuasa ilahi
di jati Lohgawe: seperti nirwana yang kembali
ke belantara, Arok bisa memetik mimpi, lewat kaki
membuka mata dan hati pada penafsiran suci
bahwa nasib sungguh tak tersalib, jalan yang harus disalib

dunia memang tak terterka, mungkin tak kenal angka
dunia bisa bermula dari kebetulan
ketika Arok meniti pelangi lewat gapura pengabdian
kepada sang akuwu, ia menjalani laku
kepada sang kalbu, ia deraskan rindu
kebetulan pun menderas seperti air terjun
yang akan terus turun dari tebing, teriring ke lembah
saat kuda-kuda berhenti, kereta pun berhenti
sepertinya segala nafsu berhenti
nafas merambati batas; diam, segalanya hamparan
bersepuh kembang; jika malam, gelap pun penuh bintang,
seindah taman swargaloka, sang Indah bermadah
puja-puji, doa panjang, juga alunan musik
yang mengusik raga, menukik jiwa..
Sang Bayu pun terpanah…
angin pun berlayar dari satu jeda ke jeda lainnya
irama gegap, seperti kuda yang tersentak
tangan-tangan gaib, tangan angin tergeragap
menyingkap jarit tuk pertama
buat mata yang tak pernah lelap pada warna
: mata perjaka, indera Arok

‘dari kandang ke kandang
hanya tetes air yang terdengar
dari pandang ke pandang
sinar Dedes yang mengukir getar’

‘dawai telah dipetik, sunyi terbetik
sesuap denting sunyi, berderap-derap bising bunyi
tubuh seakan mengungkai perih, labuh diri ke api
ruh seperti bangkai, busuk tapi suci’

Sebuah rahasia telah terwarta, sebuah angan telah
menuliskan rumusnya: gending-gending perang bertahta
di gendang telinga
Segala indera terpusat ke pusar tak teraba
merabuk segala geletar, menggunduk liar
Sebuah pilihan telah menemukan pintu dan jendela
Rumah khayalan pun dibangun, api pun berunggun
bejana ditengadahkan, piring dan meja disiapkan
: pejamuan siap digelar bersama iringan-iringan
Segala rempah-rempah tertuang, menyedapkan masakan
-masakan mimpi yang masih mentah, dan perlu diberi bara
Wajah Arok membara seperti langit senja
tapi bukan senja yang tergambar: kecuali geletar fajar
merah menyambut matahari, merah Venus…

Dari pinggir ia menyisir, dari alir ia mengukir takdir
lalu waktu menuliskan arah ke pastian,
ketika langkah terus dilesakkan ke pembuktian
ada siasat, ada muslihat, bahkan ada niat-niat
yang tak tercatat: sebab hati begitu dalam untuk diselami
berbekal Venus, ia hunus arus: Gandring pun digiring
ke dingin dinding: keris telah menggaris batas
antara warangka dan rangka, antara upas dan nafas
lautan kutuk mengganas, ketika batas datang demikian lekas
si empu pun mengukir sabda dalam waktu,
di waktu lain, Arok terus meluruskan impian
dalam waktu, ia talkin tubuh-tubuh dingin ke balik dinding
di luar waktu, ia telah menanting ingin, menantang angin

Daun melinjo bernama So, Kebo Ijo dipaksa ngaso

Lontar pun menulis: “cuaca begitu gerimis
Tumapel demikian amis —bunga-bunga sekar disebar
beriring tangis; tapi geletar tak henti di altar
Tunggul Ametung terkapar!
Arok mencuci keris, diraihnya dampar
kencana: diraihnya tahta, wanita juga getar-
getar kalbu yang tak berhenti pada langit biru
sebab zenith masih jauh di cakrawala, langit masih membiru
dalam gelombang-gelombang penantian, larungkan sesal
doa-doa seperti salah dirapal, tetapi ada yang telah kekal
dan tak bisa disangkal: dunia bukan surga!”

di balik kelambu, di peraduan ratu, Arok membisikkan rindu
seperti seorang yang terharu menapaki batu-batu
tapi batu-batu tumbuh demikian cepat dari langkah
kadang langkah memang tak berjangka
bahkan kiblat pun lungkrah, arah seakan tiada
seperti seorang pejalan merasa kehilangan peta,
meski peta sudah tertera di kepala, di hati
juga di hamparan-hamparan seprei…

di rahim Dedes, telah tersemai benih, laksana es
dan Arok adalah api, adalah mimpi
yang tak kunjung selesai, sebelum Daha-Kediri
menjadi abdi, lalu ia melangkah ke dalam waktu
menghitung kembali serdadu: ia pun menyerbu
ia meraih getih prabu di Ganter: mereguk getih biru

cakra telah berputar, nasib telah melingkar
gelar disandang, Sri Rajasa terpandang

namun di luar jam, es telah mencair dan tak diam
tetes terukir ke takdir Anusapati
—putera yang menukik ke bilik duri;
duri yang berdiam di daging, bergasing dari tepi ke tepi
pucuk yang tak berhenti mengoyak kerak-kerak lampau
seperti angin, tak terbendung dinding
seperti air, mengalir dari tebing
seperti api, magma tersimpang di perut bumi, bunting

lewat keris yang belum rampung dibuat
lewat hati yang tak pernah dirawat,
lewat bayi bajang maut yang tak berhenti dalam saat-
saat istirahat; Anusapati melunaskan kesumat
gunung meletus, air berarus, angin berubah lesus
keris pun dihunus!
Arok tumbang, perjamuan berhumbalang; ia sekarat
tapi sorot mata itu masih berkilat
ia meninggalkan alamat-alamat
seperti peta, seperti sebuah negeri dengan kawat
berduri…

“sengkala telah ditiupkan sangkakala
tanah basah darah: lingkaran telah patah
segala renjana menunggu titah
segala pusaka bertuah air mata
: ruwatlah segala nubuat dengan ruwatan murwakala!”

seperti sebuah masa depan, antah-berantah
ketika bahasa darah berdiwana, ketika segala luka
menganga ke dalaman tak terkira:
berabad-abad di jalan kegelapan,
berabad-abad disepuh riuh kesenyapan,
berabad-abad luka tak kunjung bisa disembuhkan

tapi ada yang mencatat, menggurat firasat
ditabalkannya aksara di lelembar wasiat
bahwa dunia bukan di masa lewat, bahwa segala nujum
harus dirangkum dalam langkah dan aum
bahwa sebuah impian adalah kampung yang harus dibangun
dengan keringat, dengan melihat gurat daun-daun…

tapi nama itu, Arok itu, bukan sekedar geletar tak tentu
ia bermimpi, ia melihat kilat suci dari farji sang puteri
ia pun menjadi suami, juga sang amurwabumi

ketika ia diperabukan, terdengar teriakan
:”Inilah api! inilah inti mimpi!”

Surabaya, 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *