NIETZSCHE, AKU TETAP DIET

Nurel Javissyarqi*
http://nureljav.blogspot.com/

(I) Nietzche, obor apa kau nyalakan,
hingga kerajaan jiwaku lebur; bersamamu aku menjelma abu.

(II) Kotoran memuakkan, membanjiri otak dan pedang;
usang sudah, tiada pecahan cermin memantulkan cahaya.

(III) Dalam kandas, aku cacing gemuk berpesta di
ladangmu. Aku-kau; sembunyi di balik hitamnya lumpur
atas panasnya matahari.

(IV) Yang porak-porandakan nurani,
kenapa membangun pondasi? Dan buat apa berbaju sutera?
Sedang kebinalanmu menjadikan warna tak sekadar penggoda.

(V) Dalam lembar tersobek lain, memandang beda
di sudut fikiran; bukankah bola bergerak memutar,
atau kincir air mengalirkan daya listrik?
Jangan taruh di kepala, sebelum temukan ujung samudra,
sebab tiada lain, renung itu butiran garam;
kembali ia, mendekat kepada matahari.

(VI) Senjakala berhala di selat Dwipa,
menyeretmu dewa-dewi menggerogoti bulan,
dan bayang-bayang mengerang dalam pekat;
tubuh-tubuh dendam menggigil keluar padat.

(VII) Seramai-ramainya yang sembahyang
mengelilingi bulan, berkeliaran di langit biru;
harum nyawamu sekuntum kanthil di awan,
adalah pernah hilang di tamansari.

(VIII) Sengaja mengajakmu ke relung terdalam,
sebelum kau tersadar bersamanya;
seberapa jarak usia kita melangkah,
antara waktu-tempat mereka perkirakan,
bagi kepasrahanmu menentukan berjumpa.

(IX) Kabut jaman menebal di setiap kesegaran pagi,
membuyar oleh terangkatnya bola matahari kepadamu,
segaris mengingatkan tersesat, begitu kebodohan gelap.

(X) Senja, senjakala, merah melipat-lipat mega,
inilah amarah gila cakrawala dikelam timur raya,
atas masa-masa menggantungkan ingatan,
ketika rindunya malam dalam dada jaman.

(XI) Engkau endapkan kenyataan memaksa,
menancapkan tulang di kedalaman bumi kesadaran;
inilah mitos, atau ikan-ikan khianat goyangan ombak,
terdampar kering, hangus di pesisir.

(XII) Kekupu mengecup kemolekan bunga di taman,
yang penuh asmara warna, bergerak estetika Jerman,
kumaksud Gandring menyala di medan percintaan;
mengumpulkan awan, kuda gelombang angin lautan
kepada malam-malam berkurang, hanya kejora di matamu.

(XIII) Terlunta kata di gurun lelah menginjakkan cahaya,
olehnya tidurlah sebentar, agar malam berpeluk ia percaya;
selain bunga-bunga padma, kembang lain tiada merekah,
maka marilah bertemanan, sebelum dunia bertenggelam.

(XIV) Dewa-dewi murka, kala ada
menggosok-gosokkan purnama di pucuk-pucuk cemara,
pada cakar pohon gersang, terlaksana keangkuhan dunia.

(XV) Batu melambung, hindarilah mata lembing;
sebaiknya rasan-rasan diri ketika asyik menyendiri,
kala merasai rerumputan hikmah, dan marilah
mendesak maju, di medan perang kebijakan.

(XVI) Serentak kata-kata menghujam,
ini rajaman abadi; aku bersamamu dan mereka
memakan daging merasakan terbang bersama.
Dalam lambung kebutaan; aku diseret angin
melampaui ketinggian gelombang. Tak pernah
kumendarat, pada pintu yang hilang oleh gusar.

(XVII) Ke sana ke mari balon udara;
ini hutang moyang bagi anak-anaknya,
dan ritual suci mendekati kehancuran.
Di sini tempat berperang, dilahirkan-dimatikan.

(XVIII) Langit senja, lepas bayangmu menghadap,
pada lantai marmer pendapa pengadilan;
seorang timur hilang ketimurannya,
seorang barat hilang kebaratannya,
melindasi jaman ke pintu seterusnya,
ada dunia baru lebur, menuju keutamaan.

(XIX) Racun gelap kelaparan, menggeleparkan sayap
kekuatan, menyisakan lempengan tulang-belulan,
dan urat nadi terputus, membebaskan lainnya.

(XX) Pada pemberhentian waktu, gairah hayat berganti;
rantai baja tahan karat, dilumasi minyak torehan warna,
reinkarnasi pengetahuan berputar dari jaman ke jaman,
memasukkan gelombang ke dalam gelombang lautan.

(XXI) Penari waktu, cahaya menyeluruh,
hujan bermata seribu atas deru segenggam debu,
nyawa-nyawa bebijian jagung bersatu warangka ruh,
kepada batang menanjaki dewasa; kekuncup temanten
berkabar berita, akan bebijian ranum berbagi kecantikan
nan sahaja, kepada pedusunan pinggiran kota.

(XXII) Kini masa mempercepat cahaya gelombang,
kilatan kerikil terpecahkan, berdenting ke telinga jiwa,
atas serat-serat sukma bertemunya kasih sayang sesama
yang menyatukan partikel-partikel aura kata-kata pujangga.

(XXIII) Aku terus menyeret kantuk yang sarat,
melampaui malam hingga bentukan purnama;
takkan mengucur kecuali digali,
takkan mendengkur kecuali lalai,
takkan bercinta kecuali tersenggol hati.

(XXIV) Penumpukan bebatuan candi demi kuasa legenda,
yang memenggal berhala, kenapa masih sesembah arwah?
Purnakan senjamu di ufuk pertanggungan bentuk ganjil,
jangan kau rawat balik.
Tidakkah rumah laba-laba kehujanan-kepanasan?
Engkau berlari ke sana ke mari demi kekuasaan,
racun ganas melekat erat, di ruang jabat tangan.

(XXV) Di bukit perubahan, tangan angin kepada yang lain,
bergerak tak ubahnya wewarna bunga-bunga di air telaga,
atau di kebun belakang, bercangkul pada batok kepala.

(XXVI) Seekor kelelawar lamban mengepak; ditinggalkan
anak-anaknya memporak-porandakan kota-kota lama.

(XXVII) Burung dara terbang mengikuti gerak tangan
tuannya; pencarian tujuan baru, semusim berubah terlaksana.

(XXVIII) Pagi-pagi datang kepadamu,
dari mimpi semalam menikmati kesadaran,
degup terangkum arti dalam alunan keseimbangan;
putik-putik menyapa, kekupu bersalam mentari senja,
pada tubuh ketenangan telaga, kau dunia penuh warna.

(XXIX) Kau cemooh Socrates dengan dialektikanya.
Tidakkah kesadaran tempomu mengikuti tariannya?
Ini serangga dalam kuluman bibir teratai; di atas kertas
berdiam diri, sedang embun itu samudera kerinduannya.

(XXX) Aku bukan tergantung konstruksi kata-kata;
Apakah kau kira sebuah bangunan memang benar?
Bukankah kau lihat sebagian atap dibocorkan;
kunang-kunang memperbaharui ruh cahayanya,
bukan bentuk, tapi lebih ke dalam aroma sentausa.

(XXXI) Benar ucapanmu, kuasa atas ayunan nilai dedaun,
namun yang bernafas kau ingkari; keluguanmu
di bawah Socrates dan Plato, dan engkau
lebih dari gaya kemerosotan nilai-nilai.

(XXXII) Kenekatanmu sejajar Vincent Van Gogh,
maka kumerangsek dada; menginjak rumput sama tegak,
pastikan senjakala kematian, pada kilatan pedang serupa.
Sekuat rumput patah ditegakkan,
kawan Voltaire merentangkan tangan kita,
kini sudah, sebelum mereka muntah, dan aku
tetaplah diet, tak makan dagingmu Nietzsche.

——————–
22 Oktober 2000
*) Pengelana asal Lamongan, Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*