Pesta (Poet in Exile)

Sunaryono Basuki Ks
http://www.jawapos.com/

Perjalanan dengan bus malam dari London ke Paris menguras tenagaku, walau tempat duduk nyaman, sebagaimana biasa aku tetap tak bisa tidur dalam perjalanan. Widana dalam stelan jasnya yang trendy menjemputku di stasiun bus dan segera menggiringku menyeberang jalan dan masuk stasiun metro dan melaju ke Rue Losserand tempat dia tinggal bersama istri dan anaknya. Danielle menyambutku dengan hangat pada kunjunganku yang kedua ini. Kali ini aku sendirian, lima tahun sebelumnya aku datang bersama dua orang teman dalam perjalanan pulang dari Columbus, AS.

Setelah bergegas menjamuku dengan sarapan croyssant yang dibeli dari kedai di bawah samping flat, Widana segera meninggalkan kami. Danielle mempersilahkan aku mandi dengan menyediakan handuk bersih. Lima tahun lalu aku tak sampai hati mandi karena aku harus berdiri di bak seng dan menyetel shower yang airnya terhambur di dalam tirai plastik yang hampir menyelimuti seluruh tubuhku. Sekarang, bak itu sudah tak ada, dan kamar shower sudah mirip kamar shower standar, lantai putih keramik dan tirai plastiknya tak menyentuh tubuhku, serta air panasnya cukup. Aku menyerah tertidur di kamar dalam yang disediakan. Rupanya Widana dan istrinya sudah punya kamar tersendiri di samping kamarku, sedangkan lima tahun lalu kami tidur di kamar tamu dan mereka tidur di kamar yang sekarang kutiduri.

Empat pekan sebelumnya, ketika berangkat dari Jakarta, aku singgah di rumah Mas Oyik sebagaimana dipesankan padaku sebelum aku ke Jakarta.

”Aku mau titip buku,” katanya.

Di rumahnya, Kompleks Wartawan Cipinang Muara, aku dijamu makan bakso dari pedagang bakso yang lewat dan Mas Oyik berceita panjang lebar tentang Sobron.

”Sekarang dia menulis cerpen yang bagus, tetapi aku kan tak mungkin menerbitkannya.”

Lalu dia menunjukkan naskah cerpen yang ditulisnya. Dia juga membuka almari bukunya, memamerkan koleksi buku-buku Pramoedya dalam berbagai bahasa.

”Dia luar biasa. Tak salah kalau Prof A. Teuuw menominasikannya untuk menerima Hadiah Nobel untuk kesusastraan. Sayang, dia dikalahkan oleh Wole Soyinka, penyair dari Nigeria yang menulis dalam bahasa Inggris. Berbeda dengan Rabindranath Tagore yang menulis sajak-sajaknya dalam bahasa Bengali.”

Berbekal nomor telepon yang diberikan Mas Oyik, aku menelepon Sobron, yang terperanjat menerima telepon dari orang yang tak dikenal. Dia menyebutkan alamatnya dan bagaimana caranya sampai ke sana. Aku sudah mencobanya sampai di stasiun yang ditunjuk, tetapi rumahnya tidak di dekat stasiun dan aku gagal memakai telepon umum walau dibekali oleh Widana dengan kartu telepon.

Akhirnya, dari rumah aku telepon Sobron kembali bahwa buku-buku akan kusampaikan ke restorannya saja pada hari Sabtu.
***

Kami bertiga tiba di depan restorannya, disambut oleh lelaki yang ternyata bukan Sobron, dan ketika dia muncul, aku juga tak tahu bahwa dia Sobron. Dia menjabat tanganku, mengucapkan selamat datang, dan mempersilahkan aku duduk. Kami juga diperkenalkan kepada lelaki yang pertama menyambut tadi.

”Ini Budi, tokoh pemuda.” Mungkin sekadar mengatakan bahwa Budi bukan sastrawan seperti dirinya.

”Mau makan apa?” tanyanya. Widana, Danielle dan aku saling pandang. Yang pasti aku tak punya cukup uang untuk makan di restoran ini. Di London aku pernah makan malam di Restoran Garuda yang terletak di Shaftesburry Avenue, milik pemuda Indonesia tulen dari Jakarta. Aku harus membayar 27 pound sementara uang sakuku dari The British Council sebagai sarjana tamu ”hanya” 18 pound, jumlah yang cukup karena aku ditempatkan di hotel yang menyediakan sarapan gratis. Makan siang dan makan malamku paling banyak sepuluh pound.

Nampaknya Sobron paham tentang apa yang kupikirkan:

”Jangan khawatir. Gratis. Anda tamu saya,” katanya sambil menyodorkan menu. Justru karena itu aku jadi rikuh. Aku memilih makanan yang paling murah, sedangkan Danielle yang vegetarian tak boleh tidak memilih gado-gado.
”Rendra juga pernah kemari, kok. Mau belanja di Paris, ya?”

”Ah, saya hanya seorang guru, dan ke sini lantaran dapat tiket gratis ikut Summer Course di Aberdeen. Uang sakuku selama tiga pekan seratus dua puluh pound, yang lima puluh pound kubelikan karcis bus pergi-pulang.”

Lalu aku bercerita, walau sudah bertemu dengan Ajip saat Konperensi Karyawan Pengarang se-Indonesia bulan Maret 1964, aku tak benar-benar mengenalnya, apalagi ketika dia menjadi orang kaya yang punya penerbitan dan kemudian menjadi professor tamu di Osaka. Tetapi, aku sering bertemu Ardan di umahnya di Kwitang, kalau tidak di kantornya di Jalan Pintu Besi 31. Ardan menyebutku sebagai Chekov hanya lantaran aku menerjemahkan beberapa cerpen Chekov untuk majalah Berita Minggu Muda yang merupakan anak koran Berita Minggu.

”Ya, kami dulu sering nongkrong di Senen.”
”Ikut dijuluki seniman Senen?” tanyaku.

Dia hanya tersenyum melemparkan kenangan ke masa lalu, saat seniman dari berbagai golongan bergabung.

”Saya terakhir bertemu Bang Ardan di kantor Suara Pembaruan. Sama-sama mengambil honor tulisan. Saya sudah lupa wajahnya tetapi saat kulirik kuitansi honor yang baru dia tanda-tangani di depan Mbak Marini yang mengurus honor, aku membaca namanya dan langsung menyapanya.”

Aku masih teringat pertemuan dengan Bang Ardan. Dia mencoba mengingat kebersamaan kami, tiga puluh tahun sebelumnya. Aku menganbil honor kolom khusus yang cukup besar, tiga buah tulisan untuk tiket Garuda pulang pergi ke Denpasar, sedangkan Bang Ardan hanya menerima sedikit honor. Aku menyalahkan diriku kenapa aku tak memberikan sebagian honorku padanya, pasti dia senang, sama senangnya aku ketika dia memberikan nota padaku untuk dibawa ke juru bayar di Berita Minggu untuk cerpenku yang dimuat di situ.

”Kami bertemu, dan kami juga sering bertengkar,” katanya mengingat Ardan yang sampai tua masih awet kurus. Di hari tuanya dia bekerja di Pusat Perfilman Usmar Ismail di Kuningan, dekat dengan orang-orang film yang kaya tetapi tidak ikut menjadi kaya.

”Bang Sobron suka tinggal di sini?”
”Bagaimana lagi?” katanya lantas tertawa. ”Tapi aku sering pulang sebagai warga Prancis yang bernama M. Sobron, Tuan Sobron, bukan M. Aidit.”

”Jadi sudah tak rindu rumah lagi?” Aku teringat temanku pelukis Kuslan Budiman yang tak pernah pulang karena tak lagi punya keluarga yang dapat dijenguk.
”Di sini banyak teman, kok, orang-orang terbuang,” katanya masih dengan tersenyum. ”Saudara sendiri bagaimana?” tanyanya.

”Saya pengarang gurem, Bang, belum punya nama. Saya nulis puisi, cerpen, novel, esai, yah apa saja untuk bertahan hidup.”

”Wah, hebat!” katanya.
”Tetapi saya kan tak dianggap. Hanyalah pengarang pinggiran.”
”Aku sama saja, sastrawan dalam pengasingan. A poet in exile.”
”Ya, sekarang sedang dibicarakan sastrawan eksil di tanah air,” kataku.

Aku malu pada Danielle karena terus-menerus berbahasa Indonesia, namun dia paham dan mengatakan dalam bahasa Inggris:
”Okay, okay, no problem.”

Ketika Sobron sudah dikenal sebagai penyair, aku baru kanak-kanak. Bahkan awal tahun enam puluhan, saat menjadi mahasiswa Psikologi UI, aku juga tak kenal Sobron secara pribadi. Kukenal Bang Ardan dan Trisnoyuwono hanya kebetulan di kantor Berita Minggu. Aku kenal Titie Said karena dia menjadi redaktur majalah Wanita dan aku membantunya sebagai penerjemah. Aku kenal Motinggo sebab dia kerabat Sanggar Bambu dan aku pernah diberi tugas mengembalikan lukisannya, Kuda Berjemur, yang baru dipamerkan bersama. Aku kenal Poernawan Tjondronegoro sejak dia tinggal di Surabaya dan sering pulang ke rumah ayahnya di Jalan Tampomas, Malang.. Dan, tentu saja aku kenal Soe Hok Djin, Goenawan, dan Delima Alam Surawijaya atau Indriati Iskak yang bintang film, karena mereka teman kuliahku. Aku tetap bukan siapa-siapa walau setiap pergi kuliah mendahului HB Jassin yang jalan kaki dari rumahnya di Tanah Tinggi menuju kantornya di Jalan Diponegoro 82, di lantai atas, dan kami kuliah di lantai bawah.

Saat berpisah, kujabat erat tangan Sobron, tak tahu kapan bisa bertemu lagi, dan entah pula di mana. Politik memisahkan kami. Alangkah kejamnya politik dan kekuasaan! (*)

——————————-
Singaraja 2 September 2008
Pesta = kumpulan puisi bersama Ajib Rosidi, SM Ardan, dan Sobron Aidit (1956)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *