Menyoal Sastra Indonesia dan Betawi

Dwi Fitria
http://www.jurnalnasional.com/

Menurut Nur Zain Hae, penyair Indonesia yang kerap mengeksplorasi nilai-nilai kebetawian dalam karyanya, peran pemerintah lebih menjadikan Betawi semata sebagai obyek turistik. Ini harus ditinjau ulang. Kepada Jurnal Nasional, ia juga menguraikan berbagai pengalaman kerja kreatif dalam pergaulannya dengan sastra Indonesia.

Apa aktivitas Anda saat ini?

Sejak tahun 2000, saya sudah tidak punya kantor yang tetap, freelance, menulis banyak hal, menulis fiksi, esai, dll. Hingga 2006, saya menulis naskah infotainmen di Bintang Group. Namun setelah di DKJ aktivitas yang satu itu saya tinggalkan, agar sepenuhnya berkonsentrasi dengan kegiatan sebagai Ketua Komite Sastra DKJ. Di luar itu, saya menulis apa yang menjadi bidang saya: sastra; puisi, cerpen, esai.

Ada karya baru yang sedang dikerjakan?

Ada puisi, tapi belum selesai. Setelah buku saya yang terakhir, Paus Merah Jambu, tahun lalu, sampai sekarang, belum ada sajak baru. Ada beberapa puisi, namun belum rampung. Masih harus digosok lagi. Ada juga sebuah puisi sepanjang empat halaman, tapi itu juga belum rampung.

Bisakah Anda menceritakan tentang buku Anda sebelumnya, Rumah Kawin?

Saya terlebih dulu menulis puisi ketimbang cerpen. Tapi, justru buku cerpen saya lebih dulu terbit pada 2002. Tahun 1998, untuk pertamakalinya saya menulis sebuah cerpen, tentang perempuan dan kerusuhan Mei. Ceritanya mengenai seorang pelayan di sebuah toko China. Toko itu dibakar oleh para penjarah. Si perempuan yang sedang berada dalam toko itu terbakar kepalanya. Judulnya Perempuan Perban. Kemudian ada semacam pernainan antara perempuan itu dengan manekin, ceritanya ia berdialog dengan si manekin. Agak surealistis sebenarnya.

Setelahnya saya lama sekali tidak menulis cerpen, karena jauh lebih asyik menulis puisi. Barulah pada November atau Desember 2001, saya menulis dua cerpen, satu Rumah Jagal, dan satunya lagi Rumah Kawin. Rumah Jagal bercerita tentang seorang perempuan yang kerasukan setan, seperti banyak kejadian yang terjadi di kampung-kampung. Setiap kerasukan, dia ternyata membacakan sebuah puisi, yang rupanya ditulis oleh seorang penyair yang hilang tanpa jejak ketika kerusuhan 27 juli. Seorang penyair berbakat yang menghilang secara misterius.

Si perempuan sudah menikah dan bekerja di sebuah warung remang-remang. Suaminya adalah seorang penyair, yang kemudian mengambil puisi yang dibacakan istrinya yang sedang kerasukan setan. Saya memang menyukai segi surealistik dalam fiksi. Dalam Rumah Kawin, saya benar-benar menuliskan pengalaman saya bergaul dengan tari Cokek, sebuah tari pergaulan di Jakarta yang biasanya ditampilkan dengan iringan gambang kromong.

Penarinya tidak perlu belajar menari. Yah gerakannya sembarang saja, yang penting bisa ngibing, meladeni para pengibing yang memang suka dengan perempuan. Ada banyak rumors bahwa mereka bisa dipakai, semacam pelacur gitu. Saya pernah melakukan riset tentang ini, saat masih bekerja di Tiras, mereka tidak mengakui rumors ini. Saya juga menulis sajak tentang wayang cokek yang ceritanya mirip dengan Rumah Kawin, tapi judulnya berbeda. Wayang cokek dalam puisi, dan Rumah Kawin dalam prosa.

Seterusnya saya kira saya menulis sejumlah cerpen yang isinya tidak jauh-jauh dari kampung yang pernah saya tinggali. Saya malah baru sadar banyak sekali menulis tentang kampung setelah cerpen-cerpen itu dikumpulkan jadi buku. Dalam kumpulan itu hanya ada dua cerpen yang setingnya kota. Satu berjudul Kota Anjing, itu tentang seorang laki-laki yang sering mengurung diri di kamar, merasa dia seperti mengalami penganjingan, ia berubah menjadi anjing, dia mengasihi anjing, dia mencumbui anjing. Sebuah permainaan fiksi ilmiah yang sayang sekali kurang berhasil.

Satu lagi berjudul Segalanya Terbakar di Matamu. Sebuah cerpen yang saya tulis ulang dari Perempuan Perban. Tetapi saya perbaiki, saya tulis lebih panjang, dan endingnya pun saya ubah. Hasil penulisan ulang ini jauh lebih berhasil dari cerpen aslinya. Dalam berkarya saya selalu seperti itu. Saya tidak pernah percaya pada cerpen atau karya yang pernah saya publikasikan. Akan saya tulis ulang jika saya rasa perlu.

Mengapa demikian?

Biasanya begitu, menurut saya kalau masih bisa diubah artinya karya itu belum terlalu matang. Sepanjang masih bisa diedit menurut saya belum berhasil banget, belum bagus banget.

Berarti karya yang Anda anggap berhasil adalah Perempuan Perban yang telah ditulis ulang?

Itu salah satu yang menurut saya sudah selesai. Yang bisa diutak atik menurut saya malah Rumah Kawin. Ada sebuah tawaran iseng yang mengusulkan bagaimana kalau cerpen itu dibuat skenario film. Dibuat dengan alur yang lebih kompleks, dibikin lebih panjang, konfliknya lebih banyak. Saya sih senang saja kalau bisa menulis itu menjadi skenario film, tapi belum pernah saya coba.

Ada keinginan untuk ke sana?

Saya tertarik menulis karena ada beberapa teman yang mengatakan cerpen itu akan menjadi film yang menarik. Konfliknya itu ada menarik. Aku bilang mau ikut kalau ada yang menggarap, tapi hingga sekarang belum terwujud, baru sekadar niatan.

Bagaimana dengan kumpulan puisi Paus Merah Jambu?

Itu buku puisi memuat 44 sajak dari tahun 92-93 hingga 2006. Sebetulnya saya menulis lebih banyak, tapi menurut saya yang cocok masuk kumpulan hanya 44, selebihnya saya buang.

Saya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menulis puisi. Perlu 15 belas tahun untuk mengerjakan satu buku puisi. Sementara kalau cerpen, saya mulai menulis pada 98. tahun 2004 sudah bisa dikumpulkan sembilan cerpen dalam satu buku.

Saya sih senang keduanya, menulis puisi dan menulis cerpen. Di samping itu, saya juga menulis telaah sastra. Tapi itu jarang sekali, hanya saya lakukan jika diminta untuk membahas buku si anu, membahas puisi siapa. Tetapi kalau saya merasa cukup waktu untuk menulis, maka pasti akan saya tulis.

Telaah sastra yang terakhir selesai untuk puisinya Nirwan Dewanto di Koran Tempo, semacam review. Sekarang ini masih tiga-tiganya saya lakukan, kalau kebetulan sedang merasa asyik menulis cerpen maka saya menulis cerpen, kalau asyik menulis puisi, saya akan menulis puisi, kalau memang ada pesanan menulis esai saya akan menulis esai.

Menulis puisi mungkin jauh lebih susah?

Saya kira iya. Karena menurut saya puisi itu lebih tinggi tingkat ketelitiannya. Pun ekspektasi saya tentang bentuk, tentang isi itu jauh lebih banyak pada puisi karena kalau mau disebut puncak keterampilan berbahasa mungkin puisilah puncaknya. Semakin ke sini, bagi saya semakin sulit membuat puisi. Pertama saya kira, saya makin susah terharu. Karena kalau mau menulis puisi, kaum romantik itu kan seperti itu, harus terharu dulu. Misalnya kalau melihat salju, ke negara dengan empat musim, atau melihat musim gugur musim dingin, atau melihat sesuatu yang membuat dia terharu, maka dia akan menuliskannya. Tapi makin lama saya merasa keharuan saya makin habis. Sudah terlalu terbiasa mungkin menghadapi persoalan.

Yang jauh lebih sulit lagi, ini sifatnya pribadi, karena saya memang selalu ingin menulis dengan kualitas, atau takaran yang jauh lebih baik dari apa yang pernah saya bikin. Ya katakanlah grafiknya harus makin naik, atau paling tidak mendatar konstan, tapi kalau bisa makin naik. Itu yang susah, sementara makin sulit terharu, selain itu waktunya makin sedikit karena banyak yang diurus.

Bagaimana pendapat Anda mengenai perkembangan cerpen dan puisi mutakhir?

Penulis generasi mutakhir menyerap banyak sekali sastra dunia, artinya sumber bacaan mereka banyak, jauh lebih banyak ketimbang yang sebelumnya. Tapi di sisi lain, kalau dulu ada banyak tonggak, ada Chairil Anwar, ada Amir Hamzah, Sutardji, Goenawan Mohamad, ada tonggak yang besar-besar gitu, sekarang ini tidak, merata.

Tapi saya gembira karena eksplorasi para penulis kini di lahan yang jauh lebih banyak. Ketimbang apa yang sudah dilakukan para pendahulu mereka, keterbukaan pada pengaruh sastra dunia, sekarang luar biasa, internet misalnya, kita bisa mencari sajak-sajak dari belahan dunia lain, dan itu mudah sekali. Tidak perlu beli buku, sekarang sudah bisa mendownload cerpen dalam bentuk e-book.

Tak ada yang istimewa dari generasi penulis ini?

Mungkin harus diuji lagi, sampai berapa tahun ke depan. Apakah akan terus begitu, akan makin bagus, apakah hanya sesaat bagus dan lalu hilang, kan banyak sekali yang seperti itu.

Apa kekurangan mendasar dari karya-karya mutakhir ini?

Saya kira sekarang amat gampang menjadi penulis. Kalau kita cek, di toko buku, setiap pekan akan selalu ada buku baru. Yang kita gak tahu penulis itu dari mana, sejarah kreatifnya tidak ada. Tiba-tiba saja muncul, ini dari mana, sekolahnya di mana, mulai menulis kapan, tahu-tahu sudah ada novelnya.

Maksud saya begini. Menulis sastra sudah jadi semacam kebutuhan, semacam prestise untuk banyak orang, makin dimudahkan lagi dengan gampangnya menerbitkan buku, entah itu dengan biaya pribadi atau penerbit yang memang membuka keran untuk menerbitkan fiksi atau puisi dari penulis yang bukan papan atas.

Tapi problem yang kemudian muncul adalah banyak sekali karya sastra yang ditulis dengan disiplin menulis yang bisa dikatakan lemah. Artinya, karena menulis itu dianggap gampang, orang jadi semena-mena, tidak ada disiplin katakanlah, kalau ibarat dalam ilmu kependekaran itu, ilmunya masih dua tiga jurus, sudah mau petantang petenteng,

Bagaimanakan disiplin menulis yang ideal menurut Anda?

Kalau kita mengatakan sastra, karya untuk dilemparkan ke publik, dia harus punya kesempatan dinilai secara kritis oleh para kritikus, para penelaah. Itu artinya berlaku standar penilaian yang selama ini berlaku dalam sastra. Ini hampir tidak terjadi. Karya-karya mereka tidak dibicarakan mungkin karena tidak dianggap sebagai karya yang benar-benar kuat, atau monumental. Sehingga, dengan kata lain, mereka menulis tidak dengan pretensi sebagai penulis sastra yang serius, tapi ya senang-senang saja. Jadi disiplinnya tidak ketat, kendor-kendor. Ya boleh-boleh saja sih.

Jadi tidak ada idealisme lagi dalam menulis?

Saya kira karena mereka tidak pernah berniat menjadi sastrawan yang selama ini dibayangkan, seperti Sapardi, Pram, GM, Sutardji. Sastrawan dengan S besar. Sekadar menulis sebagai hobi dan senang-senang. Itulah yang menurut saya harus dicermati, disiplin menulisnya harus dirawat dan diperbaiki. Tapi itu kan hak orang lain, kalau merasa bisa ya silakan saja .

Di antara buku sebanyak itu, adakah yang menonjol menurut Anda?

Mungkin tulisan mantan peragawati yang sekarang ada di Milan, Afi Basuki, bukunya berjudul Tanggo. Menurut saya dia itu seorang penulis sastra yang tanpa kita sadari, menulis dengan bagus. Saya tidak tahu apakah dia berpretensi menjadi penulis sastra dengan S besar, ataukah hanya bersenang-senang seperti banyak penulis chick lit atau teen lit.

Karyanya cukup lumayan. Dia seorang penulis yang jika dibandingkan dengan Nova Riyanti Yusuf atau Fira Basuki, Afi ini jauh lebih keren. Secara teknis dia menguasai, menulis kalimatnya benar, membangun tokoh juga bagus. Saya kira orang ini berpeluang jadi penulis andal. Meskipun ini tergantung yang bersangkutan, apakah akan terus begitu ataukah hanya sekadar hobi.

Siapakah di antara para penulis masa kini yang akan terus bagus dalam sepuluh tahun ke depan?

Kalau dalam puisi, saya kira generasi penyair yang lahir pada 80-an ada 2 orang yang berpeluang. Satu namanya Faisal Kamandobat dari Yogyakarta, bukunya baru saja diluncurkan di Warung Apresiasi Bulungan. Satu lagi M.A Mansur dari Makassar. Kalau perempuan ada, Pranita Dewi dari Bali, Nurwahinda dari Yogya. Dina Oktaviani saya suka, atau beberapa nama lagi, tapi harus secara khusus dibaca. Itu hasil pembacaan saya dari beberapa sajak mereka yang muncul.

Kalau prosa yang generasi saya ada Linda, AS Laksana, dan Azhari yang lebih muda. Untuk para penulis yang mengeksplorasi tema lokal dari Bali ada Warih Wisatsana, Sindu Putra, Raudal Tanjung Banua, selain itu ada Gus TF, Iswadi Pratama dan Ari Pahala Hutabarat. Tapi ini hanya daftar, selebihnya harus diuji lagi karya-karya mereka sampai sepuluh tahun ke depan apakah akan terus mendaki.

Apa yang membuat sebuah karya bisa bertahan lama?

Mungkin dia harus mengatasi waktu periode di mana karya itu dibuat. Kalau kita cek, sajak-sajak Chairil menjadi abadi karena kita tahu, sajaknya modern dari segi bahasa juga tema. Cara pengungkapannya sangat baru di masa 40-an tetapi sampai hari ini masih terasa segar. Pada Chairil ada semacam keterbukaan terhadap sastra dunia. Karya dengan kualitas seperti ini dalam memori kita yang terbatas jadi lebih panjang usianya. Sastra yang bagus selalu begitu, akan tinggal dalam memori dalam kurun yang lebih panjang. Bahkan lebih panjang dari perkiraan penyairnya sendiri. Dan itu hanya ada dalam karya-karya Sapardi, Goenawan Mohamad, Sutardji Calzoem Bachri.

Orang seperti Pram juga harus dicatat. Pada masanya, ia seorang pengarang yang dikenal di luar karena prosanya yang mengandung nilai keindonesiaan yang luar biasa kayanya, realisme yang kuat, detail yang kuat, itu jadi catatan tersendiri.

Formula Anda sendiri untuk membuat karya yang tak lekang dimakan waktu?

Seperti yang dilakukan para penulis lain, saya membuka diri seluas-luasnya pada kemungkinan lain di luar sastra Indonesia. Sastra dunia. Kalau kita selama ini menganggap hanya novel realis Pram yang bagus, sebenarnya di luar sastra kita banyak sekali novel realis yang bagus. Dan jenisnya beragam.

Atau kalau kita melihat karya Sapardi sebagai sajak lirik yang kuat, kita bisa membandingkannya dengan sajak China klasik, Brazil modern, atau Haiku. Yang saya lakukan seperti itu. Membuka diri bagi kemungkinan lain, ya belajar terus menerus. Artinya tidak boleh berpuas diri. Harus terus mencoba memperbaiki, meningkatkan intelektualitas agar tidak beku dan stagnan. Bakat dan intelektualitas harus berjalan beriringan, bahkan harus lebih banyak intelektualitasnya, sehingga dalam karya akan makin kelihatan isinya.

Pengaruh siapa yang paling kuat untuk anda?

Borgess untuk prosa. Ia tak menulis novel. Tapi fiksi-fiksinya pada tahun 20-an, 30-an itu sangat cemerlang. Kadang fiksi yang ditulis bukan sekadar fiksi, tapi setengah fiksi setengah esai. Misalnya, ada cerpennya yang judulnya pendekatan terhadap Al-Muktahsin, sudah diterjemahkan oleh Hasif, itu fiksi yang seperti resensi buku, prosa yang seperti resensi buku, ada tokoh yang mengulas sebuah buku yang fiktif. Atau ada fiksi seperti ensiklopedia, menurut saya dari segi bentuk itu menarik, saya senang melihat ada fiksi yang begitu. Saya juga suka Saramago.

Puisi saya suka Nerruda, Wolf Steven, Derek walacott, Wislawa Szymbroska. Saya mungkin tidak tertarik menulis sajak seperti itu, karena puisinya bening, gak ada metafornya, tapi isinya banyak ironi, pengertiannya sangat dalam. Saya menyukainya meskipun tidak akan membuat puisi seperti dia. Saya kira, makin banyak baca akan bertambah banyak pilihan. Tapi harus dipastikan juga, kita akan memilih yang mana, kuncinya itu.

Bagaimana dengan para penyair dari Indonesia?

Untuk fiksi, saya suka Asrul Sani, ia tidak pernah menulis novel tapi ia pernah menulis kumpulan cerpen yang diterbitkan Pustaka Jaya pada tahun 74. Ada sebuah cerpen yang sangat menarik. Ia menulis itu pada tahun 49 atau 50, masa Pram dan Asrul. Dan ia menuliskan cerpen ini dengan cara berbeda.

Asrul menulis sebuah kisah tentang revolusi, di sebuah kota kecil yang ia beri nama R, di Sumatera Timur. Amat kocak. Kemerdekaan Indonesia, membuat kota itu dikuasai oleh kelompok pemuda revolusioner. Pemuda ini menyuruh orang-orang tua feodal yang ada di kota setiap hari baris-berbaris mengelilingi pasar. Belajar baris-berbaris sampai mati.

Tiba-tiba tokoh pergerakan menghilang entah ke mana. Karena tak ada lagi pemimpin, maka pergilah dua orang ke kota. Sekembalinya dari sana, saat turun dari bis, salah seorang berkata, Saya Haji Jala, Kolonel Tentara Allah. Ini amat kocak dan ironis, dan Asrul bisa mencela tokohnya dengan rileks. Bagaimana di masa revolusi semua bebas mengklaim diri sebagai pemimpin revolusi. Ini juga mungkin yang menginpirasi salah satu adegan di film Nagabonar.

Saya juga suka Pram, tapi tidak terlalu mengidolakan. Untuk sajak, saya suka Goenawan Mohamad. Sapardi boleh juga, demikian juga Sutardji.

Bagaimana dengan Afrizal Malna?

Waktu kuliah saya suka, tapi ternyata lama-lama berat juga memasuki sajaknya. Lama-lama saya ngeh, kok jadi ruwet?

Mengapa dalam karya Anda ada begitu banyak unsur budaya Betawi?

Saya menulis sesuatu yang saya anggap paling dekat dengan diri saya sebagai seorang pengarang. Artinya selama ini yang paling dekat dengan saya itu kampung. Bukan semata sebagai sebuah lanskap. Selama ini saya tinggal di sebuah kampung di Jakarta Barat, berbatasan dengan Tangerang. Sebuah kampung yang sangat cepat berubah. Pada 80-an belum ada mal, tiba-tiba ada Puri Mal, ada kantor walikota Jakarta Barat. Juga banyak kompleks perumahan.

Saya ingat kompleks perumahan yang pertama kali di bangun di tempat saya namanya taman Meruya Ilir, itu dibangun pada 77, saya baru tujuh tahun. Tiba-tiba kampung berubah, sungai jadi tak alami, airnya kotor dan bau, tak ada lagi ikan air tawar, jadi saya mengalami semua perubahan ekosistem dalam kampung saya.

Juga jenis-jenis kesenian yang hidup. Dulu zaman saya kecil, Cokek adalah kesenian yang amat populer. Setiap orang China kawinan saya nonton cokek. Sebagai anak kecil lucu juga melihatnya. Tiba-tiba saya merasa kenapa saya tidak menulis tentang kampung. Awalnya saya tidak begitu tertarik. Lama-lama saya pikir, ah nggak ada yang nulis juga nih, makanya saya tulis, hal-hal yang berbau Betawi.

Sampai sekarang saya masih melakukan itu, tapi dengan strategi penulisan yang berbeda, katakanlah dengan yang dilakukan oleh Firman Muntaqo, yang menulis Betawi dalam bahasa Betawi. Atau SM Ardan yang menulis Betawi dengan bahasa Indonesia tetapi melulu cerita Betawi. Kalau dalam karya saya, unsur kebetawian hanya titik berangkat. Selebihnya lebih banyak meluaskan sumber ciptaan. Sebab, bukan hanya kampung yang penting buat saya; tapi seluruh kampung dunia, seluruh khasanah sastra, itu juga penting bagi saya.

Bagaimana Anda melihat budaya Betawi saat ini?

Sebagai seorang yang hidup dalam lingkungan yang berubah saya merasa banyak sekali yang hilang. Artinya karena perkembangan kota amat pesat dan tak terkontrol, banyak kampung yang hilang, banyak kesenian yang hilang, juga banyak artefak budaya yang hilang, dan tidak dirawat dengan baik. Pemerintah juga kurang memfasilitasi si pendukung kesenian untuk merawatnya, dibiarkan saja mati.

Pemerintah misalnya melakukan konservasi seperti dengan mengumpulkan orang Betawi di Setu Babakan. Saya merasa mereka malah dibuat seperti orang Indian di konservasi. Kalau mau ulang tahun Jakarta kemudian orang berbondong-bondong perg ke sana untuk “melihat” orang Betawi. Menurut saya cara memperlakukan Betawi seperti itu amatlah ironis, norak dan amat turistik.

Betawi sebaiknya dibiarkan saja berkembang sebagai satu entitas budaya bersama-sama dengan kebudayaan lain. Sepanjang itu diberi semacam hak berkembang yang sama dan difasilitasi. Harus ada turun tangan pemerintah untuk mengatasi itu, tapi bukan dengan pendekatan turistik yang menurut saya amat menjengkelkan. Sebaiknya diberi kesempatan regenerasi dengan memberikan pendidikan.

Bagaimana membuat kesenian tak bersifat turistik sementara diberi dukungan pemerintah?

Saya pikir pemerintah bisa mengembangkannya tanpa pretensi untuk kepada wisatawan. Harus dilajukan dengan kesadaran bahwa biarkan kesenian berkembang menurut sifat dan karakter bawaan masing-masing.

Jangan diberi semacam penghalusan seperti yang dilakukan pemerintah Tangerang dengan membuat kostum seragam dan sopan untuk para penari Cokek. Biarkan saja berkembang menurut apa yang dipahami dan dipercayai oleh para pelakuknya. Bahwa pemerintah harus memfasilitasi pertunjukan jika perlu memberikan bantuan pelatihan bagi para pemusik juga aktornya. Memang sih rekayasa, tapi pemerintah harus bisa mengambil lebih banyak peran, bukan hanya mengambil momen saat ulang tahun Jakarta untuk membicarakan kesenian Jakarta. Setelah itu lupa. Harus terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *