Puisi-Puisi S Yoga

http://www.jurnalnasional.com/
PELABUHAN PANARUKAN

tuan-tuan dan puan-puan sekalian
nikmatilah hidangan senja hari
sebuah cahaya yang telah kami serpih-serpih
menjadi sup kenangan yang berkuah rindu
yang dapat tuan-tuan nikmati sebagai sejarah
airnya kami peras dari hutan dan gunung
dan kami peram dalam doa-doa kesunyian
doa yang berasal dari kelaparan bumi dan langit
dari rumah yang bercahaya sepanjang waktu
dan sebuah rindu yang membutakan mata hati
akan tanah leluhur yang tuan miliki
ladang tebu telah tumbuh di hati kami
yang petanya tuan bahwa hingga ke seberang
tempat musim-musim dibekukan oleh waktu

Situbondo, 2008

JALAN-JALAN BERLUMPUR

di sini jalan-jalan menjadi licin berlumpur
oleh hujan airmata sepanjang tahun
di mana jejak-jejak batu hitam
pabrik, perkebunan dan sungai-sungai
menjadi berhala yang harus kami lalui
menjadi muara sejarah yang bungkam oleh senjata
di mana kenangan buruk menikam
dari sebuah hutan yang terbakar
hingga kegelapan
menyelimuti rumah-rumah

dari sebuah pantai kapal-kapal telah bertolak
dengan harum bunga cengkih dan tembakau
yang diangkut dari kenangan tanah yang kalah
lambaian budak dengan tangisan malam berteriak
beri kami madu kerinduan tuan
yang terbakar di meja judi
sebelum anggur yang terakhir tandas di perjamuan
sebelum peta-peta merangkak hingga jejak kerajaan
tanah tawanan atas nama negara dan agama
hingga hutan-hutan benderang oleh siluman
rawa-rawa kelam oleh arwah
sungai-sungai cemas oleh emas
melihat layar-layar kapal hitam berkibar
membawa senjata dan bahan peledak
untuk kami terima sebagai
saudara kembar

Situbondo, 2008

KOTA HANTU

antara anyer dan panarukan
kutemui kota-kota mati yang bangkit kembali
karena kerinduan dan doa-doa yang dipanjatkan malaikat
roh-roh bergentayangan di pohon-pohon tua
jalan-jalan menjadi sepi
karena nyala api tak henti-henti
sungai-sungai meluap mencari muara yang hilang
palung-palung terselubung bayang-bayang
membuat pusaran arus waktu dan gelombang
yang merebut kota dengan satu hentakan
serupa firman yang terucap
di kegelapan

Situbondo, 2008

KOTA TUA

kota tua, jalan hantu, rumah biru, laut lepas
iakah saksi sungai-sungai yang dialiri garam
tembakau, gula, kopi dan cengkih
ke dermaga-dermaga
sebelum kapal-kapal berangkat
jauh meninggalkan dirimu yang buta
nun menuju kota-kota cahaya
diiringi desir ombak menggulung kesunyian
dan terdampar di pasir hitam sejarah
yang kelam oleh kuasa dan darah

Situbondo, 2008

DI JALAN-JALAN KESEPIAN

di jalan-jalan kesepian
di jalan-jalan kemurnian
menciptakan hantu-hantu baru
berseliweran di sepanjang pantai
dan kini tengah menguasai kota-kota
dengan wajah-wajah miring dan asing
yang memasuki rumah tanpa permisi
membeli semua jejak dan kenangan kami
sebagai keperihan masa lalu

beri kami waktu untuk memburumu
agar kota ini menjadi serpihan cahaya
di mana pohon-pohon dan binatang-binatang
bersamadi bersama kami tanpa merasa takut

bawa aku kepadamu agar iga risauku
menjadi menu sarapan diperjamuan tuan-tuan
agar semua keringat menjadi anggur kemabukan
sebelum kegelapan membutakan pikiran
yang memandang diri dengan mata terbalik
beri kami harapan agar semua musuh-musuh
dapat kami rengkuh dalam semestamu

Situbondo, 2008

MERCUSUAR

menjulang seolah pohon purba
di bawah tatapan sinar bulan
berdiri bagai malam tak beranjak
terlihat punggungnya kelam gemintang
yang runcing menghadap langit
rupanya ia penasaran
tak pernah bisa meruntuhkan bintang
dengan doa dan mantra
di antara gang dan lorong remang
isyarat air dan bara api
telah membuatnya lebih tabah
di antara angin dan badai yang datang bagai kabut
yang siap menjadikannya tawanan hidup
akan kesunyian yang membekas di dinding usia
tempat dulu kapal-kapal diarahkan ke laut luas
ke jalan lapang
yang menyimpan
semua firman

Surabaya, 2008

GITAR TUA

selalu lepas dari jangkauan
seperti cahaya yang lebur di dalam kabut
ia geliat sepanjang jalan
ia purba dalam suara
dan nyaring di dalam duka
di remang-remang kudekap ia
agar bisa kuterka betapa dingin di dalam gelap
lebih tua dari jemari yang memetik
di antara nyanyian petang
terdengar suara malam
sebelum jejak jemari terhenti
memetik nada-nada rindu
dan sebelum kata terakhir terucap

Situbondo, 2008

SAJADAH

ia terang di dalam gelap
tempat waktu berhenti sejenak
memanggil tanpa kata-kata
mengucap tanpa mantra
menyibak makna tanpa rahasia
ia lebih muda dari pikiran
ia lebih pasrah dari hasrat
ia lebih luas dari luka
ia lebih tabah dari bencana
ia lebih tinggi dari keinginan
ia lebih dalam dari duka
ia tempat istirah yang abadi
bagi tubuh yang lelah
bagi pikiran yang sesat
bagi rasa sakit yang merintih
ia adalah doa ketika kita ingat
ia adalah selimut ketika mata terpejam
dan ia hanya selembar kain
ketika kita lupa

Situbondo, 2008

SMS

berkali-kali sudah sms ini kukirim
namun tak pernah ada jawaban
di mana kini kau berada

di bukit, di laut, di luar angkasa
atau di suatu tempat yang tak terjangkau
namun bisa kau pahami kegelisahan

dan kerinduan ini

pernahkah kau mengerti kesunyian ini
kegudahan menjadi api yang tak pasti
ingin kukirim foto yang terakhir

agar engkau tahu
bagaimana api diri
telah membakar birahi

namun semua alamat
email dan no hp tak bisa kudapat
dirimu sembunyi di pelupuk mata

dan sunyi hati

Situbondo, 2008

DI RUMAH TUA

kuserahkan semuanya padamu
kuikhlaskan hidupku jadi pelayanmu
kusiapkan tempat dimanapun kau mau

tubuhku hanyalah daging yang tak berarti
karena itu kupasrahkan semua untukmu
agar engkau mensihirku dengan kasih

jangan ragu untuk membelaiku
karena memang itu harapanku
yang selama ini kuidam-idamkan

sambil kau bisikkan rahasia kata-kata
ke dalam telingaku yang tuli oleh waktu
agar semua perintahmu bisa kuterka

agar firmanmu menjadi bukti
bagi diriku yang kesepian
di rumah tua

milikmu

Surabaya, 2008

TELUR

ia lebih lengkung dari alismatamu
tempat menyimpan rahasia dibalik makna
lebih berwarna dari bianglala
yang menyimpan cahaya dari semesta

ia lebih putih dari gugusan sedih
yang menyelimputi rerumputan
lebih embun dari hujan airmata
bunga kamboja di kuburan

pedih ia melintasi sungai yang memanjang
sebelum terdampar di sebuah telaga
ia bukan biru seperti lautan menyimpan ombak
tempat duka burung-burung camar

ia lebih muda dari usia tangis bayi
saat dilahirkan dan mengenal warna dunia
ia lebih suka sendirian di dalam sepi
di dalam cangkang matahari

sebelum panasnya memecah kabut musim gugur
sebelum ia disebut api tempat samadi kaum lapar
sebelum hijau daun lebih hijau
dari riwayat kematian sang bunga

di mana kematian merupakan sekarat yang nikmat
ketika berguguran ke bumi dihempas angin senja
lebih senja dari sayap burung mengibaskan waktu
lebih rindu dari batu yang tergelincir ke sungai

adalah dirimu yang tampak dalam diam
di mana kerinduan adalah waktu yang diuji duka
ia hanya sebuah telur yang tak mengenal lingkarannya
yang sepanjang hidupnya memandang kekosongan

Situbondo, 2008

IA TUA SEPERTI PERBUKITAN

ia tua seperti perbukitan
hangus dibakar bara api
kuning seolah tubuh telanjang
dengan gunung kembar yang memancar
percik api masa lalu
di dekat mercusuar
tempat perjanjian dulu
sebelum badai laut datang

Situbondo, 2008

LAUT
ia biru seperti gelombang lautan
yang menyimpan rahasia dan kesunyian
di palung paling dalam
tempat semua air menjadi jernih
tempat semua cahaya tak terlihat
tempat jalan lapang menuju muara
di antara karang-karang dan pasir laut

Situbondo, 2008

KABUT

ia tak peduli pada malam
karena ranum tubuhnya telah dijanjikan
karena manis mulutnya telah diperam musim
hingga jubahnya berkilauan terkena embun

ia menyimpan sihir bagi diri yang kerontang
karena dulu langit pernah bersabda
akan membawa kabut kemarau

agar ia pandai menyamar
bagi si pececap pertama
yang haus oleh rasa

namun ia lupa
bahwa angin
yang mengendalikan arah
hingga musim selalu berubah

Situbondo, 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*