On Rendezvous: Affandi dan Chairil Anwar

Fahrudin Nasrulloh
Jawa Pos, 20 Mei 2007

Pada mulanya Chairil Anwar, pada 1946, mempersembahkan dua potong sajak kepada pelukis lembah Gajah Wong yang berjudul ?Kepada Pelukis Affandi? dan ?Betinanya Affandi?. Dua sajak tersebut dipersembahkan Chairil kepada Affandi sebagai tanda persahabatan. Ya, sajak persembahan; di situ Chairil seperti menangkap ledakan dari segala hidup dan kenangan Affandi, tapi barangkali selalu mrucut, menjelma bayangan samar yang diikhtiarkan kelak mengekal. Meski kesunyian Affandi sendiri, sampai kapanpun, tak akan pernah utuh direngkuh.

Namun jalangnya, Chairil memang bernyali besar. Sebesar kenekatannya yang meradang menerjang itu. Dan entah dengan daya apa atau serupa kegilaan mistis yang nelangsa yang coba disosokkan, hingga ia tergerak untuk membikin sajak persembahan itu seolah bersama tongkat sihirnya ia yakin pernah berhening seribu tahun lantas meledakkan dirinya dalam kehidupan mahapanjang Affandi. Bisakah pembayangan ini semata mengada-ada atau malah menjerumuskan siapa saja? Setidaknya, lantaran mereka pun telah tiada, mungkin serupa itulah gambaran remehnya. Tapi baiklah. Kita cuplik dulu beberapa larik dari dua sajak tersebut: ? Dan tangan ?kan kaku, menulis berhenti,/kecemasan derita, kecemasan mimpi;/ (Kepada Pelukis Affandi). Lalu sajak kedua: ? Matamu menentang ? sebentar dulu! ?/Kau tidak gamang, hidup kau sintuh, kau cumbu,/sekarang senja gosong, tinggal abu?/ Dalam tubuhmu ramping masih berkejaran/Perempuan dan Laki (Betinanya Affandi).

Dari dua sajak itu, kiranya dapat saja muncul sebetik tanya: apa gerangan sehingga seorang penyair membikin sebuah sajak yang diperuntukkan bagi seseorang? Pasti di sana ada kenangan yang coba diabadikan, sebagaimana pemberian kado atau sovenir pada seseorang yang dianggap istimewa. Tapi persoalan akan menjadi lain saat tanda kenangan itu berupa sajak atau lukisan misalnya.

Karena itu, mari kita telusuri terlebih dahulu beberapa cerita berikut. Pada Jumat, 29 April 1949, Affandi juga mempersembahkan sebuah lukisan tentang Chairil. Riwayat ini bisa ditelisik dari memoar pelukis Nashar (baca: Nashar oleh Nashar: Yayasan Bentang Budaya, 2002, Jogjakarta). Suatu saat Nashar pernah dititipi secarik surat oleh Charil untuk disampaikan kepada Affandi. Surat pendek itu bertulis begini: ?Affandi, kapan kau akan memulai membuat lukisan seorang Pujangga Besar?? Di bawah surat itu tertoreh tanda tangan Chairil. Pujangga Besar? Siapa pula sebutan itu, pikir Affandi mungkin, kalau bukan si Chairil sendiri yang mengaku-ngaku demikian.

Pada 29 April 1949 itu, kita pun masih menemukan tilas dua sosok ini dari sebuah buku karangan Nasjah Djamin yang berjudul Hari-hari Akhir Si Penyair (Yayasan Indonesia, 1982, Jakarta). Di sampul buku tersebut terboreh lukisan Affandi tentang Chairil. Menurut Nasjah; pada malam kematian hingga acara pemakaman Chairil di Karet, Affandi memang tidak mengikuti prosesi akhir itu. Waktu itu dia bersama Wakidjan dan Zaini yang sehabis dari pemakaman langsung meluncur ke sanggar Affandi di Senen. Mereka melihat konco-konco terdekat Chairil sedang santai mengobrol dan bercanda ceria di sebuah restoran Cina. Sungguh, bila membayangkan kawan-kawannya itu; Bukan kematian benar menusuk kalbu. Betapa, yang mati sudah benar mati, dan yang hidup masih saja meneruskan hidup. Mereka lalu menemui Affandi yang sedang membenam diri di hadapan lukisan Chairil. Saat itu Affandi berkata, ?Maaf saya tidak ikut tadi mengantarkannya ke Karet, Dik! Dari CBZ (Centraal Burgerlijk Ziekenhuis. Sekarang RS. Cipto Mangunkusumo, Jakarta) saya terus pulang. Untuk menyiapkan tarikan terakhir pada lukisan Chairil. Sebab saya takut besok lusa saya tak menemukan lagi ke-Chairilan-nya Chairil.?

Cerita Nashar dan Nasjah tersebut seolah menemukan muara kisah tak terduga. Terbukti bahwa Affandi telah membalas-lunas dua sajak persembahan Chairil dengan sebuah lukisan yang diberinya judul ?Chairil Anwar?. Dalam karya Affandi itu terlukis sosok Chairil yang bermata merah saga seakan-akan hendak menerjang segala apa yang menghadang. Dengan latar warna merah penuh gairah dan dibayang-bayangi paha-paha perempuan berwarna kuning keputih-putihan. Juga kuda jalang yang meringkik hendak lepas terbang. Konon, lukisan ini, sepengakuan Nasjah, sekarang menjadi milik Jusuf Ronodipuro.

Barangkali lukisan Affandi tentang Chairil sedikit terkuak riwayatnya. Kendati boleh jadi ada versi cerita lain. Namun untuk dua sajak Chairil kepada Affandi, kita cuma bisa menerka-nerka, atau coba membangkitkan Chairil dari lahatnya. Berbeda misalnya, ketika kita sekarang bertanya kepada Sitor Situmorang untuk menjelaskan kembali asal-usul kelahiran sajaknya Malam Lebaran. Sajak itu pernah dimuat di majalah Zenith tahun 50-an. Menurut Sitor, sajak itu ia gubah pada 1954. Alkisah, beberapa hari setelah Lebaran, ketika ia balik pulang sehabis mengunjungi rumah Pram, tapi ternyata Pram tidak ada. Malangnya, tatkala pulang ia tersasar melewati bangunan bertembok dan di baliknya ternyata area pekuburan orang Eropa penuh tanda salib. Serampung tahu apa yang barusan dilihatnya, segeralah ia bersigegas pulang, dan pada saat itu pula sepintas ia melihat bulan menyinar di atas kuburan (Baca tulisan Sitor, ?Usaha Rekonstruksi yang Dirundung Ragu?, dalam Proses Kreatif: Gramedia,1984, Jakarta). Dan itu sekarang urusan Sitor dengan pembacanya.

Namun dengan cara bagaimana kita memaknai dua sajak Chairil itu? Di sana kita seperti diajak ke hutan lebat yang mahaluas. Kita jadi ngos-ngosan menafsirkannya. Bukan hanya soal Chairil telah tiada. Mungkin penyair sudah mati sedari sejak sebuah puisi selesai dituliskan dan menjadi milik pembaca untuk ditafsirkan dengan beragam cara. Bahwa di sana ada kehidupan yang terus bergerak menembus dan memendarkan cahaya dalam labirin tersunyi kesadaran kita. Dan atas nama daya yang hilang namun tak kunjung tergenggam itu: daya kata-kata dan cat di kanvas tetap kukuh bersekutu dalam ruang mengada mereka sendiri. Kendati Leonardo Da Vinci tampak gentar melukiskannya seraya berkata O penulis, dengan aksara-aksara apa/dapat kau ungkapkan segala rupa/sesempurna yang diberi gambar?

Ungkapan itu bisa jadi benar, Dan sebelum itu Chairil, Pada 1944, seolah telah memberi jawaban kepada Affandi dalam sebuah tulisannya yang berjudul Membuat Sajak, Melihat Lukisan: ?Sajak terbentuk dari kata-kata, seperti juga sebuah lukisan dari cat dan sehelai kain, atau sebuah patung dari pualam, lempung dsb. Tapi mereka yang mengalami keterharuan ketika melihat suatu lukisan atau sebuah patung, tidak akan menganggap kualitas cat dan kain atau batu pualam sebagai soal yang penting, soal yang pokok. Bukanlah bahan-bahan yang dipakai yang penting, yang penting adalah hasil yang dicapai.? (Baca Derai-Derai Cemara: Puisi dan Prosa Chairil Anwar: Yayasan Indonesia, 2000, Jakarta).

Ya, yang terpenting adalah hasil yang diraih. Sajak-sajak Chairil memang berkabut makna dan enigmatik. Meski Chairil, dalam waham terdalamnya, juga dirundung ketakutan yang menghebat Kalau, ?ku habis-habis kata, tidak lagi/berani memasuki rumah sendiri, terdiri/di ambang penuh kupak,/?. Ternyata Chairil lebih dulu mati. Dan Affandi masih saja hidup, terus berkarya dan berjaya menjadi legenda dalam jagat seni rupa Indonesia. Maka, Chairil hanya bisa menyindir sembari ?sumeleh? tapi lantang berteriak berilah aku tempat di menara tinggi,/di mana kau sendiri meninggi/? Dan di balik semua proses berkreasi dalam seni tersimpan semacam keberuntungan dalam ketidakpastian, ?Fortune cannot give us various things? character, virtue, letters or any skill. All these depend on our diligence, our interest,? demikian ucap Leon Battista Alberti dalam On Painting. Hanyalah kerja keras, bahkan keedanan yang dinamis dan mencerahkan, yang membuat seseorang mencapai puncak keberhasilan. ?Ngedan, ngedano.?? pekik Affandi suatu kali pada para pelukis muda yang pernah berguru padanya.

Sementara, sajak-sajak Chairil untuk Affandi dan lukisan Affandi untuk Chairil tak lain merupakan ikhtiar tiada ujung, selalu ada yang luput ditangkap, hingga yang yang tersisa hanyalah spirit sublimitas ?peristiwa puitik? juga meleburnya kematangan ?daya-kreatif? dari konsistensi dan totalitas menyesap tandas sisi-sisi terahasia dari masing-masing ruang batin mereka. Sebab apa yang berakhir di sana tiada lain adalah karena kesementaraan segala/yang mencap tiap benda, lagi pula terasa/mati ?kan datang merusak.

Chairil sungguh telah berpulang pada 28 April 1949. Dan Affandi juga telah tiada pada 23 Mei 1990. Tentu, di bulan April itu, para sastrawan khususnya, tak akan melewatkan hari bersejarah itu untuk memperingati kematian sang pelopor angkatan ?45 ini. Juga di bulan Mei 2007; Museum Affandi dalam rangka memperingati ?100 tahun pelukis Affandi? akan memamerkan lukisan sang maestro ini di tiga kota; Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. Pameran ini akan berlangsung sepanjang tahun 2007 dengan menggelar seluruh karya Affandi. Atas nama dua maestro ini, dengan segenap tabik dan takzim, semoga generasi seniman mendatang dapat memungut semangat dan daya kreatif mereka yang luar biasa itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*